Beauty Haul (Unpredictable)

Jarang-jarang kan ya, saya posting soal makeup gini ๐Ÿ˜‚ secara kalau ke kantor paling banter pakai pelembab+bedak+lip balm doang. Selain karena gak suka, kerjaan di lapangan juga gak mungkin pakai berlapis-lapis makeup lengkap. Yang ada bisa luntur ๐Ÿ˜….

Eits, tapi bukan berarti gak perlu belanja kebutuhan wajah, ya. Itu perlu, masih wajib. Macam masker, sabun wajah, dan pelembab juga. Atau puff buat bedak, harus diganti rutin, jangan dibiarkan lepek trus bau, trus bikin wajah jerawatan. No! *pengalaman pribadi.

Continue reading

Advertisements

Jebakan Batman

Mari kita mulai postingan pertama pasca beberapa hari terakhir tanpa postingan apapun, dengan pertanyaan : โ€œbagaimana jika karakter yang sedang kamu tulis masih melekat di luar penulisan?โ€

Yes, saya mengalami hal itu, lagi. Setelah sempat vakum menulis cerita, akhirnya melanjutkan kembali โ€˜proyekโ€™ yang digarap bertahun-tahun yang lalu. Alasannya satu : laptopnya udah baru lagi, jadi bisa lanjut nulis lagi, hehe. Beberapa halaman memang sempat diawali dengan ngetik di komputer kantor, tapi gak enak ah, masa buat hal pribadi saya harus pakai fasilitas kantor. Gak profesional, menurut saya.

IMG20171010154551

Lantai 6 Gedung H. Djok Mentaya, Banjarmasin

Continue reading

Insomnus

Can’t sleep? | Yes.

Because of coffee? | No.

So? | Actually, I can’t explain why.

Halaman 11 “Divortiare” dari Ika Natassa

Apakah insomnia harus ada sebab-akibat? Saya sendiri justru bingung sebabnya apa, atau akibat dari apa sebenarnya.

Karena kebanyakan minum kopi? Hmm, selama satu minggu terakhir justru baru malam ini minum kopi lagi. Sedangkan insomnianya berjalan sejak beberapa hari terakhir.

Kebanyakan tidur siang? Nah ini sepertinya juga tak masuk hitungan. Karena tidur siang biasanya ketika libur, kalau jam kerja paling tidur ayam di kubikel, sekadar istirahat. Maybe for 15 or 45 minutes, tak lebih.

Terlalu lelah? Salah satu yang masuk akal. Tapi hanya berlaku jika saya memang banyak aktivitas di luar. Sedangkan selama 25 hari terakhir, justru giliran ‘jaga kandang’, bebas dari liputan tengah hari bolong panas-panasan. Kalau liputan pun agak mewahan dikit, ke ballroom sini, hotel sana ๐Ÿ˜‚. Eh tapi lelah karena pikiran bisa juga sih. Secara posisi redaktur sebenarnya 50:50. Dibilang ngeri, tapi ya enak karena jadi ‘penguasa’ yang bisa edit berita anak buah. Dibilang enak, tapi bebannya tinggi, karena tanggungjawabnya besar. Jadi, mungkin salah satunya bisa jadi karena pikiran.

Kenapa kopi saya kesampingkan? Karena memang kopi selalu gagal bikin saya melek dan begadang. Justru paling ampuh kalau lagi sembelit ๐Ÿ˜…. Tapi untuk nahan ngantuk, hmm, cuma mitos. Buktinya cuma sepersekian persen.

Bicara tentang insomnia, masih ingat postingan di blog saya beberapa sebelum ini? Yup, saat saya membahas tentang masa lalu. Di mana sempat ada beberapa bulan yang takut untuk tidur, takut untuk terpejam, bahkan takut menghadapi malam. Apakah kali ini insomnia saya seperti itu? Well, I’m proudly to say, no! Continue reading

Secret Admirer

Oh, secret admirerโ€ฆ
When you’re around the autumn feels like summer.
How come you’re always messing up the weather.
Just like you do to me.”

(Mocca – “Secret Admirer” lyric)

Pernah jadi penggemar rahasia? Atau justru punya penggemar rahasia? Pasti pernah jadi salah satunya ๐Ÿ˜‰.

Saya pernah merasakan dua-duanya. Tapi jauh lebih sering jadi yang pertama sih ๐Ÿ˜‚. How does it feels? Hmm, deg-degan dan agak norak sebenarnya. Karena kitanya berasa adaaaa aja yang salah, berasa adaaaa aja yang gak bener yang kita lakuin, hal yang malu-maluin dan jatuhin ‘pasaran’. Apalagi kalau orang yang dituju ada di sekitar kita. Padahal dianya juga gak ngeh, merhatiin juga gak ๐Ÿ˜…, kitanya aja yang rada ge-er.

Momenย secret admirer atau penggemar rahasia yang paling saya ingat (plus paling dodol dalam dunia persilatan), waktu jaman SD. Tapi pertama-tama, bedakan masa-masa centil anak SD generasi 90-an dengan yang jamanย now,ย ya. Agak beda 180ยฐ soalnya, jauh betuuuul. Jaman itu centil cuma sekedar malu-malu, becandaan, gak sampai yang pacar-pacaran kayak anak SD sekarang.

Ada satu teman sekelas yang memang pantas jadi idola, waktu itu. Pintar dan cerdasnya Masya Allah, sopan pula, kesayangan guru-guru satu sekolah. Musuh bebuyutan saya kalau lagi ada cerdas cermat IPS di tingkat kelas, posisi juara 1 sama 2 selalu direbutin kami berdua. Diiih, gini-gini saya sih jago IPS-nya, asal jangan nyerempet ke IPA atau Matematika, keok. Continue reading

Memaafkan. Melupakan.

Bicara tentang ikhlas dan melupakan, ada satu hal, satu fase dalam hidup yang hingga saat ini belum dapat saya tuliskan. Secara detil, rinci, dan lebih dalam. Padahal sudah hampir 2 tahun berlalu, rasanya yang lebih dari sakit itu rupanya masih bercokol dengan setianya.

Rasa yang membuat saya sulit untuk menuliskan kembali, tanpa harus diganggu dengan tangisan dan sesak di dalam hati. Berapa kali dicoba pun, masih sama, sulit.

Itulah kenapa tulisan tentang Abah rahimahullah sangat sedikit di sini. Saya kesulitan menuangkan kata demi kata dengan tenang, tanpa interupsi sedih dan marah yang masih bergantian hadir. Saat menulis ini pun, saya sendiri bertekad untuk tidak membahas tentang Abah, hanya sebagai pengantar.

Perasaan ini saya sadari bukan hal yang sehat. Tak pernah ada kebaikan dari memendam perasaan dan kemudian menahannya sendirian. Sesak, marah, sakit, sedih, semuanya menyatu. Seberapa seringnya pun saya menyabarkan diri, seberapa kuatnya saya menahan tangisan, rupanya memang ada sisi-sisi benteng yang masih lemah dan mudah dijebol, cukup dengan satu kenangan.

Tapi biar saya jelaskan, saya ikhlas, insya Allah sudah mengikhlaskan, dan harus ikhlas. Kepergian Abah memang sudah waktunya dari Allah, saya tak pernah bisa menentang itu. Namun sebagai manusia biasa, seorang anak, rupanya celah dalam diri saya masih mencoba berontak. Alam bawah sadar saya yang mengendalikan. Bagi saya, saat itu, Abah masih ada.

Pembenaran yang justru memicu saya untuk depresi. Iya, saya depresi saat itu. Perubahan yang saya sadari hanya berselang beberapa hari setelah Abah meninggal, 9 Januari 2016 lalu. Rumah bagi saya bukan lagi rumah. Saya lebih memilih pergi ke kantor jam 7 pagi dan pulang jam 7 atau 8 malam. Padahal jam kerja hanya 8 jam, dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Apakah saya menyelesaikan pekerjaan lembur? Tidak. Bahkan kerjaan saya untuk berhari-hari ke depan sudah selesai. Yang saya pandangi kalau bukan laman Youtube, paling hanya layar kosong tanpa tulisan apapun. Karena memang bagi saya saat itu, hanya kantor tempat saya ‘pulang’. Atau mungkin lebih tepatnya, tempat saya untuk melarikan diri tanpa harus berbohong sedang berada di mana. Continue reading

Fatamorgana Sendu

Menulis tentang masa lalu, bukan berarti saya tak bisa beranjak dari kenangan. Jangan dulu menghakimi. Justru dengan menulis, manusia bisa mendapatkan kewarasannya kembali.

Jika saya masih terjebak dengan masa lalu, dengan kenangan-kenangan yang beterbangan itu, tulisan ini tak akan pernah ada. Tahun-tahun yang penuh kesuraman itu saya lewati dengan menulis. Di blogspot (yang sudah saya nonaktifkan), wordpress, bahkan tumblr. Semata karena saya memilih untuk menulis, demi menemukan ‘saya’ yang benar-benar ‘saya’.

Dokumentasi pribadi

Ratusan artikel yang saya tulis, hanya untuk mewaraskan kembali diri dan mental. Tentu saja untuk dapat menulis, saya sendiri harus waras. Bukan perkara gampang untuk bisa menuliskan lagi soal hati. Tapi jika kalian bisa menuliskannya tanpa menitikkan air mata, setitik pun, kalian berhasil. Saya pun begitu. Continue reading

Halaman Tawa

2012. Tahun yang sempat menghilangkan halaman tawa yang pernah saya miliki.

Hari-hari suram yang pernah membuat saya hidup seperti mayat hidup. Hanya sekadar mengikuti ritme hidup. Bangun – kuliah – kerja – pulang – tidur. Sampai berbulan-bulan lamanya. Sampai saya lupa bahwa ternyata hidup saya hanya berada di titik yang sama, tanpa bergerak sama sekali untuk menyambut kenyataan.

Kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu ditangisi, disesali, diratapi dan diingat lagi. Tapi tetap saja, halaman tawa yang saya miliki saat itu lenyap entah ke dimensi mana.

Saya lupa, bahwa ada orang-orang terdekat yang sangat menyayangi, namun tentunya tidak sepenuhnya memahami prahara yang terjadi. Saya menutup diri berbulan-bulan, juga hati, dari segala kemungkinan untuk jatuh hati lagi. Segala kemungkinan untuk bertemu dengan seseorang dan mencintai lagi.

V60 Wening Galih – Office Coffee Banjarmasin

Gagal menikah mungkin biasa bagi beberapa orang. Jawaban simpel adalah ‘belum jodohnya’. Tapi jika yang terjadi adalah menghilangnya si pria tanpa kabar di tengah persiapan, percayalah, tak semudah itu untuk memahami dan menjalaninya. Continue reading

Tempat Persinggahan

“Travel is finding out more reasons to write. And more reasons to live.” – Ika Natassa on Critical Eleven

Apa bagian terbaik dari naik pesawat yang paling saya sukai?
Naik tangga dan masuk ke dalam pesawat? No.
Dapat kursi (hasil online check-in) di samping jendela sebelah kiri? No. Hmm, dikit sih.
Menikmati pemandangan ketika berada di atas awan? Gak juga.

Buat saya, yang terbaik adalah ketika pesawat mendarat dan saya masuk ke dalam terminal kedatangan di Bandara setempat. Kota yang tidak setiap hari kita datangi. Bandara yang selalu sibuk dengan hiruk pikuknya yang khas. Deru mesin pesawat yang mendarat dan terbang bergantian. Kru di apron, di terminal, di dalam kabin pesawat yang selalu sibuk dan gerak cepat. Udara yang berbeda di tiap kali kaki menjejakkan kaki di daerah lain. Buat saya, itu hal yang selalu bikin bahagia, lega, dan juga senang. Walaupun sudah beberapa kali datang ke kota yang sama, bandara dan hiruk pikuk yang pernah diliat sebelumnya.

IMG20170829101629

Apron’s View – Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport

Selama satu setengah tahun ini, bandara yang punya julukan tercantik di Indonesia itu sudah saya sambangi 3 kali. Bulan Mei dan Agustus 2016, dan Agustus 2017. Tapi gak pernah ada bosan-bosannya mengeksplorasi sudut-sudut bandara yang gak hanya luas, tapi juga memang benar-benar cantik. Jadi ingat filmnya Tom Hanks dan Catherine Zeta-Jones – “The Terminal”, yang si tokoh utamanya gak bisa pulang karena negaranya udah gak ada, tapi juga sekaligus gak bisa keluar dari bandara karena gak punya kewarganegaraan. Eh tapi, yang saya bayangin adalah suasana dan bentuk bandaranya ya, bukan pengen terjebak di bandara berminggu-minggu. Continue reading

[Trip Review] Balikpapan : 2nd day – Cari Sarapan

Hari kedua di Balikpapan, hari Minggu, kami memutuskan untuk ke Penangkaran Buaya di Teritip, yang berada di Jalan Mulawarman. Jaraknya itu sekitar 23 kilometer kalau dari hotel tempat menginap. Itu hasil liat di google maps, sih ya ๐Ÿ˜….

Sebelumnya sempat nanya ke resepsionis, “Mas, kalau ke Teritip bisa pakai angkot?”, jawabnya bisa, tapi harus dua kali angkot. Satu ke Terminal Damai, baru ambil angkot nomor 7 warna hijau tua ke arah Manggar. Dalam hati, berarti sama aja nih, kayak penjelasan yang saya dapat di beberapa situs. Karena awalnya ragu pas baca-baca di situs, memang lebih bagus nanya langsung sama orang setempat.

Pagi harinya, niat mau jogging di sekitar Lapangan Merdeka, gagal. Karena? Warga di kamar sebelah bangunnya agak lama ๐Ÿ˜…. Akhirnya diputuskan, ya sudah, kita ke Teritip aja. Tapi cari sarapan dulu.

Kawasan dekat hotel saya akui memang bagus untuk cari makan siang atau malam, bahkan cemilan. Tapi kalau sarapan agak susah ya. Mungkin juga karena berada di kawasan perkantoran. Ada sih yang buka pagi, tapi namanya juga ada 3 kepala, mesti debat ini itu dulu kalau mau milih makanan. Akhirnya jalan kaki lah kami menuju ke arah Plaza Balikpapan, nyari tempat sarapan dan sempat beberapa kali ketemu tempat-tempat sarapan, tapi ditolak ๐Ÿ˜. Ujung-ujungnya kw warung nasi campur gitu.

Lokasinya masih di Jalan Sudirman, tapi di kawasan yang lebih sering disebut Markoni. Tepat di seberang Polres Balikpapan. Menunya sih banyak ya, layaknya warung nasi campur Jawa gitu lah. Saya sendiri pesan laukny ayam goreng, sambal goreng kentang, plus rempeyek udang. Kalau ditotal, kemaren itu bayarnya sekitar 20 ribuan sama air mineral. Mahal? Relatif sih, karena budget segitu kurang lebih sama aja dengn yang sering dibeli di Banjarmasin. Itu kalau saya loh, ya.

Maksudnya gini, di Banjarmasin pun kalau lagi pengen ‘foya-foya’, nyari makan yang harga segitu juga. Bukan karena harga, tapi karena rasa dan banyak pilihan. Nah, gitu juga di Balikpapan ini.

Jadi, sebaiknya jangan langsung menghakimi kalau harganya mahal atau murah. Karena dari tingkat kesejahteraan dan pendapatan orang di sana pun juga berbeda. Kalau tiap mau makan pas liburan mikirnya mahal murah, saran saya, sebaiknya gak liburan deh ๐Ÿ˜‚.

Kesannya sombong ya? Hehe. Gini, dalam liburan, hemat boleh, perhitungan juga boleh. Tapi jangan sampai seperhitungan itu banget, sampai untuk makan di lokasi liburan pun nyari yang murah banget. Ini loh kita di tempat liburan, di lokasi yang gak tiap hari kita datangin. Kenapa gak mencoba makanan khas atau tempat-tempat oke yang suasananya beda dengan di tempat kita sendiri? ๐Ÿ˜‰. Apalagi kalau kita memang udah niat liburan, berarti udah siap dong keluarin uang untuk makan?

Untuk budget ya dihitung juga, bukan berarti jor-joran banget. Misalnya nih, di kisaran 20-25 ribu sekali makan. Atau kalau masuk ke tempat yang khas, bolehlah budget agak lebih dikit. Kan kita pasti udah cari info lokasi kuliner yang enak tapi gak bikin dompet tipis kan? Jangan pelit lah sama perutmu. Pergi liburan naik pesawat plat merah macam Garuda Indonesia aja bisa, masa kita ujung-ujungnya pelit pas nyari makan? Hehe.

 

[Trip Review] : 1st day – Jalan Sore

Setelah landing dan istirahat beberapa jam di kamar hotel, sekitar jam setengah 5, kita mutusin buat nyari makan. Secara, perut lapar karena baru sadar gak ada satupun yang sarapan (baca : makan nasi) sejak pagi. *pantasan puyeng ya, ditambah efek kepentok kabin pesawat* ๐Ÿ˜‚.

Sebelum mandi dan siap-siap, saya bikin teh hangat dulu, biar bisa hilangin rasa mual dan puyeng yang gak bisa hilang, biaepun udah dibawa tidur. Duduk santai liatin pemandangan samping hotel, yang memang pas banget di area pemukiman. Balikpapan itu kotanya berbukit-bukit, loh. Jadi jangan heran, kalau hotel atau tempat yang kamu datangin agak tinggi dan turun naik gitu.

Nge-teh buat hilangin puyeng. Kamarnya ada pemanas air, loh. Alhamdulillah ๐Ÿ˜‚

Setelah nge-teh, yaaaa lumayan sih, biarpun gak 100% sembuh, tapi agak nyaman. Apalagi ditambah mandi air hangat, otot-otot sedikit rileks. Sekitar jam 5, akhirnya jalan cari makan dengan jalan kaki. Temen saya ini agak rewel ternyata ๐Ÿ˜…, ditawarin ini gak mau, itu juga ogahan. Risiko jalan bareng ya gini, ya. Akhirnya mutusin mampir ke The Jagongan’s. Salah satunya karena viewnya yang unik, lucu ada lampunya gitu. Trus baru sadar, oh iya ya, kayak kenal sama lokasinya, mirip sama Wong Solo. Rupanya bener, ini anaknya Wong Solo Group. Sebelahan sama Iga Bakar Mas Giri, yang juga satu grup, di Jalan Sudirman. Menunya lebih tradisional sih, macam gudeg, nasi pecel, tahu goreng, dll. Continue reading