Kabut Asap Bukanlah Bencana

Gambar ini berasal dari salah satu akun Facebook seorang musisi yang peduli terhadap masalah kemanusiaan.

image

Kabut asap yang kami alami tiap tahun ini memang bukan bencana, tapi rutinitas. Ya, ini rutinitas orang-orang yang merasa memiliki Bumi dan merasa berhak untuk memperlakukan semau hatinya.

Punya lahan 1-2 hektare (bahkan mungkin kurang), lalu membakar lahan (katanya) untuk membuatnya lebih subur. Lahan-lahan kering itu dibakar, asapnya dibiarkan menyebar, juga apinya yang ikut membara di lahan-lahan lainnya. Itu yang kata mereka menyuburkan lahan.

Tapi mengapa terjadi setiap tahun? Pun di lahan yang sama? Bukankah lahannya telah subur? Bukankah jika telah subur, maka tak perlu lagi dibakar tiap tahun? Apa mungkin karena alasan ekonomis, bahwa membakar lahan lebih murah dibandingkan jika harus memakai alat untuk membersihkan lahan yang akan digunakan? Atau memang ada unsur kesengajaan dengan niat-niat tertentu? Wallahua’lam.

Setiap tahun. Selama 2-3 bulan, kami harus bernafas ala kadarnya. Bahkan juga melihat seadanya. Ini di kota, di ibukota provinsi. Bagaimana dengan di pelosok? Yang notabene lebih dekat jaraknya dengan titik api, yang bahkan satu langkah di depannya saja tak terlihat.

Serba ala kadarnya. Serba seadanya. Memakai masker pun seolah tak ada guna, karena pekatnya asap telah merasuk sampai paru-paru. Melihat dengan kacamata, agar tak perih saat memandang. Rambut, badan, pakaian yang sedang dijemur pun ikut beraroma asap. Pekat. Menyesakkan dada.

Setiap tahunnya jadi kepala berita di koran lokal, bahkan nasional, tak jarang juga mata dunia terperanjat ketika (yang katanya) BENCANA ini kembali terjadi. Pun, setiap tahun pula kita menyaksikan tumbangnya puluhan hingga ratusan manusia akibat asap yang makin pekat. Setiap tahun pemberitaan bertajuk “Kabut Asap Kembali Terjadi di Sumatera dan Kalimantan” seolah jadi kebiasaan. Bahasan yang terus berulang, di koran, radio, bahkan televisi.

Memang tak semua asap muncul karena lahan sengaja dibakar. Ada yang memang karena keringnya lahan beradu dengan teriknya matahari, lalu muncullah kobaran api. Tetapi, bahkan kita sadari sendiri mayoritas lahan yang terbakar adalah kepunyaan orang (juga perusahaan) yang jumlahnya lebih besar dibandingkan lahan kering yang benar-benar kosong tanpa pemilik.

Ini sudah bukan lagi bencana. Karena bencana bukan dari perbuatan manusia. Kebakaran lahan dan kabut asap bukan fenomena alamiah. 95% adalah kesengajaan. Sengaja membakar untuk membuka lahan baru. Sadar ataupun tidak. Paham ataupun tidak.

Kami, yang tiap tahun jadi korban asap hanya bisa menunggu, bagaimana caranya menghentikan kabut asap? Juga menghentikan kebakaran lahannya.
Kami, yang tiap tahun harus bergelut di dalam asap yang menyesakkan paru-paru, hanya bisa berharap ini adalah tahun terakhir hidung kami mencium asap kebakaran lahan.
Kami, yang tiap tahun berpikir keras menjaga agar balita, anak-anak, juga manula yang kesehatannya rawan tak menjadi korban asap. Juga menjaga diri kami sendiri.

Namun, sekuat apapun tetap semuanya akan sia-sia, jika kesengajaan terus terjadi. Ini kejahatan, bukan bencana.

Terimakasih kepada semua pihak yang terus berupaya membebaskan kami dari kurungan asap.
Barisan Pemadam Kebakaran, BPBN & BPBD di tiap wilayah kebakaran lahan, TNI, Polri, Pemprov, Pemko, Pemda, Kementerian, juga Presiden RI, masyarakat, pemilik lahan yang sadar untuk tidak ikut membakar, kepada komunitas dan orang-orang yang membagikan masker untuk pengendara motor dan pejalan kaki, dokter dan perawat, guru-guru yang harus merelakan ilmunya tak bisa dibagi dengan sempurna karena anak murid terpaksa diliburkan, semua yang berusaha menghentikan asap. Baik dengan turun ke lapangan, ataupun menghimpun dukungan di jejaring. Juga segala doa agar hujan dapat turun dan kabut asap hilang sesegera mungkin.

Saya tak ingin berdoa agar bencana ini segera berlalu. Saya hanya dapat berdoa, semoga para pelaku pembakaran dapat hukuman sepantasnya, tahun depan tak ada lagi yang membakar lahan, kesengajaan ini tak terulang, dan tahun depan hingga seterusnya nafas ini tak lagi sesak karena asap.

Aamiin ya rabbal alamin.

Banjarmasin, 06 Oktober 2015.
Masih diselimuti asap yang semakin pekat jelang malam.

Advertisements

2 Replies to “Kabut Asap Bukanlah Bencana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s