Insomnus

Can’t sleep? | Yes.

Because of coffee? | No.

So? | Actually, I can’t explain why.

Halaman 11 “Divortiare” dari Ika Natassa

Apakah insomnia harus ada sebab-akibat? Saya sendiri justru bingung sebabnya apa, atau akibat dari apa sebenarnya.

Karena kebanyakan minum kopi? Hmm, selama satu minggu terakhir justru baru malam ini minum kopi lagi. Sedangkan insomnianya berjalan sejak beberapa hari terakhir.

Kebanyakan tidur siang? Nah ini sepertinya juga tak masuk hitungan. Karena tidur siang biasanya ketika libur, kalau jam kerja paling tidur ayam di kubikel, sekadar istirahat. Maybe for 15 or 45 minutes, tak lebih.

Terlalu lelah? Salah satu yang masuk akal. Tapi hanya berlaku jika saya memang banyak aktivitas di luar. Sedangkan selama 25 hari terakhir, justru giliran ‘jaga kandang’, bebas dari liputan tengah hari bolong panas-panasan. Kalau liputan pun agak mewahan dikit, ke ballroom sini, hotel sana ๐Ÿ˜‚. Eh tapi lelah karena pikiran bisa juga sih. Secara posisi redaktur sebenarnya 50:50. Dibilang ngeri, tapi ya enak karena jadi ‘penguasa’ yang bisa edit berita anak buah. Dibilang enak, tapi bebannya tinggi, karena tanggungjawabnya besar. Jadi, mungkin salah satunya bisa jadi karena pikiran.

Kenapa kopi saya kesampingkan? Karena memang kopi selalu gagal bikin saya melek dan begadang. Justru paling ampuh kalau lagi sembelit ๐Ÿ˜…. Tapi untuk nahan ngantuk, hmm, cuma mitos. Buktinya cuma sepersekian persen.

Bicara tentang insomnia, masih ingat postingan di blog saya beberapa sebelum ini? Yup, saat saya membahas tentang masa lalu. Di mana sempat ada beberapa bulan yang takut untuk tidur, takut untuk terpejam, bahkan takut menghadapi malam. Apakah kali ini insomnia saya seperti itu? Well, I’m proudly to say, no!

Ini jauh dari rasa-rasa yang pernah saya alami dulu. Lebih ke rasa sukar tidur, ingin tidur tapi otak dan badan tidak sinkron. Badan capek, mata ngantuk, tapi syaraf-syaraf tidurnya masih kebelit entah di mana. Akhirnya saya, si pengguna tubuh cuma bisa bengong, saking bingungnya kadang mikir ‘mau ngapain tengah malam gini?’.

Lucunya, selarut apapun saya tidur, justru bangunnya tetap di kisaran jam 5-6 pagi. Semacam alarm otomatis. Apakah badan terasa capek? No. Tidur saya termasuk nyenyak, dengan durasi yang cukup pendek itu.

Iya, saya tau, efek buat kesehatan jangka panjang buruk banget kalau kurang tidur. Tapi, apakah kualitas tidur berbanding lurus dengan durasi yang kita gunakan? Di tubuh saya pribadi, justru kebalikannya. Pernah coba tidur dari jam 9 malam sampai 6 pagi. Hampir 9 jam. Tapi badan malah loyo, malas bangun. Beda 180ยฐ kalau dibandingkan dengan tidur yang durasinya cuma 5-6 jam sehari. Ya mungkin karena si kualitas itu tadi.

Tidur berdurasi pendek jarang kebangun. Sebaliknya, tidur durasi panjang, adaaaa aja yang bikin bangun. Kalau untuk posisi tidur sih, bukan hal krusial buat saya. Asal ada bantal minimal 2 aja, udah aman. Atau 1 bantal dan 1 guling. That’s enough ๐Ÿ˜ฌ.

Lalu, apa yang membuat saya jadi sulit tidur akhir-akhir ini? Hmm, sulit dijawab sih. Cuma anehnya, tiap kali saya bahas atau posting tentang sulit tidur ini, habis membahas pasti langsung tidur pulas, cuma sepersekian menit ๐Ÿ˜….

Situasi yang sama seperti sekarang, persis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s