Datang, Dengar, dan Bacakan Puisimu…

Kuno. Jadul. Lebay. (Sok) Romantis. Itu kata segelintir rekan.

Bagi saya? Puisi itu verbalisasi jiwa. Lebih mudah bagi saya merangkum segala jenis perasaan lewat rangkaian kata dalam kalimat yang dibacakan dengan sepenuh hati. Ya, saya mencintai puisi sebesar mencintai gambar-gambar yang saya abadikan lewat kamera. Bagian dari jiwa yang selalu melekat sampai nanti.

Sebuah pesan yang sempat membuat saya terdiam sejenak datang di siang hari. Ajakan untuk jadi salah satu bagian dari Malam Puisi wilayah Banjarmasin. Kesempatan yang tak ingin saya sia-siakan, setelah belasan tahun hanya memendam puisi dalam loker pikiran dan tulisan, tanpa sempat diungkap dan dibacakan. Kesempatan langka bukan?

Bertemu dengan teman baru, membaur, berkerjasama, berkoordinasi, berdiskusi, berbagi, juga bercanda bersama. Seolah mendapatkan keluarga baru yang selalu siap untuk saling mendukung, saling melengkapi, saling menghibur, dan jadi pendengar setia saat untaian kata termuntahkan dalam kalimat-kalimat rapi bernama puisi. Saling menguatkan, sekalipun sebenarnya mereka juga punya rasa gugup, canggung, dan bingung saat berhadapan dengan hal yang benar-benar baru. Tapi, mereka, oh bukan, kami tepatnya. Kami berhasil melaluinya :).

Akhirnya, 29 November 2013, Malam Puisi Banjarmasin resmi diwujudkan di sebuah kafe di kawasan Kampung Melayu. Puisi pun mengudara di langit kota Banjarmasin saat itu. Saya memilih sebuah puisi yang pernah diposting di blog saya sebelumnya. Puisi yang bagi saya bermakna besar, karena merupakan titik balik langkah yang harus saya ambil, beberapa bulan sebelumnya 🙂 *curhat dah ini*.

Image

 

“…Kita bertemu dalam rinai hujan, tak kusangka perpisahan juga hadir di saat hujan.
Aku menyusuri sepanjang jalan yang pernah penuh dengan jejak langkahmu, tapi tak pernah lagi kutemukan jejak yang sama.
Berjalan diantara reruntuhan rasa, menyiksa sekali rasanya. Apalagi saat mengetahui bukan langkahmu yang kini kuikuti….” 
(“Hujan pun Membasuh Langkahmu” – Eva Rizkiyana – Juni 2013)

Image

Kesempatan bertemu rekan sejawat yang menyukai puisi, rasanya pelampiasan banget 🙂 bertemu orang yang memahami jiwa kita, memahami isi dan makna dari tulisan kita, dan menghargai setiap huruf yang tersusun rapi dalam puisi yang dihaturkan. Yes, they’re family. Bahkan sampai sekarang pun, dan semoga sampai nanti dan nantinya lagi, selalu ada kejutan yang terjadi saat puisi dibacakan. Aamiin.

Keluarga baru saya ini rasanya gado-gado. Krasak krusuk pas persiapan acara sudah jadi santapan indah tiap bulannya. Tetapi bagi kami, ketika puisi dibacakan dan semua yang hadir menikmatinya, itu sudah lebih dari cukup. Tak perlu bangku mewah dan gelas mahal. Ternyata dengan duduk di bawah temaram lampu taman pun kami bisa tetap menikmatinya (acara Malam Puisi bulan Februari 2014).

Kami akan selalu membacakan puisi, menulis dari hati, dan menikmati tiap tulisan yang tersusun. Kami akan selalu datang, dengar, dan bacakan puisi yang kami cintai.

Selamat Setahun Malam Puisi, semoga selalu sukses dengan rangkaian kata dan untaian kalimat indah yang menggema di tiap bulannya dari seluruh Indonesia 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s