Mimpi

Saya tipe manusia pemimpi. Terutama tentang apa yang ingin saya lakukan, raih dan nikmati. Kadang memang terdengar naif di telinga orang. Misalnya mimpi saya yang ingin jadi orang “lurus” bin “baik-baik”, ketika banyak orang di sekitar yang sudah mulai “menyimpang”. Kenapa? Karena saya pernah nyebur ke titik yang sama. Pernah merasakan yang mereka rasakan. Tapi untuk melanjutkan kesalahan yang sama? Jelas tidak.

img20161222110432

Mimpi saya banyak. Jadi fotografer, penyiar radio, wartawan, guru, kasir (eh yang ini beneran), dan masih banyak lagi. Yang alhamdulillahi rabbil ‘alamin-nya, bisa dicapai sampai sekarang. Susah? Memang. Tapi kalau dinikmati dengan santai juga gak bisa dibilang susah.

Mimpi atau cita-cita saya ini memang seringkali berlawanan dengan kebiasaan yang ada di keluarga kami, yang mayoritas pegawai dan guru. Mindset di keluarga besar kami ya begitu, bekerja kalau gak jadi pegawai, ya ngajar. Itu yang bikin saya gak pernah bisa klop kalau ngomong soal kerjaan dengan mereka.

Ada yang mendukung, ada juga yang nyindir-nyindir, bahkan telah meremehkan apa yang saya lakukan. Tapi ya dasar dari sononya saya cuek, anggap aja mereka lagi gak ada bahan obrolan.

Dukungan dari orangtua penting. Sangat penting, bahkan. Karena kalau dukungan itu gak ada, jalannya bakal susah. Percaya, deh. Ada rasa mengganjal yang gak enak dan bikin kita pengen nyerah di pertengahan jalan. Se-kekeuh apapun cita-cita atau mimpi yang mau kita raih, lakukan pendekatan dengan orangtua atau minimal orang terdekat. Biar mereka lebih mudah menerima. Suarakan dengan baik-baik. Karena kalau sambil ngotot-ngototan, tentu gak akan berhasil.

Mimpi harus diwujudkan. Selama tidak melanggar hukum dan agama. Selama juga tidak merugikan orang lain. Selama itu untuk kebaikan. Lakukan.

Percaya dengan kemampuan diri. Percaya dengan apa yang kita miliki. Kalau bukan kita yang percaya, siapa lagi? Kepercayaan diri juga berdampak besar pada apa yang dilihat orang di diri kita. Minder, malu, malas, bakal terlihat jelas kalau rasa percaya diri itu kurang. Begitu juga sebaliknya.

Jadi, mari terus bermimpi!

12 Januari 2017

-xoxo-

Advertisements