Perjalanan 4800 Jam : Fall Moment (Part 1)

Postingan terakhir saya tertanggal 19 Februari 2015. Tepat 5 bulan yang lalu.

Memulai kembali menulis disini rasanya sedikit kagok, efek keseringan posting di tumblr dan nulis via ponsel, sepertinya.

5 bulan bukan waktu sebentar, ternyata. 3600 jam yang saya lewati, bukan sekadar menjalani waktu dengan memutar rutinitas belaka. Bukan pula menapakkan kaki memasrahkan langkah menjalani putaran waktu. Tak jarang juga penuh dengan emosi. Tangis, tawa, senyum, kesal, marah, terharu, bahagia, semuanya menggado dengan suksesnya.

Satu waktu saya pernah menghabiskan waktu dengan hanya berkurung diri di dalam kamar, berdua dengan keponakan saya yang masih balita. Hanya keluar kamar sesekali, mengobrol sejenak dengan Abah dan Ibu, kemudian kembali ke kamar lagi. Tak ada keinginan untuk keluar rumah, bahkan sekadar menyapa matahari pun enggan. Apa sebab? Entahlah, mungkin saya yang memang sedang tak ingin beramah tamah dengan langit saat itu.

Di waktu lainnya, saya ingin menghabiskan waktu saya menikmati kesendirian dengan hanya benar-benar sendiri. Melakukan yang biasa saya lakukan. Keliling mall, masuk ke toko aksesoris, liat jadwal film, nengokkin toko sepatu dan sesekali ngepas sepatu yang kayaknya bagus dipake, berdiri di samping rak buku sambil membuka lembar per lembar dengan khidmat, atau sekadar duduk manis dengan muka tembok di sudut kedai kopi favorit yang jaraknya belasan kilometer dari rumah. Bukan karena gak betah di rumah, tapi karena memang rasanya saya butuh penyegaran. Butuh sesuatu yang bisa membuat saya benar-benar hidup. Terutama setelah kejadian di awal tahun.

Awal tahun 2015 memang saya akui cukup berat dilalui. Pergantian tahun masehi yang saya lalui di rumah sakit karena Abah harus dirawat. Menikmati kembang api bergantian memancar di langit malam dari balik jendela. Dua minggu pulang ke rumah, lagi-lagi harus berjaga di rumah sakit. Kali ini lebih lama, 18 hari “pindah rumah”, tidur-makan-mandi-kerja harus di kamar rumah sakit. Sampai dihapalin sama Ibu kantin, penjaga parkir, dokter jaga UGD, cleaning service kamar, sampai perawat jaga yang bolak-balik sering saya panggil ke kamar buat cek kondisi Abah.

18 hari yang sempat bikin saya semaput dan drop beberapa hari. Pulang ke rumah pun sekadarnya, cuma buat ngasih makan pasukan kucing yang ternyata jadi kurus padahal rutin dikasih makan tiap hari. Insomnia saya jadi makin parah karena harus ganti jaga sama Ibu yang udah jaga seharian. Kopi dan remote tv jadi teman setia buat bedagang. Yang paling berat justru saat kami, saya, Ibu, dan adik, menghadapi kondisi Abah yang benar-benar drop. Hilang nafas beberapa menit selepas subuh, dengan kondisi ngantuk dan lelah luar biasa, duduk mengelilingi tempat tidur, saya belum sepenuhnya ngeh dengan situasi. Terdiam sejenak liat Ibu pegang tangan Abah, adik saya diam tapi sambil mengusap airmata, saya langsung panik dan melangkah keluar kamar berniat memanggil perawat jaga yang ternyata tidak stand-by di station mereka. *Setelah saya amati, dari jam 12 malam-6 pagi, mereka ada di kamar perawat buat istirahat. Seringkali keluarga pasien harus memencet bel berkali-kali sebelum ditangani, itupun dengan raut wajah yang kurang bersahabat*.

Ibu memutuskan menghadapi kondisi ini hanya kami berempat, maisng-maisng memegan tangan dan kaki Abah. Beliau sudah kembali bernafas, meskipun tetap dengan bantuan selang oksigen. Pagi yang dipenuhi tangis, meskipun hanya di dalam hati sendiri. Saya takut, kami takut, apalagi melihat mata Abah memandang nanar dan pasrah, entahlah apa yang dipandangi beliau di langit-langit kamar. Wejangan, nasihat, pesan untuk jaga Ibu dan adik, harapan beliau untuk saya menyelesaikan S1 dengan segera. Pagi yang menakutkan rasanya, saya tak pernah siap untuk perpisahan yang seperti ini. Tidak, saya benci perpisahan.

Ego dan akal sehat saya kembali setelah beberapa menit. Meyakinkan diri kalau beliau akan sembuh, bahwa kejadian pagi ini bukan pertanda perpisahan. Saya kembali keluar dan mendatangi station perawat dan melampiaskan kekesalan saya karena panggilan yang tidak ditangani segera. Bagaimana jika pasien benar-benar dalam kondisi parah dan kolaps? Siapa yang harus bertanggungjawab?

Sejak kejadian itu kami jadi lebih waspada, saya lebih sering bedagang tanpa tidur sedetik pun sambil memandangi Abah dari sofa yang belasan hari jadi tempat tidur sementara. Kantong mata dan tolak angin seolah jadi sahabat setia saya saat itu.

18 hari yang penuh perjuangan, bukan cuma menjaga, tapi juga mengatur waktu dan pekerjaan. Beberapa pekerjaan saya lepas, beberapa lainnya saya kerjakan di kamar rumah sakit. Saya justru bersyukur menjadi pekerja lepas memberikan saya kesempatan untuk banyak waktu menjaga Abah di rumah sakit. Kedua kakak saya yang tinggal di luar kota otomatis tidak bisa mengurus segala tetek bengek urusan asuransi dan segala sesuatunya. Saya yang jadi tangan kanan Abah dan tangan kakak-kakak untuk mengurus semua.

Kadang saya putuskan berjalan kaki ke kantor yang jaraknya (untungnya) hanya sekitar 2 kilometer. Lumayan bisa bikin otak saya sedikit waras. Kadang juga saya sempatkan meluangkan waktu sekadar berjalan-jalan di taman rumah sakit beberapa belas menit. Saya sadar, tipe manusia pejalan seperti saya tidak bisa lama-lama terkurung di dalam ruangan dalam waktu yang lama.

18 hari yang melelahkan dan menguras emosi pun akhirnya bisa kami lewati, meskipun masih harus olahraga jantung dan tenyata banyak “kejutan” yang menunggu kami di rumah. Kejutan yang hampir memicu perang dunia kesekian :D.

(Bersambung……)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s