Deadliner : Tidak Sesantai Yang Anda Kira

Deadline; [noun] #1. A time limit, as for payment of a debt or completion of an assignment (Tenggat waktu, untuk pembayaran utang atau penyelesaian suatu pekerjaan.[Source : http://www.answers.com/topic/deadline]

Pemalas. Tukang Ngaret. Gak Profesional. Sederet cap lainnya mendarat di jidat para deadliner atau manusia-manusia yang lebih sering atau bahkan selalu menjadi yang terakhir dalam batas pengumpulan suatu pekerjaan.

Kelihatannya memang begitu, para deadliner ini kok bisa-bisanya masih santai padahal yang lain lagi kalang-kabut karena pekerjaan belum selesai sedangkan batas waktu semakin dekat. Kadang juga mereka masih bisa ketawa-ketiwi dan malah mengerjakan pekerjaan yang lain yang “tidak terbatas waktu”. Tapi benarkah mereka sesantai itu sampai cenderung terlihat seperti orang yang acuh dan pemalas?

Gak kok, sepengamatan saya sejauh ini, para deadliner ini aslinya gak sesantai yang dilihat orang lain kok. Mereka juga punya rasa gugup yang sama, bahkan lebih gede porsinya. Cuma, mereka lebih jago bikin perencanaan soal apa-apa saja yang menurut mereka bisa dikerjakan sekarang dan yang bisa ditunda untuk sementara waktu. Bukan berarti juga mereka gak mikirin sama sekali atau meremehkan pekerjaan yang ditugaskan. Tapi seperti yang saya bilang, karena sebenarnya, mereka sendiri sudah punya perencanaan, back-up plan seandainya apa yang mereka kerjakan waktunya sudah semakin mepet.

Sebenarnya ada sisi negatif juga sih ya jadi deadliner, selain reputasi yang rada turun karena dianggap pemalas, tapi juga kurangnya waktu yang digunakan untuk ngejar batas waktu itu tadi. Tapi, mayoritas dari para deadliner ini justru malah semakin kreatif dan produktif menghasilkan sesuatu ketika mereka harus kejar-kejaran dengan waktu.

Kita gak bisa sama-ratakan tiap gaya seseorang dengan orang lainnya. Ada yang lebih bisa mengerjakan ketika dikejar waktu, tapi ada juga yang harus nyicil dari awal banget biar bisa rada tenang pikirannya. Ya, sama kayak ngebandingin orang yang seringkali grasak-grusuk ketika ada kerjaan padahal waktunya masih banyak dengan orang yang tetap stay cool walaupun batasnya sudah semakin dekat. Semua tergantung pribadi masing-masing, gaya tiap orang menghadapi ‘masalah’nya sendiri.

Jadi setidaknya cap deadliner itu aslinya gak semuanya bermuara pada satu kesimpulan : “PEMALAS”. Justru mindset ini harus diubah, karena tiap orang punya gaya tersendiri dalam proses penyelesaian pekerjaannya. Gak bsia disamain sama mayoritas orang ya

Bukan karena saya salah satu yang termasuk deadliner ya, bukan juga sebagai ajang pembelaan diri. Hanya ingin orang lain mengerti, bahwa menjadi seorang deadliner bukan hal buruk, ya walaupun kita akui selesai lebih awal tentu lebih baik. Oh ya, bukan berarti juga para deadliner menerapkan deadline pada segala hal. untuk yang berhubungan dengan ibadah, tentu berbeda. Masa iya sholat disamain sama tugas atau kerjaan, lalu mentang-mentang seorang deadliner, jadi sholatnya juga nunggu batas waktunya hampir habis gitu? Gak lah :).

Menjadi deadliner sebenarnya ada sisi positifnya. Pada beberapa orang, ini malah akan bisa meningkatkan semangat mereka untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, lebih baik dari sebelumnya. Juga seringkali membuat para deadliner ini punya rencana yang lebih matang soal penggunaan waktu buat nyelesainnya :D. *biasanya ngitung waktu, kerjaan yang ini bisa selesai berapa lama, kalau misalnya mulai dikerjain jam segini, masih bisa selesai gak? Gituuuu*

Menjadi deadliner itu bukan pilihan, karena jika tidak bisa melakukan perencanaan, pasti bakal gagal. Gak cuma rencanain waktu, tapi juga rencana penyelesaian, trus juga rencana-rencana lainnya yang mendukung proses itu tadi. Ribet yah? Iya. Makanya tadi dibilang, jadi seorang deadliner itu gak cuma modal nekat, tapi justru banyak yang harus disiapin.

Yang paling bagus sih sebenarnya, kalau kita mulai kurangi ke”nekat”an ngejar deadline ini. Gak bagus juga buat otak, aslinya stres loh :D. Deadliner itu sebenarnya adalah para planner yang menunda pengerjaan. Mereka udah punya rencana yang rapi banget, hanya saja proses pengerjaannya yang nanti-nanti. Alasannya macam-macam, nunggu waktu yang tepat, nyari dana, pengen santai sejenak, dll. Tapi yang paling banyak adalah “nunggu mood lagi bagus, biar hasilnya juga bagus”.

Saya juga udah mulai kurangi, mulai belajar pelan-pelan buat perencanaan lebih awal dan pengerjaan yang awal, gak pake ditunda-tunda walaupun udah punya rencana. Biar bisa selesai tepat waktu, hasil juga tetap lebih maksimal. Susah? Iyalah, tapi namanya juga belajar, insya Allah dimudahkan. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s