Malam Batanam Karya Baharum Banua 2014 : Pagelaran Lagu Daerah, Tari, dan Teater Tradisi

Masih segar dalam ingatan saya, sebuah atraksi menarik hasil kolaborasi musik, tari, dan akting yang disatukan menjadi sebuah seni teater yang indah untuk dinikmati. Basuhan hujan sedari sore seolah tak menjadi halangan untuk bisa menikmati suguhan spesial jelang tutup tahun yang rutin diadakan oleh pihak Taman Budaya Kalimantan Selatan. Pagelaran Lagu Daerah, Tari, dan Teater Tradisi yang diadakan pada 23 Desember kemaren sukses menghadirkan warna tersendiri di penghujung tahun 2014. Semacam jadi klimaks dari seluruh pagelaran yang pernah diadakan sepanjang tahun.

Malam Batanam Karya Baharum Banua 2014 : Pagelaran Lagu Daerah, Tari, dan Teater Tradisi

Malam Batanam Karya Baharum Banua 2014 : Pagelaran Lagu Daerah, Tari, dan Teater Tradisi

20.21 WITA, tepat 9 menit sebelum acara dimulai. Saya memilih duduk di bangku sayap kiri panggung, di tribun keempat dari bawah. Tempat yang cukup strategis menurut saya, bisa melihat panggung dengan cukup jelas, apalagi mata sudah  susah diajak kompromi kalo disuruh liat jauh dan gelap. Penonton yang kebanyakan dipenuhi oleh keluarga pemain teater dan mahasiswa jurusan seni di 3 perguruan tinggi di Banjarmasin terlihat mulai memadati tribun penonton. Gedung Balairung Sari Taman Budaya pun nampaknya memang sangat pas untuk jadi lokasi pagelaran. Terlihat dari harmonisnya kursi penonton yang tak terlihat kosong, malah juga ada beberapa penonton yang harus puas duduk lesehan di karpet untuk bisa menikmati akting dari para seniman panggung.

Adegan pertama dari teater tradisi ini bernuansa outdoor, penonton diarahkan menuju pintu samping dimana di halaman sudah siap belasan pemain yang siap membuktikan hasil latihan mereka selama ini. Gelap, hanya ada penerangan dari lampu obor di sekeliling area pementasan. Wangi dupa ikut melengkapi “sakral”-nya pementasan yang sedang dilakukan (eh ini juga nanti digunain sebagai properti). Sempat mikir gini, “jangan-jangan ntar bakal ada yang kesurupan” – dugaan saya salah 100%, jadi malu (/-\).

Beberapa belas menit adegan outdoor, dengan bonus gerimis buat saya sih bukan mistis lagi, romantis malahan. Sayangnya kemaren datangnya sendiri, eh tapi biasanya juga pergi sendirian kan ya? :D. Rupanya penggunaan 2 set pentas sebagai pergantian latar dan penyambungan adegan yang ceritanya pindah ke tempat lain. Satu hal yang saya suka dari adegan pertama ini adalah para pemain yang tetap profesional dan maksimal berperan meskipun harus dimandikan gerimis. Kebaya, kain, sanggul, make-up, semuanya terasa serasi.

Pementasan yang menceritakan tentang kehidupan seorang “Panggandutan, yaitu seorang penari wanita yang membawakan tari Gandut, sebuah tarian Banjar di masa lampau yang terkenal dengan gaya erotisme penarinya (Wikipedia). Tari Gandut atau dikenal dengan nama “Bagandut” biasanya ditarikan berpasangan antara penari wanita dan pemuda yang hadir di sebuah acara, bisa acara perkawinan ataupun hajat besar lainnya. Selengkapnya bisa dibaca disini -> http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Banjar.

Panggandutan, bagi mayoritas warga pada saat itu dianggap sebagai wanita penggoda, lengkap dengan berbagai pandangan negatif yang mewarnai kehidupannya. Ada yang bilang kalau seorang Panggandutan mewarisi ilmu hitam, ilmu pengasih, memakai susuk pemikat, perebut pasangan orang, dan masih banyak lagi. Ya, untuk menjadi seorang Panggandutan, biasanya memang diturunkan dari orangtua atau keluarga sedarahnya secara turun temurun. Yang tidak mau meneruskan “warisan” keluarga ini, akan hilang kewarasannya. Itu kata beberapa tuturan cerita yang juga pernah saya dapatkan. Mungkin karena diwariskan turun temurun itulah, tudingan bahwa Panggandutan adalah ilmu sesat semakin berkembang di masyarakat pada saat itu. Baru pada tahun 60-an, profesi ini sudah mulai ditinggalkan, kalaupun ada, itu hanya sebatas untuk pelestarian budaya, bukan lagi sebagai mata pencaharian. Pementasan ini sendiri bertujuan untuk meluruskan pandangan masyarakat tentang tarian Bagandut dan kehidupan Panggandutan-nya.

Kembali ke pagelaran seni kemaren, ada banyak kejutan yang membuat saya semakin ingin menikmati acara ini. Akting para pemainnya yang natural, juga penuturan bahasa Banjar yang memuaskan dahaga yang rasanya sudah teramat lama tidak lagi mendengar bahasa Banjar secara asli. Seringnya, bahasa Banjar yang sudah dicampur bahasa Indonesia, yang akhirnya hilang kekhasannya (saya juga termasuk yang begini sih ._.).

Saat set berpindah dari outdoor ke indoor, pementasan tidak serta merta berlanjut, masih ada beberapa seremonial, beberapa sambutan dari kepala instansi terkait. Ini yang bikin agak sedikit lama sih, apalagi malam juga sudah semakin larut. Ya kali bisa pulang pagi, alamat dikurung Abah kalo berani pulang tengah malam cuma buat nonton :D. tepat pukul 21.45 WITA, akhirnya pementasan kembali dimulai. Perpindahan set justru membuat penonton bisa melihat glamor dan serasinya pakaian yang dikenakan pemain, hasil rancangan perancang terkenal Kalimantan Selatan, oom Kawang Yudha. Lighting, sound system, ditambah alunan musik Panting khas Banjar, menjadikan pagelaran ini patut diacungi jempol dan bisa jadi salah satu referensi acara tahunan yang sukses dalam skala daerah.

Saya sendiri harus berpuas diri hanya bisa menonton sampai pukul 22.00 WITA, karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus selesai malam itu juga. Tapi dari pantauan beberapa teman, pagelaran malam itu bisa dikatakan sukses dan meriah. Apalagi tema teatrikal yang diusung di tahun 2014 ini tidak akan dilakukan lagi di tahun berikutnya. Penyelenggara akan kembali pada “pakem” Malam Batanam Karya Baharum Banua di tahun-tahun sebelumnya, dengan pagelaran musik sebagai primadonanya.

Yaaaaa, semoga setiap tahun selalu ada perbaikan dalam banyak hal, juga mampu memberikan hiburan yang mengandung sisi edukatif dalam budaya dan sejarah daerah dengan lebih baik lagi. Aamiin.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s