Mencintai Hujan

Hujan kali ini.

Aku seolah kembali pada kilas waktu bertahun yang lalu. Saat hati pernah termiliki. Saat harapan masih menggebu dalam diri.

Sudah lama rasanya, berdiri menunggu di dekat pintu kedatangan bandara. Kaki tak bisa diam, tak sabar untuk melangkah dan menjemput. Ya, memang suda lama berlalu. Tanpa terasa hati pun ikut membeku seiring berlalunya waktu.

Tapi aku tak akan menceritakan tentangmu yang lenyap dimakan masa. Juga bukan tentang bagaimana hebatnya waktu bisa membuatku melupakanmu dengan nyaris sempurna. Ini cerita tentang bagaimana hujan membuatku jatuh cinta berjuta kali sampai hampir tak berbatas. Ya, aku mencintai hujan dan segala dingin yang menyertainya.

Aku kembali menikmati hujan dengan caraku sendiri. Membiarkan tetesan airnya perlahan membuat titik-titik kecil di pakaianku yang juga secara perlahan berubah menjadi guyuran air. Aku menyukainya, oh bukan, aku mencintainya. Mencintai hujan.

Kau tahu, Tuan, bagaimana rasanya bisa kembali berdamai dengan dunia yang pernah kumusuhi? Ya, rasanya indah. Seindah guyuran hujan yang menemani perjalanan yang sengaja kuperpanjang. Sengaja kubiarkan putaran roda mengelilingi jalanan yang lebih jauh, berputar, berbelok, mencari arah yang diinginkannya.

Aku hanya tersenyum simpul mendengarkan omelan dan aduan mereka tentang hujan yang tak kunjung reda. Biarlah, mungkin mereka hanya belum bisa menikmati dan mencintainya seperti yang kulakukan. Kadang akalku bertanya, bisakah kau menyalahkan hujan yang datang hanya untuk menyegarkan dahaga bumi? Bumi yang merindukan langit, hanya bisa mengharap hujan datang agar rindunya terbayarkan.

Tak seperti matahari dan bulan yang bisa bertemu di ujung senja maupun di awal fajar. Tak seperti siang dan malam yang bisa bertemu dan saling menyapa di pergantian hari. Bumi harus menunggu langit menurunkan hujan agar bisa melepas rindu yang terendap. Tak bisa bertemu langsung, juga tak bisa saling menyapa, hanya lewat perantara. Hujan.

Pernah kau lihat bulan masih muncul padahal matahari mulai bersinar? Pernah juga kau lihat pergantian hari terus berlangsung tanpa henti? Kau bisa melihatnya setiap hari. Yang tak bisa kau lihat hanyalah bumi memeluk langit tanpa batasan. Karena memang tak pernah terjadi. Karena untuk bisa saling memeluk, mereka harus dibantu hujan. Karena untuk mengirimkan hujan pun tak bisa setiap saat. Seringkali bumi masih harus kering-terbelah-terpecah saking rindu yang terlalu dalam saat langit belum bisa mengirim utusannya.

Aku mencintai hujan dengan segala udara dingin yang menyertai, dengan sejuta kilat dan petir yang siap menyambar, dengan semua ocehan dan omelan yang menyalahkan kedatangannya, juga dengan seluruh doa yang kerapkali mengharapkannya.

Aku mencintai hujan.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s