Hubungan Jarak Jauh


“Mama bangga punya putri-putri seperti kalian. Bisa pelukan lagi, bisa lihat wajah kalian, bisa dengar curhatan kalian. Maafkan atas tahun-tahun yang pernah hilang dari hidup kita.”

Kalimat yang tak pernah bosan kudengar. Sambil ditemani rangkulan hangat namun masih berbatas waktu. Tenang, Ma, kita akan punya waktu sepuasnya nanti. In shaa Allah.

Berapa lama pasangan kekasih sanggup menjalani hubungan jarak jauh? 3 bulan saja rasanya terlalu lama, apalagi sampai bertahun-tahun. Pernahkah membayangkan bagaimana rasanya hubungan jarak jauh antara Ibu dan anaknya? Saya akan lebih memilih jarak jauh dengan kekasih. Serius.

Saya masih berusia 8 tahun saat itu. Menjalani “hubungan jarak jauh” dengan Mama selama 14 tahun. Bahkan di umur ke-23 ini kami masih harus main kucing-kucingan untuk sekadar melepas rindu. Saat anak-anak lain bisa memeluk ibunya ketika ketakutan, saya hanya bisa bersembunyi di bawah selimut sambil menyapu airmata.

“Mengapa Mama gak pernah ada?” itu yang saya lontarkan saat itu. Berontak dengan keadaan. Iri melihat anak lainnya didampingi ibunya saat menjadi juara kelas, tertawa dengan riang. Sedangkan saya hanya bisa menunduk sambil memeluk hadiah dan piagam juara kelas. Kejadian yang terus berulang sampai kelulusan SD dan SMP. Pertanyaan saya tak pernah terjawab, hingga belasan tahun kemudian. Ya, 14 tahun penantian yang rasanya terlalu lama.

Rasa marah, sedih, kecewa, dan benci pun pernah saya miliki. Keterbatasan akses komunikasi, terbatasnya waktu pertemuan, segala sangkaan dan berita-berita simpang siur, juga pertanyaan yang belum sempat terjawab. Berusaha mengorek informasi dari manapun, beraksi layaknya seorang detektif, mencari kemana pun orang bilang pernah melihat beliau. Semua saya lakukan demi bisa “mendapatkan” kembali ibu saya.

14 tahun penantian terbayar, meskipun belum lunas. Penjelasan yang saya tunggu, kepingan cerita yang saya kumpulkan, juga kenangan yang masih saya simpan rapi dalam memori hati. Semua yang akhirnya berhasil memecahkan semua benci dan tangis yang pernah saya punya dan tahan belasan tahun.

Beliau masih seperti dulu. Kecantikannya seolah abadi, masih dengan tubuh yang tak pernah bisa gemuk, tapi juga tak terlalu kurus. Masih dengan senyum tulus dan wangi yang sama, dengan gaya yang juga sama, cerewet dan bawel yang tak berubah. Masih seorang Ibu yang juga teramat rindu dengan putrinya. Tahun-tahun berat yang kualami juga dialami olehnya. Hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Saat ego dan keangkuhan hanya menempatkanku seolah hanya aku korban dari semua yang terjadi di masa lalu.

Mama seorang pekerja keras. Yang konsisten dengan pekerjaannya hingga bisa berada di pucuk pimpinan salah satu bank. Makin tinggi kedudukan, makin tinggi cobaan. Ditipu dan dikhianati orang kepercayaan, sampai akhirnya kehilangan segalanya. Memilih merelakan cintanya, juga meninggalkan satu-satunya hartanya yang tersisa agar tetap terlindungi dan tak tersentuh tangan-tangan kotor, keluarga. Tak peduli cemoohan orang, semua disimpan dan dirasanya sendiri. Tangispun ditahannya, amarah juga diredamnya. Ma… sudah cukup semua yang kau rasakan selama ini.

Pertanyaan yang pernah saya lontarkan belasan tahun lalu rasanya tak perlu lagi dijawab. Saya mengerti dan sudah terlalu paham. Kepergiannya, bukan karena tak lagi mencintai keluarganya seperti tuduhan orang. Karena beliau terlalu mencintai kami, maka merelakan semuanya hilang agar kami tetap aman.

Sekarang, sudah 2 tahun ini saya kembali bisa memeluk wujudnya yang selama ini hanya berbentuk suara. Meskipun masih harus diuji jarak, tak apa. Asal tak lagi terpisah seperti dulu. Asal masih bisa melihat tawa dan senyumnya yang tak pernah berubah.

Kami seolah melupakan masa “jeda” pertemuan, yang kami kenang hanyalah memori indah yang pernah kami miliki. Bukan tentang perpisahan, juga bukan tentang kesalahan di masa lalu. Kami berjalan maju dengan memegang kenangan indah yang pernah ada.

Keadaan memang berubah, roda hidup manusia terus berputar. Belasan tahun terpisah dan bisa kembali memeluk. Rasanya masih belum terpuaskan, tak akan bisa puas. Butuh waktu banyak untuk bisa memuaskan rasa rindu yang terlampau banyak. Tapi, Mama tetap seorang yang tak kenal menyerah, selalu ada hal yang membuatnya bangkit, kami, putri-putrinya.

Mama, maafkan anakmu jika pernah memendam benci. Maafkan atas segala waktu yang pernah hilang diantara kita. Maafkan semua hal yang belum bisa kuberikan sampai detik ini. Mohon ampun…

Kami bangga padamu, selalu. Apapun yang terjadi, kau tetap kebanggaan untuk kami.

“Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s