Katanya #NegaraLagiNgelawak

06.17 WITA

Kabut asap mulai tebal sejak tengah malam. Lebih parah dari hari-hari sebelumnya. Hampir tak ada udara bersih yang dalam beberapa bulan ini terkadang dapat kami hirup ketika subuh.

image

Jarak pandang yang sangat pendek. 100 meter pun tak sampai. Bahkan di dalam rumah pun kabut asap terlihat seolah menari dan membuat nafas tercekat. Terlalu pekat untuk bernafas.

Ini di kota. Di tengah kota. Bagaimana dengan di kota-kota yang menurut headline berita langitnya sudah menguning saking tebalnya asap?

Korban-korban sudah mulai berjatuhan. Yang sehat mulai sakit. Yang sakit menjadi tak karuan kondisinya. Apa yang seharusnya kami lakukan? Ketika lembaran masker rasanya sudah tak bisa kami jadikan tameng untuk bernafas. Ketika udara bersih terasa sulit untuk didapatkan.

Mungkin hati sudah terlalu kesal hingga mampu bersu’udzon dalam hati : “apa yang sebenarnya telah dilakukan untuk mengembalikan nafas kami?”. Ya, akhirnya pemikiran seperti itu yang kami lontarkan. Karena hati rasanya sudah kebal dengan pernyataan “akan kita tanggulangi segera”.

Rasanya tahun-tahun sebelumnya tak separah ini. Dimana ketika asap tebal, lama kelamaan akan menipis dan kami bisa bernafas lega lagi. Tapi tahun ini mungkin berbeda. Ada kejutan di dalamnya. Asap yang muncul dengan tipis kemudian menebal di hari-hari berikutnya. Siklus sudah berganti? Atau memang tak bisa ditanggulangi?

Bagaimana dengan pesawat-pesawat luar negeri yang datang untuk membantu? Oh ya, saya lupa, daerah kami tak mendapatkannya, karena berdasarkan statement di surat kabar, kami dianggap bisa mengatasi masalah ini sendirian, tanpa bantuan asing.

Katakanlah saya kesal, sangat kesal. Karena masalah asap seolah jadi keharusan untuk kami hirup tiap tahunnya. Terlebih ketika ribuan personel justru lebih diarahkan untuk pengamanan final sepakbola daripada mengatasi asap. Oh tidak, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Tapi jika boleh berpendapat, mengapa personel sebanyak itu tidak diproyeksikan untuk mengatasi masalah yang berbulan-bulan terjadi, ketimbang menjaga suporter bola yang katanya terancam anarkis? Sakit rasanya melihat hebohnya pengamanan sepakbola justru lebih “mantap” dan terarah dibanding penanggulangan kabut asap ini. Oke, sampai pada kalimat ini saya terlalu kesal sepertinya.

Kami tak mau apa-apa, ganti rugi atau ganti untung, biaya pengobatan, dan apalah itu namanya. Yang kami inginkan hanya satu, kabut asap ini cepat diatasi. Kami hanya ingin bernafas dengan lega lagi, tak lebih. Kami ingin adik-anak-keponakan-tetangga yang berusia balita bisa kembali bermain dengan nyaman tanpa harus takut sakit, anak-anak sekolah yang selama ini diliburkan bisa sekolah dengan normal lagi. Hanya itu. Terlalu mahalkah permohonan kami? Apa yang harus kami lakukan agar permohonan ini segera diwujudkan?

Tunggu, kami tidak meminta hujan turun dengan instan, karena hujan hanya kuasa Allah, sebanyak apapun garam yang ditabur di atas awan. Kami hanya meminta sikap nyata, bukan gembar-gembor safari ke sana-sini namun tak ada kelanjutannya. Hanya ucapan namun tak ada perbuatan. Sedih rasanya ketika melewati tempat yang pernah dikunjungi petinggi, kini bahkan tak ada orang satupun di lahan yang hingga detik ini masih membara, berasap. Lalu apa? Kunjungan hanya sekadar seremoni belaka yang akan terabadikan dalam potret yang nantinya dipajang di galeri?

Semoga kabut asap segera diatasi. Semoga udara segar bisa kami hirup kembali. Semoga penanggulangan asap yang seolah mandeg ini bukan karena #NegaraLagiNgelawak, seperti hashtag yang ramai dari semalam. Sesungguhnya, kami yang terkena kabut asap ini siaga berapa? Kalau siaga satu, apa mungkin kalah dengan euforia final sepakbola semalam?

Banjarmasin, 19 Oktober 2015.
Dengan hidung berbalut masker dan kabut asap yang memenuhi seluruh ruangan di rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s