Kabut Kali Ini

IMG_20160903_080351_1
Kantor Radio Smart FM 101,1 Banjarmasin – Lantai 5 Gedung H. Djok Mentaya

Langit kota berkabut pagi ini.
Mungkin efek hujan sepanjang siang yang berlanjut pada sore dan malam harinya.
Menyisakan ruang sunyi di sela jeda hati.

Foto ini saya ambil dari jendela kantor, yang menghadap ke timur, agak geser dikit, pukul 8 pagi. Iya, saya hobi datang lebih pagi ke kantor. Biar bisa menyempatkan melihat matahari pagi dari balik jendela-jendela di kantor. Atau sekadar mencari inspirasi untuk menulis, menuangkan apa yang ingin saya tuangkan. Seperti hari ini.

Dimana seharusnya jam kerja memang dimulai jam 9 pagi. Tapi, saya lebih memilih untuk datang lebih pagi. Ah, bukan tentang rajin-gak rajin. Saya hanya suka menikmati beberapa puluh menit waktu pagi yang saya miliki, untuk sedikit terbebas dari pekerjaan. Bayangkan jika saya datang jam 9 kurang 10 menit. Sudah pernah nyobain sih, dan hasilnya kalang kabut :D. Kapok!.

Tentang kabut.
Saya suka aroma embun yang menyelimutinya.
Saya seperti kecintaan saya pada baru rumput atau tanah kering, yang kerap tercium saat hujan turun di penghujung musim panas. Petrichor.Rasanya menenangkan. Membiarkan saya terbuai dan terkesima dengan aroma yang ditimbulkan.
Terkadang membiarkan memori masa lalu kembali bermunculan.

Kabut menjadi alasan utama saya pagi tadi.
Menikmati perjalanan menuju kantor yang biasanya sarat debu, tapi kali ini berhembus kabut tipis serupa tirai.
Sampai di kantor kami di lantai 5, langsung menuju jendela.

Duh, kesannya udik bener ya :D. Tapi ada sensasi berbeda dari menikmati pandangan langit dari lantai atas. Lebih lapang. Lebih indah. Lebih rindu.
Lalu ada seorang teman yang bertanya, “memangnya kamu suka pagi?”

Tentu. Saya menyukai pagi. Meski hati saya sepenuhnya untuk senja. Ya, ada lah sedikit rasa jatuh cinta, namun tak secandu senja yang saya kejar, hanya untuk memandanginya pulang.

Tentang kabut pagi ini.
Rasanya seperti kembali ke 4 tahun yang lalu. Di periode yang hampir sama. Penghujung kemarau.

Dimana saya tak sengaja bersahabat dengan rumput di lapangan dekat bandara. Lapangan yang menjadi tumpahan semua isi hati melalui kata per kata yang saya alihkan dari kepala. Tempat dimana saya yakin tak ada yang kenal, dan saya bisa menjadi apa yang saya inginkan, bukan seperti apa yang mereka inginkan.

Kabut yang hampir sama. Yang membuat saya betah. Rela menempuh jarak puluhan kilometer, di saat manusia lainnya memilih untuk bersembunyi di balik selimutnya. Kabut yang ternyata sedingin es, sempat membuat tangan hampir beku sepanjang perjalanan.

Tapi itu dulu… 4 tahun yang lalu.
Sebelum semuanya berubah.
Sebelum saya berubah.

-di balik kubikel-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s