#RadioGueMati

Berdasarkan keterangan tertulis dari Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), tagar #radioguemati merupakan bagian dari Radio Day pada hari ini. Momen siaran mendadak mati dan tagar tersebut merupakan upaya untuk kembali memperkenalkan radio sebagai media komunikasi yang masih selalu dekat di hati pendengarnya. – dikutip dari laman detik.com

Tagar ini mewarnai Senin pagi, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Kenapa cuma Jakarta? Untuk radio lain di luar Jakarta, saya kurang tahu persis. Tapi yang pasti, untuk radio kami di Banjarmasin, mayoritas tidak ikut mematikan karena disesuaikan dengan instruksi dari kantor pusat.

Terlepas dari ikutan mematikan pemancar radio atau istilahnya off air atau tidak, kami ingin tahu bagaimana respon dari pendengar. Terlebih beberapa tahun terakhir sejak meluasnya era digitalisasi, radio seolah dipandang sebelah mata. Oh iya kalian sudah tahu belum? Banyak loh radio lokal di beberapa daerah (atau hampir di seluruh daerah) terdampak dengan meluasnya pengunaan internet dalam kehidupan sehari-hari. Dari nyari berita, baca majalah, sampai dengar lagu yang biasanya di radio akhirnya menggunakan sarana unduh gratis di beberapa situs. Nah, ditambah lagi dengan munculnya aplikasi dan layanan pemutar musik gratis macam Joox dan Spotify, wuiiih, pamor radio dinilai makin rendah aja. Ini beneran loh. Continue reading

Advertisements

Kebelet = Gagal Lari

Beberapa minggu terakhir kondisi kesehatan saya akuin agak kurang terurus, selain kondisi hidung yang memang selalu jadi jawara dalam tiap penurunan kondisi. Makan gak dijaga, apa aja dilahap. Dari bebek goreng, steak, burger, sampai sate juga jadi korban. Ngemil apalagi. Padahal saya termasuk salah satu manusia yang paling jarang ngemil.

Pulang dari dinas di Jakarta, yang disambung dengan dinas ke Marabahan (sekitar 45 kilometer dari Banjarmasin), rupanya bikin nafsu makan meningkat. Bawaannya pengen makaaaaaan terus. Aslij dah ini, semacam omnivora, ketemu ayam goreng, dilahap. Pisang goreng, dihajar.

Akhirnya, semua kelakua saya beberapa minggu ini bikin badan jadi gak enak, cepat lelah. Salah satunya juga karena kurang gerak. Yaaaa, walaupun banyak kegiatan di lapangan, juga gak menjamin saya 100%gerak. Kadang kalau acaranya di ballroom hotel, ya pasti duduk dan dingin. Beda kalau saya liputan upacara apaaaa gitu. Nah, ujung-ujungnya, sampai rumah jadi malas ngapa-ngapain. Ditambah kalau di rumah, Ibu pasti masak buat makan malam yang biasanya jam 9 atau 10 malam baru dimakan. Paginya bangun dengan badan yang gak segar pula, karena tidur jauh malam dan gak nyenyak. Continue reading

Just Walk (dan berhenti sesekali)…

Menjadi seorang jurnalis tidak serta merta menjauhkanmu dari rasa bosan, juga titik jenuh yang siap mendidih kapan saja. Ketemu narasumber, ikut sidak ke beberapa tempat, peresmian lokasi, dan lain-lain, hal-hal yang notabene tidak mewajibkan saya berkutat di belakang layar dalam waktu lama. Itu pun tetap dapat memicu kekacauan sistem syaraf yang dapat berujung jenuh ๐Ÿ˜…. Apalagi saya tipe manusia yang gak bisa diam, kecuali kalau di rumah, mau mager seharian juga okelah.

Contohnya hari ini, di akhir pekan yang sehari sebelumnya sudah diwarnai libur di hari Jumat, yang Alhamdulillah berhasil saya lewati dengan mager seharian tanpa keluar rumah (I’ve told you before, right?) ๐Ÿ˜. Tadi pagi masuk kerja jam setengah 9, check in di mesin sidik jari, cek kerjaan dan sarapan nasi kuning beli dekat rumah karena Ibu gak jualan. Cek email, buka Youtube, santai sejenak sebelum teman-teman kantor datang. Apalagi hari ini hari pertama saya jadi editor per dua bulanan, setelah melewati bulan Maret, Juni, September, dan sekarang. Otomatis seluruh kegiatan kerjaan saya bakalan di belakang layar dari jam 9 pagi ke jam 5 sore. Capek? Eits, bentar, saya belum pernah bahas ini sebelumnya kan? Nanti deh, dibahas khusus kenapa saya suka dan kenapa saya kacau sendiri kalau tugasnya di dalam ๐Ÿ˜‚.

Biasanya saya memilih buat ngopi after office hours. Hal yang beberapa hari ini sepertinya di-skip karena rada sibuk. Haha, sok sibuuuuk. Eh tapi beneran kok, sibuk, banyak liputan malam, atau kalau gak ada liputan, saya pulang ke rumah lebih cepat. Makluuum, habis dinas luar rasa kangen sama rumah kok menjadi-jadi gitu. Continue reading

Let’s Fly…

Ceritanya hari ini, Kamis, dapat tugas buat ikut pertemuan di Kantor DPRD DKI Jakarta dan ikut rombongan Pressroom DPRD Kalimantan Selatan. Penerbangannya dapat yang paling pagi, penerbangan kedua kalau gak salah. Karena yang pertama berangkat Lion Air pukul 06.10 WITA, dan dilanjutkan Garuda Indonesia pukul 06.20 WITA yang sama-sama menuju Jakarta.

Karena jam penerbangan yang pagi banget itulah, akhirnya rombongan memutuskan buat kolektif aja nih, kumpul di Kantor DPRD Kalimantan Selatan di kawasan Lambung Mangkurat, trus berangkat pakai bis. Selain biar gak saling nunggu, lebih hemat budget transport juga sih.

IMG20171123062104

Penerbangan Garuda Indonesia BDJ – CGK Pukul 06.20 WITA

Batas waktu berangkat ke Bandara sekitar 04.15 WITA, jadi harus berangkat dari rumah ke meeting point itu sekitar jam 03.45 WITA. Bayangin aja, pulang kantor jam 7-an, belum setrika baju, packing, istirahat, yang akhirnya cuma tidur 1 jam doang, dari jam 2-3 subuh. Saking takutnya gak kebangun sih. Untungnya jam segitu sudah ada GoCar yang beroperasi, jadi gak perlu juga minta antar orang rumah.

Penerbangan kali ini sudah diprediksi bakal hujan, yaaa paling banter berawan lah. Eh ternyata beneran loh ini, dari kami berangkat menuju bandara, sudah mulai hujan agak deras. Trus disambung lagi hujan pas di bandara dan menuju apron. Lucunya, proses boarding jadi agak lama karena gangguan sistem dan mengacaukan seluruh proses yang akhirnya harus manual. Jadi bisa dibayangkan, boarding pass ditulis manual, sedangkan banyak kolom yang diisi dan penumpang udah antri panjaaaaaang banget buat bisa naik ke pesawat. Jadinya memang sempat ada delay sekitar 10 menitan karena nunggu seluruh penumpang naik ke pesawat, yang dimaklumi karena proses boarding yang harus tulis tangan. Continue reading

Cuti = Santai?

Jadi, ceritanya hari ini saya (akhirnya) ambil cuti. Yang pertama untuk jatah cuti tahun 2017-2018. Padahal cuti edisi 2016-2017 juga belum habis total, masih nyisa 5 hari :D.

Keperluannya apa? Rahasiaaaaa. Yang pasti buat saya, ambil cuti ini semacam perlu perjuangan tersendiri. Salah satunya karena harus nyelesain kerjaan sehari sebelumnya, yang tentunya bikin hari saya agak-agak hectic. Karena oh karena, kerjaan macam saya begini modelnya real-time, gak bisa dicicil seminggu atau dua tiga hari sebelumnya. Ya kali ah, mau naikkin berita basi.

IMG20171101144654.jpg

ini cuma beberapa makhluk yang ada di kantor

Cuti edisi 2016-2017 baru terpakai dikit banget. Yang pertama pas saya ikut Kelas Inspirasi Banjarmasin bulan Februari kemaren. Yang kedua pas saya libur lebaran Idul Fitri, dan yang terakhir pas liburan ke Balikpapan bulan Agustus lalu. Totalnya baru 7 hari. Dan dari sekian banyak cuti yang saya ambil, total yang beneran santai cuma 4 hari, haha. Continue reading

Jangan Menulis!

Banyak yang bilang (atau kasih saran), agar saya menulis ketika sedang dalam situasi emosi tertentu. Marah, senang, atau lainnya, katanya agar lebih menjiwai tulisan. Entahlah dari mana datangnya logika macam itu. Karena di diri saya pribadi, itu gak berlaku.

Saya pribadi justru menghindari unsur emosi dalam penulisan, jenis apapun. Berita, cerita, ataupun artikel. Menulis karena dipengaruhi emosi bukan hal yang baik, setidaknya bagi diri saya sendiri.

IMG20171018113653

dokumentasi pribadi

Continue reading

Di Balik Kontroversi

Terlepas dari kontroversi dan demo-demo yang dilakukan pengemudi taksi konvensional akhir-akhir ini, keberadaan jasa taksi online buat saya justru lebih memudahkan mobilitas. Apalagi yang harus bepergiaan dengan cepat tapi tanpa ribet. Misalnya pas lagi hujan, atau sebaliknya, pas lagi panas banget dan jarak tempuh rada jauh. Untuk pakai motor di tengah cuaca yang begitu, ya saya sendiri pikir-pikir dulu.

Apalagi kerjaan saya sebagai seorang jurnalis, cuaca apapun mesti diterobos, tapi cari mati namanya kalau hujan juga diterobos. Masa liputan basah-basahan? Ketemu narasumber dengan tampilan kucing kecebur sumur? Atau ketika harus liputan ke mall, daripada ribet dengan urusan cari parkiran dan bayar tarif parkir yang naik per jam saya lebih milih untuk pakai jasa taksi online dari kantor.

IMG20171020091521.jpg

dokumentasi pribadi

Mungkin banyak yang beranggapan, “ah, kamu gak dukung usaha para supir taksi konvensional!”, atau juga “gaya amat pakai mobil ke sana ke mari.” Ya gak gitu juga, sih. Kadang gini ya, gak semua angkot atau taksi argo bisa didapat dengan mudah. Padahal rumah dan kantor saya berada di pusat kota. Angkot jalurnya gak sama dengan tujuan, masa iya harus saya naikin? Ini pengalaman pribadi sih, beberapa kali telpon taksi argo, selalu sibuk, atau armadanya berada di beberapa kilometer dari tempat saya berada, dan bisa hampir 1 jam nungguin. Susah?ย Untuk pekerja mobile seperti saya, iya. Continue reading

Beauty Haul (Unpredictable)

Jarang-jarang kan ya, saya posting soal makeup gini ๐Ÿ˜‚ secara kalau ke kantor paling banter pakai pelembab+bedak+lip balm doang. Selain karena gak suka, kerjaan di lapangan juga gak mungkin pakai berlapis-lapis makeup lengkap. Yang ada bisa luntur ๐Ÿ˜….

Eits, tapi bukan berarti gak perlu belanja kebutuhan wajah, ya. Itu perlu, masih wajib. Macam masker, sabun wajah, dan pelembab juga. Atau puff buat bedak, harus diganti rutin, jangan dibiarkan lepek trus bau, trus bikin wajah jerawatan. No! *pengalaman pribadi.

Continue reading

Jebakan Batman

Mari kita mulai postingan pertama pasca beberapa hari terakhir tanpa postingan apapun, dengan pertanyaan : โ€œbagaimana jika karakter yang sedang kamu tulis masih melekat di luar penulisan?โ€

Yes, saya mengalami hal itu, lagi. Setelah sempat vakum menulis cerita, akhirnya melanjutkan kembali โ€˜proyekโ€™ yang digarap bertahun-tahun yang lalu. Alasannya satu : laptopnya udah baru lagi, jadi bisa lanjut nulis lagi, hehe. Beberapa halaman memang sempat diawali dengan ngetik di komputer kantor, tapi gak enak ah, masa buat hal pribadi saya harus pakai fasilitas kantor. Gak profesional, menurut saya.

IMG20171010154551

Lantai 6 Gedung H. Djok Mentaya, Banjarmasin

Continue reading

Insomnus

Can’t sleep? | Yes.

Because of coffee? | No.

So? | Actually, I can’t explain why.

Halaman 11 “Divortiare” dari Ika Natassa

Apakah insomnia harus ada sebab-akibat? Saya sendiri justru bingung sebabnya apa, atau akibat dari apa sebenarnya.

Karena kebanyakan minum kopi? Hmm, selama satu minggu terakhir justru baru malam ini minum kopi lagi. Sedangkan insomnianya berjalan sejak beberapa hari terakhir.

Kebanyakan tidur siang? Nah ini sepertinya juga tak masuk hitungan. Karena tidur siang biasanya ketika libur, kalau jam kerja paling tidur ayam di kubikel, sekadar istirahat. Maybe for 15 or 45 minutes, tak lebih.

Terlalu lelah? Salah satu yang masuk akal. Tapi hanya berlaku jika saya memang banyak aktivitas di luar. Sedangkan selama 25 hari terakhir, justru giliran ‘jaga kandang’, bebas dari liputan tengah hari bolong panas-panasan. Kalau liputan pun agak mewahan dikit, ke ballroom sini, hotel sana ๐Ÿ˜‚. Eh tapi lelah karena pikiran bisa juga sih. Secara posisi redaktur sebenarnya 50:50. Dibilang ngeri, tapi ya enak karena jadi ‘penguasa’ yang bisa edit berita anak buah. Dibilang enak, tapi bebannya tinggi, karena tanggungjawabnya besar. Jadi, mungkin salah satunya bisa jadi karena pikiran.

Kenapa kopi saya kesampingkan? Karena memang kopi selalu gagal bikin saya melek dan begadang. Justru paling ampuh kalau lagi sembelit ๐Ÿ˜…. Tapi untuk nahan ngantuk, hmm, cuma mitos. Buktinya cuma sepersekian persen.

Bicara tentang insomnia, masih ingat postingan di blog saya beberapa sebelum ini? Yup, saat saya membahas tentang masa lalu. Di mana sempat ada beberapa bulan yang takut untuk tidur, takut untuk terpejam, bahkan takut menghadapi malam. Apakah kali ini insomnia saya seperti itu? Well, I’m proudly to say, no! Continue reading