Muse – Sebuah Pencarian

Postingan tanpa judul ini saya dedikasikan kepada… siapa aja yang mau didedikasi sama saya :D.

Seminggu terakhir, saya mengulang baca beberapa artikel yang berhasil saya posting dalam satu tahun terakhir. Hasilnya? Tanpa rasa. Hambar. Seolah yang saya posting hanya susunan kata dan kalimat tak bernyawa.

img20161222110432

Satu tahun terakhir, yang saya tulis lebih banyak adalah berita. Yang memang jadi pekerjaan. Namun untuk tulisan lain, artikel blog dan lanjutan beberapa cerita yang saya tulis, rasanya sudah lama ide dan hasratnya menguap entah kemana. Ada muse yang hilang, yang hingga saat ini belum berhasil saya dapatkan lagi.

Beberapa kali datang ke tempat-tempat yang saya pikir dapat membantu mengembalikan lagi inspirasi yang hilang. Nyatanya, hingga pergi ke luar kota, ke pantai yang saya harapkan dapat memicu semangat menulis, hasilnya tetap nihil.Bagi sebagian orang, mungkin berpikir apa sulitnya menulis sebuah artikel? Sebuah cerita yang saya sendiri yang mengendalikan jalan ceritanya. Buat saya, tidak mudah. Bukan cuma ketersediaan ponsel pintar ataupun laptop yang digunakan untuk menulis. Bukan pula munculnya bahan atau tokoh-tokoh yang ingin saya tuangkan dalam tulisan. Tapi lebih pada seberapa kuat hasrat yang dimiliki untuk menyelesaikan, atau sekadar menambahkan paragraf per paragraf, kalimat per kalimat, dan kata per kata, untuk menyambungkan cerita.

Besides, saya tipe manusia yang moody dalam urusan penulisan di luar berita :D. Susah memang, ini faktor genetik sepertinya, karena Abah rahimahullah juga sama-sama perfeksionis kalau mengerjakan sesuatu. Beliau lebih parah tapi, anaknya ini masih ecek-ecek :D.

Tapi, beberapa teman bilang, itu karena saya belum jatuh cinta lagi. Halah, mereka kayak tahu aja saya lagi jatuh cinta atau patah hati :D. Karena katanya, ini kata mereka loh ya, saya justru kreatif di dua situasi, pas jatuh cinta, sama pas patah hati. Menyebalkan memang, tapi kok ya ada benarnya juga. Eh tapi, saya punya jawaban logisnya.

Jatuh cinta ataupun patah hati itu termasuk situasi yang spesial, apapun alasannya. Karena tidak setiap hari dirasakan. Momen-momen seperti itu semacam pemicu adrenalin atau semangat (bahkan hasrat) untuk menyelesaikan tulisan. Malam selarut apapun, pasti saya jabanin kalau hasrat itu memang ada. Sebaliknya, kalau sedang lenyap seperti sekarang, justru bingung apa yang harus dilakukan. Mau tidur cepat kok ya gagal terus, mau tidur larut sampai ngantuk sendiri juga apa yang dikerjakan. Sedangkan rasanya sudah semua buku-buku di rumah saya baca. Kecuali KUHAP, KUHP, dan buku-buku jaman Abah masih kuliah dulu :D.

Anyway, muse atau inspirasi sebenarnya bukan segalanya. Menulislah apapun yang ingin kau tulis, selama tidak ditujukan untuk menyakiti siapapun. Utarakan apa yang ingin kau sampaikan, selama bukan hal yang melanggar hukum atau aturan yang berlaku. Jangan hanya terbatas pada ide atau ketakutan-ketakutan, yang seringkali justru jadi penghalang.

Selamat menikmati sore hari, di bilik kubikel yang riuh dan hore :D. Dari saya, yang masih mencoba mengembalikan hasrat menulis dan perlahan mencoba mencari yang hilang itu, dengan kembali menulis apapun yang ingin ditulis.

-xoxo-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s