(Mencoba) Kembali

Jemari saya tampaknya masih berontak. Bahkan untuk kembali mengetikkan kalimat per kalimat pun tak pernah berhasil. Padahal sudah beberapa bulan berlalu, rupanya semangatnya untuk kembali menari di papan ketik masih berserakan.

IMG_20160813_130755_1

Mereka bilang, saya kehilangan muse – inspirasi – penyemangat untuk menulis dan kembali merangkai kata demi kata. Menulis apa yang ingin saya tulis, merangkai apa yang ingin saya rangkai. Satu-satunya yang berhasil saya tulis dan ketik dalam setengah tahun terakhir, hanyalah berita-berita hasil liputan. Itu gampang, karena saya punya suara narasumber dan melihat kejadian per kejadian di hadapan mata.

Tapi, untuk menulis dan merangkai kalimat lagi, saya udah coba ya, dan hasilnya? Gagal total.

Oh, jangan tanya apa saja cara yang saya lakukan untuk bisa kembali menulis. Dari ‘bertapa’ di kamar, merenung di depan monitor semalaman, kabur ke kedai kopi, sampai nekat pergi sendirian ke luar kota sendirian. Nyatanya, yang namanya inspirasi, keinginan dan kekuatan saya buat menulis masih belum kembali.

Tanpa sadar, meninggalnya Abah juga turut menghilangkan sebagian dari semangat saya. Karena beliau yang menjadi motivasi saya, untuk menunjukkan bahwa dengan menulis, anaknya lebih bahagia. Bahwa dengan menulis, anaknya menggenapkan cita-citanya. Bahwa dengan menulis, anaknya akan lebih membuatnya bangga, daripada jadi akuntan.

7 bulan ternyata bukan waktu sebentar. Ya, cukuplah untuk membuat saya kagok untuk kembali merangkai kata. Banyak bibit tulisan yang harus saya diamkan karena ini. Puluhan draft di wordpress, notes di facebook, file word di harddisk yang sampai sekarang masih berusaha dilanjutkan. Dilanjutkan. Dalam arti sebenarnya. Paling banyak lima kalimat, selama setengah hari.

Saya ingat, perdebatan kecil kami, saat saya memutuskan untuk jadi seorang jurnalis. Butuh waktu lama meyakinkannya, juga butuh kerja keras berbulan-bulan untuk membuktikan bahwa saya mencintai profesi ini. Bahwa profesi ini tak semengerikan dan seburuk persepsi yang selama ini ditakutkannya. Abah memang sempat antipati dengan profesi ini, mungkin sewaktu masih bekerja di pemerintahan, banyak jurnalis abal-abal yang bukannya mencari berita tapi justru mencari uang. Yang dia tak pernah tahu, dan yang saya tak pernah sempat ceritakan, adalah kenyataan bahwa putrinya ini sudah menjadi jurnalis jauh sebelum dia meminta izin.

Izin yang saya ajukan adalah untuk menjadi jurnalis di radio swasta. Abah hanya tak tahu, bahwa beberapa bulan sebelumnya saya sudah menjadi jurnalis freelance di sebuah tabloid di luar kota. Saat itu gaji saya belum seberapa, karena status freelance, sedangkan saya tahu, beliau ingin saya bekerja tetap. Jadilah akhirnya untuk bisa liputan, harus lewat jalan belakang. Bukan berbohong. Tapi sekalian. Sekalian jalan, sekalian liputan. Dengan tas ransel yang biasanya dibawa untuk siaran, di dalamnya ada laptop dan kamera. Tak jarang saya juga harus keluar larut malam, karena topik tulisan yang ingin saya angkat, juga narasumbernya, baru dapat ditemui ketika malam tiba.

Beruntunglah, karena tabloidnya terbit dua mingguan. Saya jadi punya waktu cukup panjang untuk menyelesaikan tugas liputan. Seminggu libur, seminggu bekerja. Cukup fair bukan? Dengan gaji yang lumayan, untuk seorang pekerja bebas seperti saya. Cukuplah untuk memperlihatkan kepada beliau, bahwa semua yang diberikannya untuk mendidik saya sedari kecil sudah lengkap, bahwa saya bisa bertahan dan berdiri dengan kaki saya sendiri. Sehingga dia tak perlu khawatir, apabila saya harus berjuang sendirian, tanpa bimbingannya lagi.

Ah, rasanya rindu itu tak pernah hilang. Makin lama makin menggenang. Berbulan-bulan saya mencari tahu, apa yang membuat saya berhenti menulis? Apa yang menjadi penyebab hilangnya kekuatan dan motivasi saya untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya, selain ingin menjadi seorang jurnalis? Rupanya sosoknya. Sosok seorang ayah yang protektif dan selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya.

Pencarian saya terhenti. Tersadar di beberapa hari menjelang tanggal lahir Abah. 9 September. Apa yang saya cari sebenarnya ini. Apa yang telah hilang dari saya dikarenakan ini. Bodohnya saya, bagaimana bisa membiarkan tangan dan jemari tak lagi menulis? Biarpun dia sudah tak bisa mendampingi, bukankah dia akan tetap bangga jika apa yang saya cita-citakan terwujud?

Apalagi untuk dapat memenuhi satu per satu cita-cita, saya harus berhadapan dengan setumpuk ketidakpercayaan dari banyak orang. Bahkan untuk bisa bertahan selepas kepergiannya, saya masih harus menghadapi banyak tuduhan. Bahkan untuk bisa menepati janji menjadi penjaga orang-orang yang dicintainya, saya masih harus menghadapi banyak pasang mata yang menghakimi. Bagaimana mungkin dengan kehilangan, saya bisa melupakan cita-cita dan tujuan awal saya? Bukankah sudah seharusnya kehilangan menjadi titik balik dari hidup manusia?

Apa yang saya tahu dan alami. Apa yang tidak mereka tahu dan pernah alami.

Karena untuk menepati janji, hati tak perlu bersembunyi. Karena untuk mewujudkan cita-cita, diri tak perlu malu. Saya tak perlu lagi takut untuk menulis. Coba lihat? Sudah berapa karakter yang saya ketik disini? Buat saya ini rekor. Terutama setelah 7 bulan sulit memulai menulis dan akhirnya yang saya tulis dan posting rasanya bukan ‘saya banget’. Kadang mau ketawa sendiri bacain ulang postingan selama beberapa bulan ini. Gak jarang juga sih, postingannya saya komen dalam hati : “malu-maluin banget ih” :-D.

Sulit memang, perlu waktu. Tapi tak ada salahnya mencoba kembali kan? Perlahan. Sembari mengumpulkan lagi ‘nyawa’ dan ‘jiwa’ yang sempat hilang.

Abah, terima kasih selalu jadi lelaki yang tak pernah menyakiti. Terima kasih sudah menjadi guru yang terbaik, guru kehidupan. Maafkan jika putrimu yang satu ini seringkali berhadapan pendapat, maafkan jika putrimu ini memilih jalan yang berbeda dari keinginanmu.

Kami merindukanmu.

Putrimu merindukanmu.

-dari meja kubikel kantor, pukul 6:31 PM-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s