Memori Lelaki Kesayangan

Jaga Ibu dan adikmu, jaga rumah kita. Kamu penjaga buat mereka. Mereka tanggungjawabmu.
(Abah, 3 days before gone).

image

It’s been a 30 days without you, Bah.

Tak mudah. Tak ada yang benar-benar kuat. Bahkan, aku yang kau tugasi jadi penjaga mereka, hingga saat ini masih kerap meneteskan air mata, mengenangmu.

Tapi…
Kau tahu? Aku tak pernah meneteskan airmata di depan mereka. Sekuat tenaga airmata yang siap menggenang di pelupuk mata kutahan. Tak kubiarkan mereka yang masih rapuh sepeninggalmu, ikut menangis bersamaku. Tak kubiarkan mereka bersedih lagi. Kutepati janjiku, Bah.

Abah…
Lelaki kesayanganku.
Aku rindu. Anakmu ini, yang seringkali jadi tukang ojekmu, yang membawamu kemana pun kau ingin menuju, rindu dengan sosokmu.
Seluruh penjuru rumah, masih ada wangi khasmu, Bah. Tak hilang, seberapa seringnya angin berhembus.
Baju-bajumu, bahkan sisir dan dompetmu yang saat ini kusimpan, masih melekat wangimu yang khas. Yang selalu kurindukan, bahkan sejak sosokmu masih nyata di depan mataku.
Yang membuatku selalu ingin pulang ke rumah, bertemu denganmu, dan mengajakmu berbicara banyak hal. Kebiasaan kita yang kau tanamkan, sejak usiaku mulai beranjak dewasa. Privilege yang hanya aku yang mendapatkannya, diantara putri-putrimu yang lain. Oh tidak, aku tidak pernah menobatkan diri sebagai kesayanganmu. Karena aku tahu, kasih sayangmu selalu seadil mungkin untuk keempat putrimu ini. Tapi, karena aku yang memiliki waktu lebih banyak, untuk dapat menjadi teman bicaramu.

Bah, aku ingat hal-hal yang selalu jadi bahan obrolan kita. Sore hari. Sambil memijat bahu atau sekadar duduk bersampingan. Kau duduk di kursi rotan favoritmu (yang beberapa bulan terakhir tak lagi dapat kau gunakan dan berganti dengan sofa yang lebih tinggi dan nyaman), dan aku duduk di lantai, tepat di depan kipas angin. Dengan tayangan televisi tentang berita sore atau sinetron komedi yang jadi tontonanmu tiap sore. Kita mengobrol tentang banyak hal, dari isu politik, kelakuan para politisi yang kekanakan, bahkan beberapa episode sinetron komedi yang terlewatkan olehmu.

Bah…
Ternyata untuk menepati janji agar tidak menangis lagi, itu susah. Di hari pertama kepergianmu, aku berusaha keras menahan airmata. Tahukah remuknya hatiku saat di kamar rumah sakit, aku masih memegang tanganmu yang masih hangat, namun tanpa tanda kehidupan. Saat itu aku sadar nyawamu sudah naik keharibaan-Nya. Takjub. Tapi melihat Ibu berdiri antara kagum, sedih, dan tak percaya, dengan tegar kuucapkan kalau kau sudah ‘hilang’. Menarik nafas panjang dan masuk kamar mandi, menunggu perawat yang dipanggil datang. Aku cuci muka sekadarnya, kembali mendatangimu, memeriksa denyut nadi dan nafasmu, berharap yang kulakukan tadi hanya mimpi. Namun yang kudapat tetap sama. Kau telah berpulang. Begitu pun ketika dokter jaga datang memeriksa. Hasilnya sama. Ragamu yang seolah sedang tidur itu, ternyata memang tidur. Untuk selamanya. Di hari dimana seharusnya kita pulang ke rumah, karena kondisimu yang dinyatakan membaik. Ya Allah…

Aku masih tak menangis, bagaimana bisa aku tega menyakitimu dengan airmataku? Hatiku tersayat melihat airmata mereka menetes, sedangkan aku berdiri sekeras karang. Menguatkan hati. Sadar bahwa detik itu juga, aku harus mengurus banyak hal. Seperti yang almarhumah Nenek bilang, kalau aku adalah anak lelakimu, anak perempuan yang dididik selayaknya lelaki. Yang harus sigap dan bisa bersikap kuat, berani mengurus segala sesuatunya. Benar saja, saat itu juga kami berdua, aku dan ka Irma pulang mengurus pemakaman dan menyiapkan segala keperluan.

Airmataku jatuh di pelukan seorang kerabat, yang sudah kau anggap anak sendiri. Sadar bahwa begitu lelahnya menahan kesedihan sendirian. Sadar bahwa manusia memang membutuhkan sandaran dan pelukan sebagai penenang.

Pemakamanmu, yang berdampingan dengan almarhumah Nenek dan kedua saudaramu. Yang dihadiri banyak keluarga besar kita, mengiringimu dengan doa dan airmata. Langkah kakiku tak sanggup meninggalkanmu ketika jasadmu telah menyatu dengan tanah. Aku tak ingin pulang. Ibu hanya diam dan memegang erat tanganku. Kesedihannya begitu kentara. Wanitamu, kekasih yang setia mendampingimu saat sehat bahkan sakit, hingga saat-saat terakhirmu. Yang tak pernah selangkah pun jauh dari pandanganmu. Dia kelihatan rapuh, kehilangan imam yang berpuluh tahun didampinginya, tak terpisahkan. Aku saja yang baru 24 tahun bersamamu sebegitu rapuhnya, bagaimana dengan dia? Hancur berkeping-keping hatinya. Tapi tak pernah kulihat dia meratap. Ya, dia yang mengajariku, bahwa meratap hanya akan menyakiti kepergian jiwa menuju Sang Pemilik. Ikhlaskan, karena memang sudah waktunya pergi.

Berat kakiku meninggalkanmu di pemakamam. Karena seumur hidupku, kita tak pernah sejauh ini. Apalagi setelah tubuhmu mulai sakit-sakitan, kami tak pernah pergi jauh, selalu ada di dekatmu. Ah, betapa rindunya anakmu ini, Bah.

Begitu pun ketika hari ketiga kepergianmu. Airmataku seketika mengalir, di depan monitor kantor. Ketika tiba-tiba fotomu, di dompetmu yang kusimpan sebagai kenangan, jatuh. Segala sesak dan sedih yang kutahan beberapa hari itu, rasanya luruh. Meluntur dengan jatuhnya air mata di sepanjang pipi. Aku tak terisak, tak ingin mereka menyadari bahwa aku menangisimu.

Abah… Kami masih sangat merindukanmu.
Hampa rasanya rumah yang kau bangun dengan keringatmu sendiri ini, seolah kehilangan nyawanya. Seolah sadar pemiliknya telah tiada. Malam-malam kami masih kami hiasi dengan cerita-cerita tentangmu, mengenang kelucuan dan cerita humormu. Mengingat bagaimana ciri khasmu ketika marah. Semua tentangmu tak pernah habis. Rindu.

Kupenuhi janjiku, Bah. Menjaga kekasihmu, dengan baik. Tak akan kubiarkan airmatanya berjatuhan lagi. Seperti yang kau minta untuk kupenuhi. Tak kubiarkan tangan-tangan jahat menyentuhnya. Menjadi tameng pelindung bagi Ibu dan anak bungsumu itu. Menjaga apa yang kau amanatkan untuk kujaga. Semuanya.

Kami merindukan dan mencintaimu, selalu.
Lelaki kesayangan, my first love.

Banjarmasin, 09 Februari 2016.

In memoriam, Abah, H.M Arifin Mas’abie.
09 September 1947 – 09 Januari 2016.

From heart, with love.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s