Goodbye Yesterday, Hello Tomorrow

“tentang pagi yang tak pernah bosan bersama dengan waktu, datang menggantikan sang malam. tentang pagi yang tak pernah lelah bersama dengan waktu, memulai hari menerangi bumi dan tentang pagi yang datang ‘tuk sisakan kenangan…”
Setyo Setiaji

img20180419120054-01

dokumentasi pribadi

Setiap orang punya masa lalu, dan tentu punya dua sisi, baik atau buruk. Termasuk saya. Beberapa di antaranya kelam, dan cukup efektif membentuk diri menjadi manusia yang berbeda dengan belasan tahun lalu.

Masa di mana saya pernah marah, amat marah, bahkan cenderung benci. Masa di mana bagi saya, semua yang diucapkan orang lain adalah omong kosong, namun di sisi lain, saya memerlukan omong kosong itu untuk menenangkan diri yang cenderung labil. Continue reading

Advertisements

Balas Dendam

“Gue balas ntar!”

Familiar dengan kalimat di atas? Sering dengar? Atau justru sering mengucapkan? Gimana rasanya setelah balas dendam? Bahagia? Lega?

Saya gak pernah habis pikir dengan orang-orang yang ‘suka’ mikirin soal balas dendam dan sejenisnya, hanya atas dasar : “Dia sudah bikin saya sakit hati,” atau “Saya sudah baik tapi dia malah sering ninggalin.” *catatan : ini berlaku untuk kondisi apapun, ya. Mau pertemanan ataupun cinta-cintaan.

Kalimat ini yang selama hampir 3 tahun ini sering saya dengar dari mulut teman saya sendiri, the one who I really respect, before we had an awkward moments from December 2017 until know. Tapi tentunya saya gak akan bahas soal kenapa jadi ‘tidak berteman lagi’, basi mah ituuuu, basiiiii. Continue reading

Kenapa Harus Hotel?

Pertanyaan ini yang banyak muncul ketika saya memutuskan untuk liburan sendiri atau memutuskan untuk memperpanjang masa dinas luar kota dengan mengajukan cuti 1-2 hari. Nginap di mana? Jauh gak dari pusat kota? Sama siapa? Mahal? Duuuuude, satu-satu kali ah nanyanya.

Buat saya pribadi, yang lebih suka solo-travelling, tempat menginap menjadi nomor satu. Misalnya, ketika di Balikpapan, saya lebih memilih untuk nginap di Whiz Prime Hotel yang jaraknya sekitar 2-3 kilometer dari Plaza Balikpapan. Atau ketika di Jogja kemarin saya milih untuk nginap di Adhistana Hotel yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari pusat kota, setelah check-out dari Ibis Malioboro pasca kegiatan dan selesai dan rombongan pulang (karena saya ajukan cuti untuk 2 hari). Agak jauh dari Malioboro, tapi dekat kalau mau ke Keraton dan Taman Sari. Toh juga kalau pakai Go-Jek masih di bawah 10 ribuan, hehehe.

IMG20180419090623.jpg

Lokasi : Adhistana Hotel Yogyakarta – dokumentasi pribadi

Mengapa harus di hotel? Alasan pertama, sebenarnya bukan masalah prestige atau gengsi-gengsian. Lebih ke faktor keamanan dan kenyamanan. Banyak memang usulan (dan rekomendasi) untuk nginap di beberapa penginapan dan guesthouse. Tapi lagi-lagi, buat saya keamanan dan kenyamanan nomor satu. Apalagi saya perempuan, sendirian, dan sedang liburan. Beberapa orang memang menyarankan untuk nginap di daerah Sosrowijayan yang banyak penginapan murah, ketika di Jogja. Sejumlah review di Traveloka, Pegi-Pegi, TripAdvisor, Booking.com, Trivago, sampai Agoda pun saya bacain satu per satu, setelah menyaring hotel yang harga per malamnya di kisaran 300-400 ribu Rupiah, plus sarapan. Continue reading

Jogja : Sleeping Time

IMG20180415060638.jpg

Lagi, lagi… Tugas luar daerah dapatnya penerbangan pagi :D. Kali ini, perjalanan saya ke Jogja menggunakan Lion Air jam 06.00 WITA, kebayang gak tuh, jam berapa mesti siap-siap ke Bandara? Karena rombongan, kita jadinya mesti kumpul bareng buat berangkat pakai bis. Ngumpul di meeting point sekitar jam 03.30 WITA, soalnya biar yang jauh-jauh gak kelabakan menuju lokasinya, yang pasti kira-kira jam 04.45 WITA sudah sampai bandara dan untungnya boarding pass udah dicetak sama Ketua Tim. Jadi pas masuk ke ruang tunggu, kita tinggal ngurus bagasi dan langsung sholat Subuh di musholla sana. Alhamdulillah juga gak ada delay, cuma sayanya aja yang ngantuk berat.

Kok bisa? Continue reading

Being a Human

Jadi, tadi pagi di IG story muncul postingannya kak Ika Natassa –one of my favorite novelist- soal protagonis atau antagonis ini. Iya, istilah yang dulu pertama kali dengarnya pas rajin nonton sinetron 😂.

Selama ini, dua istilah itu kayaknya semacam memblok mindset kita secara otomatis. Kalau protagonis, ya bakal baiiiiikkkk selamanya. Sebaliknya, seseorang yang dicap sebagai sosok yang antagonis, itu adalah orang yang jahatnya jahaaaaat banget, penuh iri dengki dan hal buruk lainnya.

Aslinya sebenarnya gini, kita semua punya sisi gelap, sebaik apapun perangainya. Gak usah deh ya, mikir jauh analisisnya macam psikolog handal. Contoh konkretnya aja, ketika kita dengan gampangnya “kena hasut setan” dengan berprasangka buruk ke orang lain. Padahal selama ini, yang kita lakukan masih dalam batas aman, maksudnya gak ada berantem, sampai bunuh-bunuhan, hidup kita bersih lah pokoknya. Apakah serta merta kita akan tetap jadi seorang yang protagonis seumur hidup? Tentu tidak, but, it just in my humble oponion.

Protagonis atau antagonis, buat saya, lebih ke situasi yang kita hadapi. Saya gak pernah bunuh atau terlibat perkelahian fisik, gak pernah juga nyiksa anak orang pas lagi jadi panitia ospek di sekolah. Tapi saya pernah berprasangka buruk karena berpedoman pada “apa kata si X,” saya yang protagonis pun jadi antagonis pada saat itu kan?

Situasi yang lain, teman saya yang nakalnya minta ampuuuun, paling suka bikin saya kesal, kalau di sinetron dia bakal jadi sosok yang antagonis. Tapi suatu ketika, dia bantu saya, menenangkan saya yang lagi sedih.

Intinya, kita semua adalah keduanya. Kita punya sisi antagonis dan protagonis dalam satu tubuh. Kapan keluarnya? Ya ketika kita dihadapkan dalam situasi yang begitu itu, mana yang lebih kuat untuk maju duluan. Kalau yang lebih kuat protagonis sih Alhamdulillah, ya, tapi kalau antagonis yang lebih kuat? Setidaknya kita bisa memikirkan baik buruknya, pengendalian diri itu penting lho.

Susah? Iya. Tapi hanya saat di awal. Kalau sudah benar-benar hapal dan memahami esensinya, gak akan susah lagi. Bakal terbiasa dan jadi gampang.

Saat ini saya sedang jadi orang yang protagonis, 5 menit lagi atau saat kalian baca tulisan saya, siapa tahu saya sudah berubah jadi antagonis? 😁😁😁.

Have a nice weekend, have a nice lazy day.

-xoxo-

Always 21 Aloe Vera Soothing Gel : Bruntusan Lenyap!

Punya wajah yang tipe kulitnya kombinasi macam saya, itu gampang banget punya jerawat dan bintik-bintik keringat. Apalagi di bagian dahi, beuuuhhh, istilahnya sekarang tuh, bruntusan. Kecil-kecil dan keliatannya kalau dari dekat, tapi jangan salah, ini salah satu yang ganggu pas lagi dandan. Soalnya si bedak dan pelembab jarang ada yang nempel dengan sempurna. Jadi buat saya yang kerjanya banyak di luar ruangan dan ketemu orang banyak, mesti cari pelembab dan polesan wajah yang bener-bener cocok. Bukan cuma sekedar bagus atau nyatu pas di awal aja, tapi juga efek di beberapa jam setelahnya.

Beberapa saran yang 2-3 minggu terakhir saya dapat, pakai gel Aloe Vera, salah satunya yang merk Nature Republic, kosmetik asal Korea Selatan yang mengklaim produknya 92% mengandung Lidah Buaya. Apalagi buat hilangin bruntusan kecil-kecil di dahi karena keringat, sering panas-panasan, pengaruh hormon dan produk kosmetik yang gak cocok. Di beberapa blog dan vlog banyak yang saranin ini benda. Sayangnya, agak sulit nyari di Banjarmasin, karena belum ada gerai resminya (baru buka di Jakarta doang). Mau beli online juga agak takut, karena banyak yang palsu 😑. Apalagi karena wajah agak sensitif, mesti hati-hati juga, siapa tau udah beli satu jar, eh malah gak cocok?

Continue reading

[Review] Produk Sariayu untuk Pertama Kali – 1st Impression

Sesungguhnya, tulisan ini seharusnya di-upload beberapa minggu yang lalu, tepatnya pas habis belanja beberapa item kosmetik di toko langganan, Princess. Oh iya, toko ini sebenarnya bisa dibilang supermarket kosmetik sih, saking luas dan banyaknya barang yang dijual (plus sering kasih diskon buat macam-macam item dan merk 😆). Tapiiii, saya akhirnya mikir lagi, udah ah, sekalian pas pemakaian beberapa kali aja biar sekalian di-review.

Akhirnya, sodara-sodara…. Inilah beberapa item yang berhasil saya beli di akhir Januari lalu, ketika stok kosmetik udah pada habis 😭, yang Alhamdulillah pas-pasan sama tanggal gajian.

Yang pertama banget (dan kedua, deh) dari saya masuk toko, itu si Sariayu Hijab Intense Series, yang varian untuk anti ketombe. Bahagia dong saya, sebagai salah satu wanita berhijab yang punya masalah ketombe bandel 😂. Kalian yang punya masalah serupa pasti ngerti kan rasanya punya ketombe gimana? Pakai Shampoo A, gagal, Shampoo B, makin parah. Salah satu yang berhasil waktu itu cuma Sunsilk yang Hijab Series juga, varian anti ketombe yang botolnya warna biru. Tapi pas ngeliat ini pertama kali, dalam hati ngebatin, siapa tau yang ini berhasil? Akhirnya belilah saya si botol isi 180ml seharga Rp 21.150,- ini.

*semua kosmetik waktu saya beli, dapat diskon 10%, ya, lumayaaaannn.

Continue reading