Secret Admirer

Oh, secret admirerโ€ฆ
When you’re around the autumn feels like summer.
How come you’re always messing up the weather.
Just like you do to me.”

(Mocca – “Secret Admirer” lyric)

Pernah jadi penggemar rahasia? Atau justru punya penggemar rahasia? Pasti pernah jadi salah satunya ๐Ÿ˜‰.

Saya pernah merasakan dua-duanya. Tapi jauh lebih sering jadi yang pertama sih ๐Ÿ˜‚. How does it feels? Hmm, deg-degan dan agak norak sebenarnya. Karena kitanya berasa adaaaa aja yang salah, berasa adaaaa aja yang gak bener yang kita lakuin, hal yang malu-maluin dan jatuhin ‘pasaran’. Apalagi kalau orang yang dituju ada di sekitar kita. Padahal dianya juga gak ngeh, merhatiin juga gak ๐Ÿ˜…, kitanya aja yang rada ge-er.

Momenย secret admirer atau penggemar rahasia yang paling saya ingat (plus paling dodol dalam dunia persilatan), waktu jaman SD. Tapi pertama-tama, bedakan masa-masa centil anak SD generasi 90-an dengan yang jamanย now,ย ya. Agak beda 180ยฐ soalnya, jauh betuuuul. Jaman itu centil cuma sekedar malu-malu, becandaan, gak sampai yang pacar-pacaran kayak anak SD sekarang.

Ada satu teman sekelas yang memang pantas jadi idola, waktu itu. Pintar dan cerdasnya Masya Allah, sopan pula, kesayangan guru-guru satu sekolah. Musuh bebuyutan saya kalau lagi ada cerdas cermat IPS di tingkat kelas, posisi juara 1 sama 2 selalu direbutin kami berdua. Diiih, gini-gini saya sih jago IPS-nya, asal jangan nyerempet ke IPA atau Matematika, keok. Continue reading

Advertisements

Memaafkan. Melupakan.

Bicara tentang ikhlas dan melupakan, ada satu hal, satu fase dalam hidup yang hingga saat ini belum dapat saya tuliskan. Secara detil, rinci, dan lebih dalam. Padahal sudah hampir 2 tahun berlalu, rasanya yang lebih dari sakit itu rupanya masih bercokol dengan setianya.

Rasa yang membuat saya sulit untuk menuliskan kembali, tanpa harus diganggu dengan tangisan dan sesak di dalam hati. Berapa kali dicoba pun, masih sama, sulit.

Itulah kenapa tulisan tentang Abah rahimahullah sangat sedikit di sini. Saya kesulitan menuangkan kata demi kata dengan tenang, tanpa interupsi sedih dan marah yang masih bergantian hadir. Saat menulis ini pun, saya sendiri bertekad untuk tidak membahas tentang Abah, hanya sebagai pengantar.

Perasaan ini saya sadari bukan hal yang sehat. Tak pernah ada kebaikan dari memendam perasaan dan kemudian menahannya sendirian. Sesak, marah, sakit, sedih, semuanya menyatu. Seberapa seringnya pun saya menyabarkan diri, seberapa kuatnya saya menahan tangisan, rupanya memang ada sisi-sisi benteng yang masih lemah dan mudah dijebol, cukup dengan satu kenangan.

Tapi biar saya jelaskan, saya ikhlas, insya Allah sudah mengikhlaskan, dan harus ikhlas. Kepergian Abah memang sudah waktunya dari Allah, saya tak pernah bisa menentang itu. Namun sebagai manusia biasa, seorang anak, rupanya celah dalam diri saya masih mencoba berontak. Alam bawah sadar saya yang mengendalikan. Bagi saya, saat itu, Abah masih ada.

Pembenaran yang justru memicu saya untuk depresi. Iya, saya depresi saat itu. Perubahan yang saya sadari hanya berselang beberapa hari setelah Abah meninggal, 9 Januari 2016 lalu. Rumah bagi saya bukan lagi rumah. Saya lebih memilih pergi ke kantor jam 7 pagi dan pulang jam 7 atau 8 malam. Padahal jam kerja hanya 8 jam, dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Apakah saya menyelesaikan pekerjaan lembur? Tidak. Bahkan kerjaan saya untuk berhari-hari ke depan sudah selesai. Yang saya pandangi kalau bukan laman Youtube, paling hanya layar kosong tanpa tulisan apapun. Karena memang bagi saya saat itu, hanya kantor tempat saya ‘pulang’. Atau mungkin lebih tepatnya, tempat saya untuk melarikan diri tanpa harus berbohong sedang berada di mana. Continue reading

Fatamorgana Sendu

Menulis tentang masa lalu, bukan berarti saya tak bisa beranjak dari kenangan. Jangan dulu menghakimi. Justru dengan menulis, manusia bisa mendapatkan kewarasannya kembali.

Jika saya masih terjebak dengan masa lalu, dengan kenangan-kenangan yang beterbangan itu, tulisan ini tak akan pernah ada. Tahun-tahun yang penuh kesuraman itu saya lewati dengan menulis. Di blogspot (yang sudah saya nonaktifkan), wordpress, bahkan tumblr. Semata karena saya memilih untuk menulis, demi menemukan ‘saya’ yang benar-benar ‘saya’.

Dokumentasi pribadi

Ratusan artikel yang saya tulis, hanya untuk mewaraskan kembali diri dan mental. Tentu saja untuk dapat menulis, saya sendiri harus waras. Bukan perkara gampang untuk bisa menuliskan lagi soal hati. Tapi jika kalian bisa menuliskannya tanpa menitikkan air mata, setitik pun, kalian berhasil. Saya pun begitu. Continue reading

Halaman Tawa

2012. Tahun yang sempat menghilangkan halaman tawa yang pernah saya miliki.

Hari-hari suram yang pernah membuat saya hidup seperti mayat hidup. Hanya sekadar mengikuti ritme hidup. Bangun – kuliah – kerja – pulang – tidur. Sampai berbulan-bulan lamanya. Sampai saya lupa bahwa ternyata hidup saya hanya berada di titik yang sama, tanpa bergerak sama sekali untuk menyambut kenyataan.

Kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu ditangisi, disesali, diratapi dan diingat lagi. Tapi tetap saja, halaman tawa yang saya miliki saat itu lenyap entah ke dimensi mana.

Saya lupa, bahwa ada orang-orang terdekat yang sangat menyayangi, namun tentunya tidak sepenuhnya memahami prahara yang terjadi. Saya menutup diri berbulan-bulan, juga hati, dari segala kemungkinan untuk jatuh hati lagi. Segala kemungkinan untuk bertemu dengan seseorang dan mencintai lagi.

V60 Wening Galih – Office Coffee Banjarmasin

Gagal menikah mungkin biasa bagi beberapa orang. Jawaban simpel adalah ‘belum jodohnya’. Tapi jika yang terjadi adalah menghilangnya si pria tanpa kabar di tengah persiapan, percayalah, tak semudah itu untuk memahami dan menjalaninya. Continue reading

Tempat Persinggahan

“Travel is finding out more reasons to write. And more reasons to live.” – Ika Natassa on Critical Eleven

Apa bagian terbaik dari naik pesawat yang paling saya sukai?
Naik tangga dan masuk ke dalam pesawat? No.
Dapat kursi (hasil online check-in) di samping jendela sebelah kiri? No. Hmm, dikit sih.
Menikmati pemandangan ketika berada di atas awan? Gak juga.

Buat saya, yang terbaik adalah ketika pesawat mendarat dan saya masuk ke dalam terminal kedatangan di Bandara setempat. Kota yang tidak setiap hari kita datangi. Bandara yang selalu sibuk dengan hiruk pikuknya yang khas. Deru mesin pesawat yang mendarat dan terbang bergantian. Kru di apron, di terminal, di dalam kabin pesawat yang selalu sibuk dan gerak cepat. Udara yang berbeda di tiap kali kaki menjejakkan kaki di daerah lain. Buat saya, itu hal yang selalu bikin bahagia, lega, dan juga senang. Walaupun sudah beberapa kali datang ke kota yang sama, bandara dan hiruk pikuk yang pernah diliat sebelumnya.

IMG20170829101629

Apron’s View – Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport

Selama satu setengah tahun ini, bandara yang punya julukan tercantik di Indonesia itu sudah saya sambangi 3 kali. Bulan Mei dan Agustus 2016, dan Agustus 2017. Tapi gak pernah ada bosan-bosannya mengeksplorasi sudut-sudut bandara yang gak hanya luas, tapi juga memang benar-benar cantik. Jadi ingat filmnya Tom Hanks dan Catherine Zeta-Jones – “The Terminal”, yang si tokoh utamanya gak bisa pulang karena negaranya udah gak ada, tapi juga sekaligus gak bisa keluar dari bandara karena gak punya kewarganegaraan. Eh tapi, yang saya bayangin adalah suasana dan bentuk bandaranya ya, bukan pengen terjebak di bandara berminggu-minggu. Continue reading

[Trip Review] Balikpapan : 2nd day – Cari Sarapan

Hari kedua di Balikpapan, hari Minggu, kami memutuskan untuk ke Penangkaran Buaya di Teritip, yang berada di Jalan Mulawarman. Jaraknya itu sekitar 23 kilometer kalau dari hotel tempat menginap. Itu hasil liat di google maps, sih ya ๐Ÿ˜….

Sebelumnya sempat nanya ke resepsionis, “Mas, kalau ke Teritip bisa pakai angkot?”, jawabnya bisa, tapi harus dua kali angkot. Satu ke Terminal Damai, baru ambil angkot nomor 7 warna hijau tua ke arah Manggar. Dalam hati, berarti sama aja nih, kayak penjelasan yang saya dapat di beberapa situs. Karena awalnya ragu pas baca-baca di situs, memang lebih bagus nanya langsung sama orang setempat.

Pagi harinya, niat mau jogging di sekitar Lapangan Merdeka, gagal. Karena? Warga di kamar sebelah bangunnya agak lama ๐Ÿ˜…. Akhirnya diputuskan, ya sudah, kita ke Teritip aja. Tapi cari sarapan dulu.

Kawasan dekat hotel saya akui memang bagus untuk cari makan siang atau malam, bahkan cemilan. Tapi kalau sarapan agak susah ya. Mungkin juga karena berada di kawasan perkantoran. Ada sih yang buka pagi, tapi namanya juga ada 3 kepala, mesti debat ini itu dulu kalau mau milih makanan. Akhirnya jalan kaki lah kami menuju ke arah Plaza Balikpapan, nyari tempat sarapan dan sempat beberapa kali ketemu tempat-tempat sarapan, tapi ditolak ๐Ÿ˜. Ujung-ujungnya kw warung nasi campur gitu.

Lokasinya masih di Jalan Sudirman, tapi di kawasan yang lebih sering disebut Markoni. Tepat di seberang Polres Balikpapan. Menunya sih banyak ya, layaknya warung nasi campur Jawa gitu lah. Saya sendiri pesan laukny ayam goreng, sambal goreng kentang, plus rempeyek udang. Kalau ditotal, kemaren itu bayarnya sekitar 20 ribuan sama air mineral. Mahal? Relatif sih, karena budget segitu kurang lebih sama aja dengn yang sering dibeli di Banjarmasin. Itu kalau saya loh, ya.

Maksudnya gini, di Banjarmasin pun kalau lagi pengen ‘foya-foya’, nyari makan yang harga segitu juga. Bukan karena harga, tapi karena rasa dan banyak pilihan. Nah, gitu juga di Balikpapan ini.

Jadi, sebaiknya jangan langsung menghakimi kalau harganya mahal atau murah. Karena dari tingkat kesejahteraan dan pendapatan orang di sana pun juga berbeda. Kalau tiap mau makan pas liburan mikirnya mahal murah, saran saya, sebaiknya gak liburan deh ๐Ÿ˜‚.

Kesannya sombong ya? Hehe. Gini, dalam liburan, hemat boleh, perhitungan juga boleh. Tapi jangan sampai seperhitungan itu banget, sampai untuk makan di lokasi liburan pun nyari yang murah banget. Ini loh kita di tempat liburan, di lokasi yang gak tiap hari kita datangin. Kenapa gak mencoba makanan khas atau tempat-tempat oke yang suasananya beda dengan di tempat kita sendiri? ๐Ÿ˜‰. Apalagi kalau kita memang udah niat liburan, berarti udah siap dong keluarin uang untuk makan?

Untuk budget ya dihitung juga, bukan berarti jor-joran banget. Misalnya nih, di kisaran 20-25 ribu sekali makan. Atau kalau masuk ke tempat yang khas, bolehlah budget agak lebih dikit. Kan kita pasti udah cari info lokasi kuliner yang enak tapi gak bikin dompet tipis kan? Jangan pelit lah sama perutmu. Pergi liburan naik pesawat plat merah macam Garuda Indonesia aja bisa, masa kita ujung-ujungnya pelit pas nyari makan? Hehe.

 

[Trip Review] : 1st day – Jalan Sore

Setelah landing dan istirahat beberapa jam di kamar hotel, sekitar jam setengah 5, kita mutusin buat nyari makan. Secara, perut lapar karena baru sadar gak ada satupun yang sarapan (baca : makan nasi) sejak pagi. *pantasan puyeng ya, ditambah efek kepentok kabin pesawat* ๐Ÿ˜‚.

Sebelum mandi dan siap-siap, saya bikin teh hangat dulu, biar bisa hilangin rasa mual dan puyeng yang gak bisa hilang, biaepun udah dibawa tidur. Duduk santai liatin pemandangan samping hotel, yang memang pas banget di area pemukiman. Balikpapan itu kotanya berbukit-bukit, loh. Jadi jangan heran, kalau hotel atau tempat yang kamu datangin agak tinggi dan turun naik gitu.

Nge-teh buat hilangin puyeng. Kamarnya ada pemanas air, loh. Alhamdulillah ๐Ÿ˜‚

Setelah nge-teh, yaaaa lumayan sih, biarpun gak 100% sembuh, tapi agak nyaman. Apalagi ditambah mandi air hangat, otot-otot sedikit rileks. Sekitar jam 5, akhirnya jalan cari makan dengan jalan kaki. Temen saya ini agak rewel ternyata ๐Ÿ˜…, ditawarin ini gak mau, itu juga ogahan. Risiko jalan bareng ya gini, ya. Akhirnya mutusin mampir ke The Jagongan’s. Salah satunya karena viewnya yang unik, lucu ada lampunya gitu. Trus baru sadar, oh iya ya, kayak kenal sama lokasinya, mirip sama Wong Solo. Rupanya bener, ini anaknya Wong Solo Group. Sebelahan sama Iga Bakar Mas Giri, yang juga satu grup, di Jalan Sudirman. Menunya lebih tradisional sih, macam gudeg, nasi pecel, tahu goreng, dll. Continue reading

Cuti Posting

Maaf banget untuk postingan yang kayaknya mandeg di tanggal 28 Agust lalu. Niatnya memang pengen posting minimal 1 artikel, yang isinya tentang jalan-jalan di Balikpapan – Kalimantan Timur. Pikir saya juga, “ah, ntar gampang, ada wi-fi hotel, bisa aja dipakai buat posting malam-malam.” Apalah daya, untuk postingan pertama dan kedua di Balikpapan memang aman sih, tapi seterusnya, susah buat buka internet. Sampai saya akhirnya nyerah sendiri buat posting *nangis*.

Entah kenapa waktu itu internet di hotel parah banget, saya kan niatnya juga pengen pas nulis artikelnya dalam kondisi santai, rileks. Mungkin juga ada hubungannya sama gangguan di satelit punya Telkom, yang waktu itu bikin ribuan ATM – termasuk di Balikpapan- gak bisa lakukan transaksi.

Kenapa gak pakai kuota internet? Karena waktu itu koneksi saya pakai kartu dari provider yang biru (takut nyebut merk), yang sebab musababnya adalah di komplek rumah lagi kosong di provider merah yang biasa dipakai. Jadilah milih yang biru, itung-itung nyobain koneksinya selancar jaya yang diiklankan gak sih?

IMG20170901154237

provider biru atau merah? merah laaaaah!

Awalnya gak ngeh sih sama keparahan koneksinya, cuma pas malam sekitar jam 10, ternyata Subhanallah, udah gangguan di kawasan rumah saya. Padahal jam segitu justru me time-nya saya habis seharian kerja. Jangankan buka artikel di google, mau cek WA, kirim BBM sampai posting di IG pun juga gak bisa. Baru dua hari pemakaian udah mau nyerah sebenarnya, cuma ya gitu, sayang karena kuotanya masih banyak, nanggung kan. Akhirnya ya sudah, diputuskan buat dihabisin dulu aja ini kuota.

Saya kira, di wilayah lain seperti Balikpapan lebih bagus di provider biru ini. Apalagi kalau dipikir-pikir di sana nanti bakal lebih sering aktivitas di luar, biasanya lancar jaya kan ya? Rupanya saya salah! Mau nyari driver GoCar pun susahnya minta ampun, apalagi kalau pas hujan. Sedih.

Puncaknya adalah tanggal 28 Agustus tengah malam, menuju 29 Agustus dinihari, jam-jam biasa saya posting artikel blog. Si provider biru sudah ngadat bahkan dari jam 8 malam, hilang sinyal, gak cuma kasih tanda connecting doang. Tapi beneran hilang sinyalnya, kosong. Oh iya, henpon saya dual SIM, jadi untuk kartu utama buat nelpon, sms, pakainya nomor yang udah dipakai sejak dulu kala. Sedangkan buat internetan sengaja beli kartu lepasan karena lebih hemat di kantong, hehehe.

Karena masalah kartu-kartuan itulah, akhirnya saya gak tahan juga buat segera balikan sama si merah, segera setelah mendarat lagi di Banjarmasin :D. Soalnya bukan cuma susah posting, buka internet ataupun leyeh-leyeh nonton video youtube, kerjaan juga kena imbas dari si biru yang gangguan. Apalagi statusnya lagi cuti gini, saya mesti tetap standby buat cek kerjaan yang udah di-stok beres apa belum, aman apa gak.

Kesimpulannya, buat saya -sekali lagi, ini buat saya-, gak bisa cuma berlabel murah dan kuota yang didapat banyak. Banyak kalau gak bisa dipakai juga percuma sih, ya. Si merah sejauh ini memberikan saya kepuasan dalam pemakaian. Dari awal punya henpon tahun 2005, sampai sekarang juga masih dipakai. Iya sih, untuk pembelian data internet mahal, tapi rupanya hal itu sesuai dengan kecepatan koneksi dan jangkauan yang luas. Pernah nih ya, tugas ke luar kota, yang bener-bener di pedalaman, sekalipun jaringan internet gak ada, saya masih bisa nelpon atau sms dengan aman. Sedangkan di henpon satunya yang dipasangin provider warna hitam (you know what I mean, kan ya?), belum masuk pedalaman, masih di pusat kabupatennya udah hilang sinyal. Kzl. Zbl.

Oh iya, Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriyah, ya :). Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah.

-xoxo-

[Trip Review] Balikpapan : 1st day – after landing

Kami bertiga -saya, Mona, dan Lani- memilih penerbangan siang dengan Garuda Indonesia, pukul 12.35 WITA dari Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin di Banjarbaru. Waktu yang cukup tepat, menurut kami, karena gak perlu buru-buru bangun pagi, dan masih bisa menyelesaikan beberapa urusan.

Setelah mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman – Balikpapan, touch up dan ambil bagasi, Mona nanya, “ke hotel pakai apa?” Karena ada beberapa pilihan, pakai argo, taksi bandara atau Go Car. Pengalaman saya sebelumnya, pakai taksi konvensional sekitar 75 ribu untuk sampai ke Whiz Prime Hotel di kawasan Sudirman. Iseng, saya coba cek di aplikasi GoJek, ternyata cuma 48 ribu. Buat kami wisatawan beruang saku terbatas, perbedaan harga segitu ya lumayan.

GoCar Apps, Bandara Sepinggan – Whiz Prime just 48 ribu

Setelah ketemu sama pengemudinya, ditawarin top-up Go Pay, dipikir-pikir, lumayan lah buat dipakai ntar. Akhirnya ngisi 100 ribu. Alhamdulillah emang kepakai banget sih, walaupun lebih banyak pakai angkot, naik GoCar berguna saat kaki sudah lelah jalan-jalan ๐Ÿ˜‚.

Sayangnya, walaupun kami sampai di hotel tepat jam 2 siang, belum bisa check-in karena memang baru lewat 1 jam dari batas check-out. Kamar-kamar yang harus dibersihkan otomatis banyak kan? Gak sebanding dengan yang mau nginap. Jadilah kami nunggu di lobi, bersama beberapa calon tamu juga. Padahal badan sudah keringatan, ngantuk, pengen istirahat sebelum jalan-jalan.

Oh iya, untuk hotel, kita memang sudah satu paket sama pesawat, milihnya di Whiz Prime. Salah satunya karena saya sudah pernah nginap di sini, tahu lokasinya, beberapa spot yang bagus, dan tentunya karena berada di tengah-tengah. Gak di tengah kota banget, memang. Tapi jalur strategis lah. Continue reading

Holiday? Sure!

Perjalanan terakhir saya yang murni buat liburan, terhitung 1 tahun 3 bulan yang lalu, dengan tujuan Balikpapan – Kalimantan Timur. Liburan yang mepet waktu, terbatas banget lah pokoknya. Soalnya cuma 3 hari. Itu pun dihitung dari berangkat Rabu malam, pulang Jumat sore.

Iya sih, ada juga perjalanan lainnya ke luar kota, seperti ke Balikpapan (lagi) di bulan September dan Kepulauan Seribu – Jakarta pada Mei 2017 kemarin. Tapi ya gitu, terbatas waktu karena memang buat tugas, rombongan pula. Jadi jalan-jalannya memanfaatkan waktu luang yang terbatas itu. Apalagi kalau rombongan juga sudah ada jadwal tersendiri, susah buat diakalin. Gak enak sama panitia, nantinya ๐Ÿ˜….

wp-image-332281882

Landing on Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport – Balikpapan, (26/08) – dokumentasi pribadi

Nah, habis Lebaran lalu, ngumpul sama sahabat-sahabat di rumah satu sahabat yang baru lahiran. Biasanya memang kalau ngumpul, ya di rumahnya dia. Tercetuslah rencana jalan-jalan bareng, berdua aja, saya sama si sahabat satunya yang juga sama-sama masih single. Sebenarnya melanjutkan rencana yang dulu juga, mau liburan bertiga ke Yogya atau Bali. Apalah daya. waktu itu sama-sama sibuk, sampai akhirnya yang satunya nikah dan lahiran. Continue reading