Dikalahkan Hujan

Malam ini hujan kembali deras. Mungkin besok genangan air akan muncul setinggi mata kaki lagi seperti minggu kemarin. Tak banyak yang berbeda, anak kecil akan tetap berlarian di tengah genangan, ada pula yang repot dengan peralatannya untuk menghalau air. Aku? Cukuplah duduk di samping jendela menyelesaikan tulisan tentang kita yang entah bagaimana alur selanjutnya.

Kita seolah memulai kembali segala hal dari awal. Di saat aku sudah menyerah dengan semuanya. Di saat rasanya tenaga sudah tak lagi ada untuk menunggu. Di saat hati sudah mulai membiasakan untuk melangkah sendiri. Kamu jadi serupa “hantu” yang datang tiba-tiba dan kembali masuk ke dalam alur cerita. Hantu yang terlalu sempurna untuk disebut hantu.

Memulai kembali percakapan, rasanya seperti membangkitkan lagi kenangan yang pernah ada. Dengan sedikit rasa takut dan ragu yang masih meraja, beberapa titik acuh yang masih terlihat, juga kiloan ego dan gengsi yang tak bisa tersembunyi. Tapi, lagi-lagi aku yang luluh. Menghanyutkan semua ego dan gengsi yang rencananya ingin kupasang saat kembali bicara denganmu. Menghancurkan semua strategi dan pertahanan yang rasanya sudah begitu sempurna kubuat. Ah, aku memang prajurit yang payah, sangat berbeda jauh denganmu.

Seolah hatimu sadar bahwa aku butuh lebih banyak waktu untuk menata hati. Menungguku untuk siap memulai segalanya lagi. Mengambil resiko tersulit yang pernah ada. Menyiapkan mental dan fisik untuk semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Kali ini aku melihatmu yang sedikit berbeda. Lebih tenang, lebih mau mengerti, juga lebih sabar menghadapi ego yang kumiliki.

Terima kasih untuk pemahaman luar biasa yang kau berikan. Terima kasih atas langkah kembali yang kau tapaki untuk sampai ke titik dimana kita pernah berdiri bersisian. Terima kasih karena tak memaksaku untuk menyetujui segala hal tentang kita dengan cepat. Terima kasih atas segalanya. Terutama kembalinya hatimu.

Maafkan jika sementara waktu posisimu masih digantikan hujan. Masih belum bisa menempati posisimu yang semula. Waktu masih harus berjalan di antara kita. Kenangan masih harus membujukku untuk membuka “pintu” dan persilahkanmu masuk.

Maafkan jika dirimu masih dikalahkan oleh hujan.

Untuk sementara.

Sampai hati siap menjalankan tugasnya kembali.

Advertisements

2 thoughts on “Dikalahkan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s