Jangan Menulis!

Banyak yang bilang (atau kasih saran), agar saya menulis ketika sedang dalam situasi emosi tertentu. Marah, senang, atau lainnya, katanya agar lebih menjiwai tulisan. Entahlah dari mana datangnya logika macam itu. Karena di diri saya pribadi, itu gak berlaku.

Saya pribadi justru menghindari unsur emosi dalam penulisan, jenis apapun. Berita, cerita, ataupun artikel. Menulis karena dipengaruhi emosi bukan hal yang baik, setidaknya bagi diri saya sendiri.

IMG20171018113653

dokumentasi pribadi

Kecuali untuk menghayati tulisan atau alur yang sedang saya tulis, itu masih ditoleransi. Bahkan saya anjurkan agar tulisan tidak “mati” dan berujung hambar. Tapi jika menulis harus didasari emosi tertentu, misalnya harus marah dulu, harus sedih dulu baru menulis, jangan ya.

Jika menulis karena alasan tertentu, saya anjurkan jangan dilanjutkan. Itu bukan alasan yang tepat untuk memulai sesuatu yang harus intens dan berkelanjutan seperti menulis. Apapun yang ingin kamu tulis, tulislah. Jangan terpengaruh apapun. Tapi jika sedang tidak ingin menulis, juga jangan dipaksakan. Bisa jadi hasil tulisannya justru tidak bernyawa.

Eh, saya pernah loh begitu. Mungkin terlalu mendorong untuk menulis, ingin lebih produktif, ceritanya. Tapi apa yang saya tulis justru tanpa rasa, sekedar susunan kalimat dan huruf yang berbaris rapi dalam paragraf-paragraf yang saya ketik. Ketika sudah selesai, saya sendiri malas bacanya, karena susunannya rapi, tapi isi tulisannya tanpa nyawa.

Itu juga yang saya katakan kepada banyak teman, yang meminta tolong untuk dieditkan tulisan-tulisannya. Memasukkan nyawa dalam tulisan bukan perkara mudah. Tapi ketika nyawa itu masuk dan sudah menetap, tulisan jadi lebih enak untuk dibaca, ruh dari penulis ikut masuk ke dalam tulisannya.

Tapi apapun situasinya, jangan jadikan ini sebagai patokan. Saya cuma sekadar berbagi, bukan untuk menjadi guru ataupun menggurui. Siapapun bisa menulis, tapi untuk memasukkan nyawa dalam tulisannya, bukan hal yang gampang. Saya sendiri masih sering lepas dari upaya itu. Kerasa loh, kalau saya nulis cuma sebagai kewajiban, dikejar deadline. Nyawanya lepas, tulisannya asli hambar. Selain ejaan yang banyak salah, inti tulisan yang lepas, banyak masalah pokoknya.

Jadi, tetaplah menulis dengan hati, tapi jangan karena emosi πŸ™‚

-xoxo-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s