17 Agustus : a moment to remember

Detik-Detik Proklamasi. Derap langkah Paskibra. Aubade lagu-lagu perjuangan. Andika Bhayangkari. Langkah kaki pembawa baki bendera. Suasana khidmat. What else? Masih banyak lagi sebenarnya, yang selalu hadir di ingatan, saat kita mengingat momentum 17 Agustus-an. Apalagi buat saya pribadi, yang rutin nonton Upacara Pengibaran dan Penurunan Bendera di Istana Negara melalui TV. Tontonan wajib! *kalau gak nonton rasanya kecewaaaaa banget πŸ˜….

Rutinitas tahunan yang mulai berubah ketika sudah jadi anak SMP, kemudian SMK, dan akhirnya kuliah. Harus ikut upacara pengibaran, yang artinya : gak bisa nonton upacara pengibaran karena waktunya hampir bersamaan 😭. Sedih itu mah, beneran, mana waktu itu belum jaman streaming atau Youtube pula. FYI, upacara di Banjarmasin mulainya jam 10 WITA, nah, sedangkan di Istana Negara mulainya jam 10 juga, tapi WIB, di sini jam 11 WITA berarti. Boro-boro sempat nonton, upacara mana ada yang kelar jam 11 πŸ˜…. Paling banter nontonnya pas penurunan aja, sore hari.

Detik-Detik Proklamasi – Paskibra 2017 Kota Banjarmasin di Halaman Balaikota, Kamis (17/08) – dokumentasi pribadi

Continue reading

Terjebak Nostalgia

Pernah terjebak nostalgia? Pernah. Sering malahan.
Terakhir kali baru beberapa jam yang lalu. Gara-garanya kebuka lemari dan ngeliat masih ada bingkai foto keselip di tumpukan jaket. Padahal, seingat saya, itu bingkai (plus fotonya) sudah diungsikan ke sudut lemari paling dalam. Teteeeeuuuup aja nongol ya :D.

Baper? Gak lah. Cuma ya normal, ketika lihat foto-foto dari masa lalu, semua kenangan perlahan nongol ke seluruh penjuru. Memutar balik film lawas tentang hati yang pernah sejalan, pernah searah, juga pernah satu frekuensi. Apalagi saya tipe-tipe manusia yang menghargai kenangan, sepahit apapun itu, hehehe.

Terjebak nostalgia, bukan perkara yang salah sebenarnya, selama yang diingat jadi pengingat biar gak terjerumus dalam rasa kangen yang menggebu. Apalagi pengen balikan lagi dan mengulang kenangan. Ingat, tak semua kenangan bisa dinikmati, juga tak semua kenangan berhak untuk mendapatkan tempat di hati. Terlebih kalau kenangannya agak pahit dikit, macam pare yang suka dimasak Ibu tapi gak pernah saya makan.

Tapi, keputusan untuk menjebak diri dalam nostalgia, itu kembali ke diri masing-masing. Menjadi hak bagi tiap-tiap diri untuk menikmati kenangan dalam visualisasi berbentuk apapun. Selama tak melanggar hukum dan menyakiti hati orang lain, silahkan.

ps : ini juga sengaja nambahin URL youtube-nya Raisa – Terjebak Nostalgia, biar makin baper :p.

Selamat bernostalgia,
-xoxo-

Perjalanan

Menjadi putri Abah (rahimahullah) membuka mata saya untuk menjelajahi berbagai hal. Tak terbatas tempat dan waktu, selama tak membuat saya mengubah kodrat dan menghindar dari kewajiban dan tugas sebagai seorang wanita. Cinta pertama yang mengajari saya bahwa menjadi wanita justru adalah anugerah. Guru saya dalam segala hal kehidupan.

Meninggalnya Abah di awal 2016 sempat membuat saya terguncang. Bagaimana rasanya kehilangan sosok yang terus saya dampingi, kadang bertengkar, kadang kesel-keselan, kadang marah-marahan, tapi tak pernah berjarak lebih dari 20 meter, kecuali saat saya berada di kantor atau ada kerjaan lain. Kehilangan beliau ternyata mematikan separuh jiwa saya sebagai seorang putri, yang tak pernah berada jauh dari ayahnya, sepanjang hidupnya.

wp-image-1516084292

dokumentasi pribadiΒ  : Pulau Tidung – Kepulauan Seribu – DKI Jakarta. Mei 2017

Selama bekerja di pemerintahan, Abah sering mendapatkan tugas ke berbagai daerah. Mengingat bidang beliau membawahi kegiatan desa dan seringkali membawa pemenang lomba desa ke Jakarta, untuk menerima penghargaan atau urusan lainnya. Berbagai kultur dan budaya daerah, selalu menjadi oleh-oleh cerita yang saya tunggu. Pastinya usai membongkar koper dan tas bawaan Abah yang isinya pesanan anak-anaknya :D.

Continue reading

Tendinitis, really?

Tendinitis adalah peradangan yang terjadi pada tendon. Tendon merupakan struktur elastis yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendinitis dapat terjadi pada tendon di mana saja, namun paling sering terjadi pada siku, pergelangan kaki (tendon Achilles), bahu, panggul, lutut, jari dan pergelangan tangan.

Sebenarnya dan sesungguhnya, jari jempol tangan kanan saya lagi nyeri. Seminggu terakhir, kayaknya. Kalau dalam keadaan biasa sih gak berasa, tapi kalau lagi angkat barang atau ngetik di henpon, nyerinya berasa. Apalagi 3 hari ini. Makanya sementara waktu, kegiatan yang banyak gunain jempol saya kurangin.

Alhasil, WA grup pun cuma dilirik sekilas, kalau gak penting-penting amat ya gak dibalas, atau seadaanya aja balasannya. Maapkeun πŸ˜…. Ini pun ngeblog lewat aplikasi wordpress, si henpon mesti ditaroh, jadi ngetiknya *termasuk 2 artikel sebelumnya* kayak orang lagi pakai keyboard manual. Karena kalau dipaksain, nyeri sudah pasti, trus saya juga mau ini jempol makin kenapa-napa.

Continue reading

Kopi Bantu Diet?

Pertanyaannya : emang beneran bisa? Eh tapi siapa yang lagi diet? πŸ˜‚ *secara gak ngerasa lagi diet diet apalah itu namanya.

Lepas dari apakah kopi benar-benar bisa bantu program diet, bisa jadi. Selama yang diminum adalah kopi murni, tanpa oplosan krimer, gula, apalagi sianida. Karena percuma sih, kalau minum kopi hitam, tapi ujung-ujungnya bakal minta gula tambahan, sama aja numpuk gula πŸ˜‰.

Continue reading

Hello, readers…

Dear, pembaca blog katakutubuku.blogspot.com, ini postingan pertama setelah berbulan-bulan vakum dan ‘kehabisan ide’ untuk menulis. Yaaaa, sebenarnya bukan kehabisan ide, tapi lebih ke motivasi menulisnya yang sedikit menurun. Balada laptop rusak, kerjaan kantor yang menumpuk, dan malas ngetik via keyboard hape, jadi alasan penyempurna πŸ˜….

Continue reading

May Day is not a Holiday

May DayΒ atau Hari Buruh Internasional yang diperingati pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya, menjadi momentum dan ajang bagi para pekerja dan buruh untuk menyampaikan tuntutannya. Terutama dari segi upah dan kebijakan perusahaan yang dinilai tidak berpihak kepada para pekerja, yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Kata “buruh” menurut laman wikipedia adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan, baik berupa uang, maupun bentuk lainnya kepada Pemberi Kerja atau pengusaha atau majikan.

Istilah “buruh” memang terkesan menunjukkan konotasi negatif, yakni menganggap sebagai pegawai rendahan (tingkatannya), kasar, atau bahkan hina. Sedangkan tenaga kerja dan karyawan atau pegawai, dinilai sebagai pekerja atau buruh dengan tingkat yang lebih tinggi, terutama yang memakai otak dalam pekerjaannya, bukan otot dan tenaga.

Lagi-lagi, itu menurut wikipedia.

IMG20170422094407

Kopi dan Perekam

Saya pribadi menilai, mau dikatakan buruh atau karyawan, intinya kedua sebutan itu adalah pekerja, secara umum. Yang membedakan hanya profesi yang dijalani, yang tentu saja punya segudang perbedaan, tugas dan kewajiban, juga pembayaran upah yang berbeda. Termasuk risiko yang ditanggung Si Pekerja yang bersangkutan.

Menjadi buruh pabrik susu bayi, misalnya. Seperti yang digeluti salah seorang teman saya yang tinggal dan bekerja di Tangerang. Dengan pendidikan terakhir STM dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dia bekerja bertahun-tahun di pabrik yang tergolong besar itu, dengan gaji yang menurut penuturannya harus diperjuangkan agar dapat mencukupi kebutuhan tiap bulan. Setiap tahun, dia yang tergabung dalam serikat pekerja setempat juga turun aksi, untuk memperjuangkan kelayakan upah dari perusahaan, melalui bantuan dari pemerintah yang berwenang menerbitkan peraturan, yang diharapkan berpihak pada mereka.

Kondisi itu saya bandingkan dengan keadaan sendiri, juga rekan-rekan seprofesi, meskipun di media yang beragam. Televisi, radio, cetak dan online, semua juga punya jam kerja yang sebenarnya tak terbatas. Namun untungnya, beberapa dari kami bernaung di bawah bendera media berjaringan, yang dapat dikatakan berstatus lebih beruntung daripada rekan lain yang seringkali terlambat digaji atau belum punya status jelas di kantornya. Risiko kerja tak ada bedanya. Meskipun Indonesia, khususnya daerah kami di Kalimantan Selatan bukan daerah konflik, terkadang tugas juga mengharuskan kami menempuh medan yang cukup sulit dilalui, belum lagi waktu untuk keluarga yang tak dapat maksimal. Continue reading

Sayang, Aku Pergi

Karena perbedaan yang kita miliki bukan tentang jarak yang masih dapat dipangkas. Bukan tentang rentang masa hidup yang terpaut beberapa tahun. Bukan tentang pilihan pekerjaan yang jauh berbeda. Tapi tentang sesuatu yang tak dapat kita manipulasi, atau bahkan batalkan hanya karena rasa sayang.

Menjadi milikmu selama beberapa tahun belakangan, rasanya sudah mencukupi seluruh kehidupan, juga impian. Aku bahagia, titik. Segala rasa cinta dan sayang, perhatian kecil dan seringkali di luar kebiasaan. Semuanya sempurna. Kecuali satu hal, yang membuat langkah kita tak akan pernah sama. Sampai kapanpun.

IMG20170109125808

Kita tak pernah sadar, apa yang kita miliki mungkin adalah hak orang lain yang lebih berhak. Atau mungkin, kita menyadari namun tak ingin keluar dari dunia kecil yang kita ciptakan sendiri?

Mengapa aku tak pergi dari sisimu? Bahkan setelah semua kenyataan yang disembunyikan, setelah semua hal yang seharusnya jadi pemberat hubungan yang kita jalani selama bertahun-tahun ini. Bukankah seharusnya aku pergi? Atau paling tidak, mengakhiri semua yang pernah kita miliki, bahkan mungkin memintamu memilih?

Ah, aku sadar, siapa aku ini. Aku hanya wanita yang katamu kau cintai, juga sayangi. Salah satu. Karena sebenarnya cinta dan sayangmu sudah diberikan kepada dia yang berhak. Yang seharusnya kulakukan adalah berhenti membersamaimu.

Continue reading

Kopi Dingin Tengah Hari

IMG20170417131138

Hazelnut Latte – Office Coffee Banjarmasin

Kopi pilihan saya siang ini cukup anti-mainstream, karena melenceng dari kebiasaan ngopi yang sudah terpakemkan secara otomatis, baik tiap mesan kopi di Coffee Shop atau saat menyeduh kopi sendiri di rumah. Pilihan siang hari panas terik kali ini adalah Hazelnut Latte, kopi berperasa kacang Hazel dan susu cair, plus tambahan es batu beberapa biji, karena pesannya yang dingin. Agak menyimpang dari kebiasaan ngopi hitam di manapun saya berkunjung (dari satu kafe ke kafe lainnya, maksud saya πŸ˜…).

Sebenarnya lebih ke alasan pribadi sih. Sedang ingin ngopi, tapi maunya yang lebih ringan, dan ada manis-manisnya gitu, seperti mas-mas ganteng langganan nasi di warung emak πŸ˜‚. Bercanda. Jangan diseriusin. Tapi memang, hasrat pengen ngopi kali ini bukan 100% karena ingin ngopi, lebih karena pengen ‘menenangkan diri’, lelah hati kalau kata adek saya yang centil tapi sangar itu. Continue reading

Jangan Jadi Penjajah bagi Makhluk Hidup Lain!

Barusan saya cek di Line Today dan beberapa akun di timeline Instagram, heboh temuan lubang (atau sarang?) ular sawa alias phyton di kawasan Teluk Selong Ulu – Martapura. Penasaran, saya baca artikelnya di Line sampai selesai, di Instagram saya tonton video berdurasi hampir 1 menit ketika orang-orang sedang mencoba keluarkan ular (yang ternyata ada dua ekor). Akhirnya sadar, “lho, kan ini lokasinya di sawah,” yang lokasi lubangnya agak ke pinggir jalan. Bukan di pemukiman padat penduduk.

Foto : dokumentasi pribadi – ular temuan di area kantor beberapa hari yang lalu (sengaja dimasukkan kandang, sampai petugas gedung dapat induknya)

Yang disayangkan, kenapa justru dipaksa dikeluarkan ular-ularnya? Lalu kalau berhasil dikeluarkan, mau diapakan? Diserahkan ke kebun binatang? Di lepas ke hutan? Atau bahkan dimatikan?

Jangan lupa, ular sawa juga bagian dari ekosistem, sebagai penyeimbang. Terutama di area sawah, yang biasanya berhama tikus. Trus, kalau ularnya dipaksa “pindah” dari rumahnya sendiri, siapa yang basmi tikus-tikusnya dari sawah? Sedangkan sawah dan hutan memang habitat asli dari si reptil itu. Tidak mengganggu, tentu juga tidak ingin diganggu. Lalu kenapa justru kita yang manusia ini ganggu? Di pikiran saya, ini sama seperti nyuruh ikan keluar dari sungai, biar sungainya bersih dan gak bau amis. Gak masuk akal kan? Nah itu maksudnya. “Mengusir” ular dari habitatnya juga adalah hal yang gak masuk akal.Β  Continue reading