Balas Dendam

“Gue balas ntar!”

Familiar dengan kalimat di atas? Sering dengar? Atau justru sering mengucapkan? Gimana rasanya setelah balas dendam? Bahagia? Lega?

Saya gak pernah habis pikir dengan orang-orang yang ‘suka’ mikirin soal balas dendam dan sejenisnya, hanya atas dasar : “Dia sudah bikin saya sakit hati,” atau “Saya sudah baik tapi dia malah sering ninggalin.” *catatan : ini berlaku untuk kondisi apapun, ya. Mau pertemanan ataupun cinta-cintaan.

Kalimat ini yang selama hampir 3 tahun ini sering saya dengar dari mulut teman saya sendiri, the one who I really respect, before we had an awkward moments from December 2017 until know. Tapi tentunya saya gak akan bahas soal kenapa jadi ‘tidak berteman lagi’, basi mah ituuuu, basiiiii.

Yang saya soroti adalah, betapa mudahnya orang untuk berencana balas dendam, sekecil apapun yang dilakukannya. Contohnya, si A berteman dengan si B, sering ada proyek bareng. Tapi suatu waktu, si B gak ngajak si A buat ngerjain itu proyek, si A tahu kalau keuntungan proyeknya lumayan besar. Alih-alih konfirmasi ke si B kenapa gak ngajakin, si A lebih memilih untuk balas dendam, dalam artian, kalau ada proyek dia gak bakal ngajak B lagi, apalagi untuk klien yang cukup bonafit. Nah, di depan si B, si A bersikap seolah gak terjadi apa-apa, mereka berteman dengan masih sangat baik, di depan.

Buat saya, masalah si A dan si B ini gak hanya tentang sleding-sledingan secara tertutup, tapi juga hilangnya kepercayaan antar teman, plus ada rasa iri hati sama apa yang diraih teman. But, hey, guru agama saya waktu SMP pernah bilang, gak papa sebenarnya kita iri, selama bukan dengki. Iri dengan keberhasilan orang dan secara positif memotivasi kita untuk belajar dan berusaha mencapai keberhasilan yang sama. Bukan seperti yang terjadi pada dua rekan tersayang saya, yang lebih mengarah pada dengki. Iya, secara gamblang, saya lebih mengarah pada rasa dengki.

Ya, saya tahu, karakter seseorang dibentuk dari lingkungannya. Saya, yang ‘baru’ berusia 26 tahun lebih sedikit (dan masih single) ini, dibesarkan di lingkungan keluarga yang cukup keras didikannya untuk mandiri, tapi minim persaingan penuh sikut antar anggota keluarga. Ayah saya seorang PNS yang penuh disiplin dan anak-anaknya menjalani masa kecilnya dengan Alhamdulillah bahagia dan berkecukupan. Apa saya pernah iri? Oh jelaaaas. Untuk ukuran anak SD kelas 5 waktu itu, liat teman punya mainan baru yang nge-hits macam Bay Blade dan Tamiya, saya juga kepengen dong. Tapi Ayah gak mau beliin, dan memang terakhir beli mainan pas kelas 3 atau 4 SD. Atau saat SMP, ketika yang lain sudah pakai HP ke sekolah, saya masih mengandalkan ‘telepati’, ngomong dalam hati pas nunggu di depan gerbang sekolah, biar jemputan gak telat datang. Itupun pas SMP kelas 3 baru punya HP, sekalipun masih layar kuning dan monoponik suaranya.

Bisa jadi, teman atau rekan saya itu dibesarkan dalam lingkungan yang kompetitif, dan akhirnya berimbas pada kebiasaan dan pola pikir, bahwa segala sesuatu yang lebih dari orang lain, seharusnya dia juga dapat melakukan hal yang sama. Bagus memang, memotivasi diri sendiri, tapi lama kelamaan, saya jadi melihat ada sosok yang jadinya haus dengan ambisinya sendiri. Dia jahat? Gak, buat saya, dia lebih ke seorang penolong, apalagi waktu saya masih polos dulu. Hanya saja, ketika beberapa kali kalimat balas dendam itu terlontar, meskipun bukan buat saya, tapi rasanya kok ngeri ya, untuk hal yang kecil saja selalu ada pembalasan, bagaimana dengan hal-hal yang besar?

Kenapa tidak mencoba untuk mengikhlaskan, berpikir bahwa itu memang sudah rezekinya, dan bisa jadi rezeki kita ada di tempat atau klien lain? Eits, jangan dulu menyela, karena memang sebenarnya hanya ikhlas yang bisa bikin kita terhindari dari rasa dengki atau hasad. Susah untuk ikhlas? Emangnya tadi saya bilang mudah? Gak lah. Susah, tapi bukan berarti gak mungkin kan? Susah karena bukan kebiasaan. Susah karena pola pikir kita sudah begitu dari awal. Susah karena kita lebih memenangkan ambisi dan keinginan nafsu.

Jadi, masih pengen balas dendam?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s