“Kapan?”

Beberapa hari yang lalu iseng bareng sepupu nonton tipi dan pas ada acara sharing selebriti. Di salah satu segmen, mereka nanya ke beberapa orang via VT (video tape). Pertanyaannya gini, “Kapan, kapan apa yang paling horor?” –Β  jawabannya beragam, kapan kawin?, kapan kapan (yang ini bingung jawab kayaknya), sampai kapan mati?.

Akhirnya malah saya balik ditanya sama si sepupu, “Nah, kalau kamu gimana? ‘kapan’ apa yang paling horor?” Saya mikir bentar. “Kapan lulus!” Buat saya itu yang terhoror sih, selain “Kapan kawin?” yang berada di urutan kedua, dan “Kapan mau punya yang begitu juga?” – ini pertanyaan khusus kalau lagi asik main atau gendongin anaknya temen. Total, ada 3 ‘kapan’ yang buat saya horor sehoror-horornya.

“Kapan lulus!” – kalimat ini udah bukan pertanyaan lagi, udah jadi perintah sih sebenernya. Jadi, jawaban yang bakal dikasih pun harus berbobot dan bikin puas orang-orang. Buat saya ini tekanan sih, satu sisi siapa yang mau lulus? Kuliah lama, penuh perjuangan karena harus bener-bener belajar dari nol, proses yang gak mudah buat saya. Sisi lainnya, jiwa pemberontak saya justru bikin saya yakin buat lepasin ini. Lepasin apa yang mereka ‘bebankan’ untuk saya lakukan, tekanan besar namun tanpa pengertian terhadap situasi. Sisi egois dan pemberontak saya inilah yang bikin saya lebih milih untuk ke arah luar kota dan duduk di lapangan dekat pangkalan udara TNI-AU *yang jaraknya 30 kilometer dari rumah.*

Bukan karena saya gak mau lulus, gila aja kuliah bertahun-tahun tapi kemudian gak mau lulus. Saya hanya bermasalah dengan jurusan dan sesi perkuliahan yang (menurut saya) 90% arus komunikasinya gagal, mahasiswa datang-duduk-dikasih tugas-ujian-dapat nilai-selesai. Lalu apa bedanya dengan siswa sekolah yang juga ngelakuin hal yang sama? Bukankah mahasiswa harusnya mengerjakan atau mendapat pendidikan yang lebih baik karena kata ‘maha’-nya tadi? Lagi lagi saya hanya bisa melakukan dengan cara saya sendiri, cara yang orang lain bilang nyeleneh dan bodoh. Silahkan bilang saya bodoh atau apapun itu, tapi saya tetap dengan cara saya sendiri.

Kenapa saya bilang perkuliahan gagal dalam komunikasi antara mahasiswa-dosen? Karena kebanyakan masih textbook. Jarang saya temukan dosen-dosen yang berani keluar dari zona aman untuk sekadar memberikan pelajaran yang sebenarnya, bukan melulu ‘copy-paste’ dari literatur yang sudah ada dan bahkan kadang berumur tua. IMHO, tuanya literatur yang meskipun sudah direvisi berkali-kali pun tetap gak bisa dijadikan panduan belajar loh. Dari segi contoh, penerapan, bahkan teori dan pemilihan kata pun gak jarang udah ketinggalan jaman (ini pengalaman saya yang disuruh pakai buku pegangan yang edisinya direvisi puluhan kali, dengan pilihan kata, contoh, dan penerapan yang sulit dimengerti, pusing, asli!).

No, bukannya saya mau bilang dosennya yang salah. Kami sebagai mahasiswa juga salah, karena gak mampu membangun komunikasi dan berteman dengan dosen kami sendiri. Banyak kok teman-teman saya yang akhirnya berteman baik dengan para dosen karena ikut organisasi, tapi di dalam kelas hal yang sama tetap berlaku, toh? Kami, mahasiswa yang terlalu takut memulai untuk berteman baik dengan dosennya, pun karena dosennya sering memperlihatkan ‘kesangaran’ dan beberapa memang semi-diktator ketika mengajar.

*bisa dipastikan, postingan kali ini gak bakal saya share di facebook, banyak dosen πŸ˜€ takutnya salah persepsi ketika baca postingan yang ini.*

Saya tetap menghormati mereka, bahkan kagum dengan bagaimana cara mereka bisa menjadi dosen dan mendidik ribuan mahasiswa yang isi otaknya beragam, ada yang nyeleneh dan kacau balau tak karuan (salah satunya saya). Menjadi dosen bukan perkara mudah, bukan? Kami mencoba memahaminya. Tapi, hmmm, anggaplah ini sebagai permintaan kecil dari mahasiswi yang belum lulus-lulus dari tahun kemaren. Bisakah kami kuliah dengan suasana yang lebih akrab dan tidak melulu textbook? Kami juga ingin melakukan penelitian dengan mengamati aktivitas manusia secara langsung. Bukan hanya tahu dan membayangkannya dari susunan kata per kata yang seringkali memakai contoh perusahaan asing yang tak jarang baru kami dengar pertama kali namanya. Juga susunan kalimat yang seringkali harus membuat dahi berkerut memahaminya sebelum bisa dimengerti.

Saya sendiri, jujur, gak bisa kalau harus melulu textbook. Tipe audio-visual macam saya kalau gak liat langsung, hampir bisa dipastikan saya gak paham. Learning by seeing and hearing. Itu saya. Learning by doing juga kadang, tapi iitu kalau sudah ngeliat dan dengar.

Eh, itu bukan masalah utama. Yang jadi masalah justru ‘serangan’ keluarga yang terus-terusan bilang “harus lulus!”. Ketemu tante A di kawinan sepupu C, ketemu om B di selamatan rumahnya kakek D. Semua pertanyaan mereka sama, “kapan lulus?” (plus juga rencana-rencana imajiner tentang saya nantinya akan kerja jadi PNS di pemerintahan manaaaaaa gitu). Hapal banget lah saya :D.

Tapi, saya lebih tertekan kalau orangtua dan kakak-kakak yang nanya begitu. Dengan tatapan menghakimi yang kadang bikin risih. Juga kecewa. Kenapa? Entahlah. Bagaimana rasanya ketika orang-orang yang hampir 24 jam ada bersamamu, melihat perjuangan dan usahamu untuk bisa menyelesaikan impian mereka, tak jarang juga harus mengalah ketika ada hal darurat yang terjadi, yang hampir seluruh waktu hanya untuk keluarga, bahkan untuk diri sendiri pun seringkali harus curi-curi waktu, kemudian disalahkan dengan kata “malas” ketika kuliahnya belum selesai? It’s hurts, really. Seolah dengan semua hal yang dibebankan tadi, saya juga tetap harus menyelesaikan semuanya dalam sekejap. Am I robot? Or an angel? Frustating me, sometimes.

Kalau capeknya udah capai tahap curhat begini, saya cuma bisa bilang, “Ya Allah, jangan sampai niat saya jadi gak ikhlas dan ujungnya jadi orang jahat.” Kalau lebih parah dan hampir meledak, saya lebih milih kabur sih, gak peduli sekitar. Toh saya cuma kabur beberapa jam doang. Ke tempat dimana gak ada orang yang kenal saya, juga gak ada yang mau ngajak kenalan (karena gak ada orang selain saya :D).

Jadi, tolonglah, jangan lagi tanya soal kapan lulus ini. Saya lebih dari sekadar frustasi ditanya begini mulu, dan terakhir pertanyaan itu cuma saya diemin dan pura-pura gak dengar. Toh kalau dijawab takutnya ntar gak sesuai sama kenyataan kan? *maap Bah, maap anaknya belum bisa lulus sesuai harapan, maap kalau anaknya gak mau jadi sarjana Akuntansi :(*.

Saya cukup bahagia bahkan lebih dari bahagia dengan kerjaan dan waktu yang saya miliki sekarang. Kerjaan yang saya cari dan dapatkan sendiri, hasil perjuangan saya, mendobrak dogma bahwa untuk kerja harus lulus dan jadi sarjana dulu. Itu bukan saya. Ini impian saya, impian yang justru saya dapatkan bukan dari bangku kuliah. Impian yang terwujud dan memberikan saya pengalaman yang tak akan pernah bisa saya dapatkan jika hanya bekerja di kantor dan menjadi karyawan normal.

Namun kadang manusia terlalu sulit untuk mengerti dan memahami. Apa yang dipikirkan orang banyak seringkali jadi ‘hukum’ yang harus dipatuhi. Seolah tak ada tempat untuk hal baru dan perjuangan dengan cara yang berbeda.

Selamat hari Sabtu, selamat berlibur.

xoxo – E.R

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s