Kantor Penuh Gabin

IMG_20160903_121032
Gabin Samarinda – dokumentasi pribadi

Ini cara saya menunda lapar di kantor. Mumpung ada Gabin, hasil oleh-oleh pas lagi dinas ke Samarinda :D.

Eh, disini ada yang belum tahu Gabin? Itu, yang digambar postingan saya ini, namanya Gabin. Aslinya kering kaya cracker atau biskuit, tapi teksturnya lebih rapuh. Cara makannya bisa dicelupin ke cangkir teh hangat, atau ditaruh mangkuk, tambahin air panas, taburin gula pasir atau susu kental manis. Nah, kalau saya, lebih suka cara yang kedua. Maklum, kalau mesti celup-celupin ke cangkir teh, biasanya berujung tenggelam Gabinnya T_T.

Saya masih mencari literatur yang membahas soal daerah asal si Gabin ini. Apakah hanya dari penyebutan, karena bentuknya pun sekilas hampir mirip dengan malkist, cuma kalau malkist yang kemasan itu memang lebih gedean dikit. Tapi, mayoritas Gabin ini dijadikan oleh-oleh khas dari daerah Samarinda – Kalimantan Timur. Ada yang bentuknya kaya malkist, ada yang bentuknya mini, persis kaya di gambar. Kalau soal rasa, si Gabin ini meskipun judulnya Gabin Susu (ada juga Gabin Keju), cenderung lebih hambar dibanding malkist yang lebih manis karena ada tambahan gula di atasnya. Continue reading “Kantor Penuh Gabin”

Kabut Kali Ini

IMG_20160903_080351_1
Kantor Radio Smart FM 101,1 Banjarmasin – Lantai 5 Gedung H. Djok Mentaya

Langit kota berkabut pagi ini.
Mungkin efek hujan sepanjang siang yang berlanjut pada sore dan malam harinya.
Menyisakan ruang sunyi di sela jeda hati.

Foto ini saya ambil dari jendela kantor, yang menghadap ke timur, agak geser dikit, pukul 8 pagi. Iya, saya hobi datang lebih pagi ke kantor. Biar bisa menyempatkan melihat matahari pagi dari balik jendela-jendela di kantor. Atau sekadar mencari inspirasi untuk menulis, menuangkan apa yang ingin saya tuangkan. Seperti hari ini.

Dimana seharusnya jam kerja memang dimulai jam 9 pagi. Tapi, saya lebih memilih untuk datang lebih pagi. Ah, bukan tentang rajin-gak rajin. Saya hanya suka menikmati beberapa puluh menit waktu pagi yang saya miliki, untuk sedikit terbebas dari pekerjaan. Bayangkan jika saya datang jam 9 kurang 10 menit. Sudah pernah nyobain sih, dan hasilnya kalang kabut :D. Kapok!. Continue reading “Kabut Kali Ini”

Sakit? Hilangkan. Jangan Cuma Dikurangi.

IMG_20160902_140137_1
Cataflam® 50mg

Jujur ya, saya termasuk penderita sakit gigi tingkat akut. Bahkan pernah sampai terpaksa begadang hampir dua malam, ditambah ninju-ninjuin bantal, sampai puasa ngomong hampir seharian, hanya gara-gara sakitnya kambuh. Kalau kata orang, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, saya jadi pendukung garis depan!

Bicara soal sakit gigi, dari jaman SD dulu, kalau sakit gigi pasti disodorin Ponstan, tahu kan? Pasti tahu nih, terutama yang sering sakit gigi, seperti saya :-P. Dari yang bentuknya kapsul harga 500 perak, sampai yang tablet harga 1500 perak, sama-sama Ponstan, cuma beda miligramnya aja. Belakangan saya baru sadar, kalau Ponstan ternyata masuk kategori penghilang rasa sakit dengan kandungan aktif asam mefenamat. Ya pantaslaaah, sakitnya hilang, tapi beberapa bulan bakal kambuh lagi.

Nah, baru pas sudah mulai gede (baca : tua), sudah ngerti caranya beli obat di apotek. Sudah tahu kandungan zat aktif di beberapa obat, efek jadi perawatnya Abah allahu yarham dan nyiapin obat setiap hari. Jadi, waktu itu sudah berapa hari Ponstan saya minum, tetap gak ngaruh. Sakit dan nyerinya ya itu tadi, sakiiiiit dan nyeriiiiiii. Bahkan nafsu makan berkurang (walaupun berat badan saya gak ikut berkurang, hiks). Pulang kantor mampirlah saya ke apotek. Jelasin rasa sakitnya ke mbak-mbak apotekernya.

“Mbak, ada obat sakit gigi?” itu nanya dengan polosnya.

Mbak-nya dengan senyum ramah pun menjawab, “ada Mbak, Ponstan 500 miligram, mau?” Saya menggeleng cepat. Sudah kebal mah kalau obat yang itu.

“Yang lebih tinggi dosisnya. Ponstan gak pernah mempan. Ini sakitnya kadang sampai bikin bengkak.” 5 menit kemudian keluarlah si Mbak, “Ini, Mbak, Cataflam 50 mili. Biasanya pakai ini lumayan cepat efeknya.”

“Berapa sekeping?” Saya sudah siapin duit rada banyakan sih, soalnya Ponstan terakhir beli sudah melonjak jadi 5 ribu rupiah per biji.

“6 ribu 3 ratus per biji, Mbak. Mau berapa?” Nah, kan.

“3 biji aja dulu, Mbak, mau nyobain dulu efeknya.” Habis bayar, Mbaknya, yang juga lumayan akrab sih, saking seringnya saya beli obat Abah disana, bilang gini : “Baiknya langsung dibawa ke dokter aja, Mbak, kalau sakitnya masih gak berkurang.”

Sampai rumah, langsung minum obatnya, dan… Alhamdulillah, bisa makan lagi masakan Emak. Dimana saya sempat beberapa hari makannya cuma bubur doang. Yang bisa langsung ditelan, tanpa dikunyah. Kasian Emak, anaknya yang paling hobi makan masakannya lagi gak nafsu gara-gara sakit gigi doang. Padahal kalau lagi patah hati pun, nafsu makan gak berkurang sama sekali.

Hasilnya? Yaaaa, bisa tidur cukup nyenyak, pertanda gigi saya sudah mulai waras. Besoknya saya sudah bisa lagi ngomong dan kerja. (Catat : kerjaan saya berhubungan sama suara, kalau lagi sakit gigi, ituuuuu menyiksa!).

Bicara soal dokter gigi. Perawatan gigi berlubang saya memang terhenti cukup lama. Gigi geraham bagian bawah di kiri dan kanan pernah dirawat intensif beberapa bulan sama om sendiri yang kebetulan dokter gigi. Tapi yang namanya anak-anak (waktu itu loh ya), pasti bosan nunggu lama dan bolak-balik buat nambal :-D. Jadilah, gigi saya yang sudah masuk tahap awal penambalan, akhirnya gak jadi-jadi ditambal. Pas jaman kuliah, beberapa kali lanjutin tahapan penambalan itu tadi, tapi di Puskesmas deket rumah. Ya, selain gratis, lumayan kan gunain fasilitas Askes.

Apa daya, ternyata prosesnya gak kalah beda dari yang pertama. Mesti bola-balik, sudah begitu, mantri yang mau nambal juga mukanya jutek dan gak ramah. Habis gigi saya ditambal sementara pakai kapur (gak tau bahannya apaan, saya nyebutnya kapur), disuruh balik satu minggu kemudian. Lha belum sampai satu minggu, itu tambalan kapur udah habis alias hilang. Ya kan saya tiap hari sikat gigi, makan, dan minum. Ada yang bahkan baru sampai rumah sudah lenyap kapurnya, hihi. Eh pas satu minggu kemudian datang ke Puskesmas lagi, malah dimarahin sama matrinya. Dakuuuu lagi yang salah, hiks. Akhirnya, sampai sekarang ini gigi belum diapa-apain. Cuma beberapa hari ini mulai nyeri lagi, gara-gara terakhir makan ayam sampai tulangnya saya gerogoti. Makanya, mau gak mau harus minum si Cataflam lagi.

Soal gigi, memang masalah krusial (ciye bahasanya). Soalnya efek dari si gigi berlubang ini memang harus diatasi ke akar-akarnya. Ini gigi geraham saya sudah mulai rapuh, bahkan sebelah kiri sudah separo tanggal. Saya sih bersyukur, karena dari awal sakit gigi dulu, saya memang pengen dicabut aja si gigi berlubangnya. Tapi kata Pak Mantri di Puskesmas, itu gigi gak elok kalau dicabut. Ya kali masih mikirin elok, saya nahan nyeri sehari aja rasanya setahun.

Apalagi masalah gigi berlubang juga bakal nyambung ke masalah kehamilan. Beberapa artikel yang saya baca, buat program kehamilan, paling gak, gigi kita harus bebas dulu dari masalah sakit gigi ini. Karena nanti si jabang bayi perlu kalsium tinggi buat pembentukan tulang dan giginya, dan gak jarang selain nyedot kalsium dari makanan yang dikonsumsi Ibunya, juga dari tubuh Ibunya sendiri, termasuk gigi. Makanya kan, gak jarang banyak Ibu hamil yang ngeluh sakit gigi, karena kekurangan kalsium.

Saya memang belum menikah, tapi kan siapa tahu besok sudah nikahan (aamiin Allahumma aamiin) :-D. Gak deng, becanda. Intinya, mau menikah hari ini, besok, atau bulan depan, atau bahkan beberapa bulan lagi, saya harus menyiapkan buat kehamilan ini. Harus menyiapkan ini itu segala macam, selain mental, fisik saya terutama, termasuk si gigi-gigi ini. Makanya, selain minum si Cataflam ini tadi, yang buat sementara aja. Buat menghilangkan rasa sakit aja. Saya juga bakal periksa beneran ke dokter gigi. Maunya memang dicabut aja. Karena apa? Karena sakit itu harus dihilangkan, bukan dikurangi :-P.

Sekian. Saya mau pulang dulu, siap-siap buat Malam Penghargaan KPID Award 2016. Media tempat saya bernaung masuk nominasi semua :-D.

Cheers.

(Mencoba) Kembali

Jemari saya tampaknya masih berontak. Bahkan untuk kembali mengetikkan kalimat per kalimat pun tak pernah berhasil. Padahal sudah beberapa bulan berlalu, rupanya semangatnya untuk kembali menari di papan ketik masih berserakan.

IMG_20160813_130755_1

Mereka bilang, saya kehilangan muse – inspirasi – penyemangat untuk menulis dan kembali merangkai kata demi kata. Menulis apa yang ingin saya tulis, merangkai apa yang ingin saya rangkai. Satu-satunya yang berhasil saya tulis dan ketik dalam setengah tahun terakhir, hanyalah berita-berita hasil liputan. Itu gampang, karena saya punya suara narasumber dan melihat kejadian per kejadian di hadapan mata.

Tapi, untuk menulis dan merangkai kalimat lagi, saya udah coba ya, dan hasilnya? Gagal total.

Oh, jangan tanya apa saja cara yang saya lakukan untuk bisa kembali menulis. Dari ‘bertapa’ di kamar, merenung di depan monitor semalaman, kabur ke kedai kopi, sampai nekat pergi sendirian ke luar kota sendirian. Nyatanya, yang namanya inspirasi, keinginan dan kekuatan saya buat menulis masih belum kembali.

Tanpa sadar, meninggalnya Abah juga turut menghilangkan sebagian dari semangat saya. Karena beliau yang menjadi motivasi saya, untuk menunjukkan bahwa dengan menulis, anaknya lebih bahagia. Bahwa dengan menulis, anaknya menggenapkan cita-citanya. Bahwa dengan menulis, anaknya akan lebih membuatnya bangga, daripada jadi akuntan.

7 bulan ternyata bukan waktu sebentar. Ya, cukuplah untuk membuat saya kagok untuk kembali merangkai kata. Banyak bibit tulisan yang harus saya diamkan karena ini. Puluhan draft di wordpress, notes di facebook, file word di harddisk yang sampai sekarang masih berusaha dilanjutkan. Dilanjutkan. Dalam arti sebenarnya. Paling banyak lima kalimat, selama setengah hari.

Saya ingat, perdebatan kecil kami, saat saya memutuskan untuk jadi seorang jurnalis. Butuh waktu lama meyakinkannya, juga butuh kerja keras berbulan-bulan untuk membuktikan bahwa saya mencintai profesi ini. Bahwa profesi ini tak semengerikan dan seburuk persepsi yang selama ini ditakutkannya. Abah memang sempat antipati dengan profesi ini, mungkin sewaktu masih bekerja di pemerintahan, banyak jurnalis abal-abal yang bukannya mencari berita tapi justru mencari uang. Yang dia tak pernah tahu, dan yang saya tak pernah sempat ceritakan, adalah kenyataan bahwa putrinya ini sudah menjadi jurnalis jauh sebelum dia meminta izin.

Izin yang saya ajukan adalah untuk menjadi jurnalis di radio swasta. Abah hanya tak tahu, bahwa beberapa bulan sebelumnya saya sudah menjadi jurnalis freelance di sebuah tabloid di luar kota. Saat itu gaji saya belum seberapa, karena status freelance, sedangkan saya tahu, beliau ingin saya bekerja tetap. Jadilah akhirnya untuk bisa liputan, harus lewat jalan belakang. Bukan berbohong. Tapi sekalian. Sekalian jalan, sekalian liputan. Dengan tas ransel yang biasanya dibawa untuk siaran, di dalamnya ada laptop dan kamera. Tak jarang saya juga harus keluar larut malam, karena topik tulisan yang ingin saya angkat, juga narasumbernya, baru dapat ditemui ketika malam tiba.

Beruntunglah, karena tabloidnya terbit dua mingguan. Saya jadi punya waktu cukup panjang untuk menyelesaikan tugas liputan. Seminggu libur, seminggu bekerja. Cukup fair bukan? Dengan gaji yang lumayan, untuk seorang pekerja bebas seperti saya. Cukuplah untuk memperlihatkan kepada beliau, bahwa semua yang diberikannya untuk mendidik saya sedari kecil sudah lengkap, bahwa saya bisa bertahan dan berdiri dengan kaki saya sendiri. Sehingga dia tak perlu khawatir, apabila saya harus berjuang sendirian, tanpa bimbingannya lagi.

Ah, rasanya rindu itu tak pernah hilang. Makin lama makin menggenang. Berbulan-bulan saya mencari tahu, apa yang membuat saya berhenti menulis? Apa yang menjadi penyebab hilangnya kekuatan dan motivasi saya untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya, selain ingin menjadi seorang jurnalis? Rupanya sosoknya. Sosok seorang ayah yang protektif dan selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya.

Pencarian saya terhenti. Tersadar di beberapa hari menjelang tanggal lahir Abah. 9 September. Apa yang saya cari sebenarnya ini. Apa yang telah hilang dari saya dikarenakan ini. Bodohnya saya, bagaimana bisa membiarkan tangan dan jemari tak lagi menulis? Biarpun dia sudah tak bisa mendampingi, bukankah dia akan tetap bangga jika apa yang saya cita-citakan terwujud?

Apalagi untuk dapat memenuhi satu per satu cita-cita, saya harus berhadapan dengan setumpuk ketidakpercayaan dari banyak orang. Bahkan untuk bisa bertahan selepas kepergiannya, saya masih harus menghadapi banyak tuduhan. Bahkan untuk bisa menepati janji menjadi penjaga orang-orang yang dicintainya, saya masih harus menghadapi banyak pasang mata yang menghakimi. Bagaimana mungkin dengan kehilangan, saya bisa melupakan cita-cita dan tujuan awal saya? Bukankah sudah seharusnya kehilangan menjadi titik balik dari hidup manusia?

Apa yang saya tahu dan alami. Apa yang tidak mereka tahu dan pernah alami.

Karena untuk menepati janji, hati tak perlu bersembunyi. Karena untuk mewujudkan cita-cita, diri tak perlu malu. Saya tak perlu lagi takut untuk menulis. Coba lihat? Sudah berapa karakter yang saya ketik disini? Buat saya ini rekor. Terutama setelah 7 bulan sulit memulai menulis dan akhirnya yang saya tulis dan posting rasanya bukan ‘saya banget’. Kadang mau ketawa sendiri bacain ulang postingan selama beberapa bulan ini. Gak jarang juga sih, postingannya saya komen dalam hati : “malu-maluin banget ih” :-D.

Sulit memang, perlu waktu. Tapi tak ada salahnya mencoba kembali kan? Perlahan. Sembari mengumpulkan lagi ‘nyawa’ dan ‘jiwa’ yang sempat hilang.

Abah, terima kasih selalu jadi lelaki yang tak pernah menyakiti. Terima kasih sudah menjadi guru yang terbaik, guru kehidupan. Maafkan jika putrimu yang satu ini seringkali berhadapan pendapat, maafkan jika putrimu ini memilih jalan yang berbeda dari keinginanmu.

Kami merindukanmu.

Putrimu merindukanmu.

-dari meja kubikel kantor, pukul 6:31 PM-

Hidup, Buku!

IMG_20160507_150957

“Coba download aplikasi watt*** deh, bisa baca novel sepuasnya disana, gak susah bawa-bawa” – kata salah satu teman, barusan. Saya jawab dengan kalem, bahwa saya lebih nyaman dengan buku berbentuk fisik. Yang bisa dibawa, dipegang, dan (pastinya) dibaca.

Oke, singkirkan perhitungan hemat kertas dan lain-lain. Kita bicara kenyamanan dan esensi dari sebuah buku fisik. Buat saya yang matanya on-off (baca : rada rabun), buku fisik lebih nyaman dibaca karena gak bikin mata jadi cepat lelah atau silau. Itu alasan kesekian.

Alasan utamanya? Karena buat saya pribadi, ada kepuasan tersendiri, kebanggaan. Ketika kita bisa memiliki buku yang diidam-idamkan, yang dibeli dengan jerih payah sendiri. Sensasi bahagia ketika uang sudah terkumpul, berjalan menuju rak buku, memilih dan terkadang bimbang ketika ada buku yang sama menariknya untuk dibaca. Sampai harus menimbang-nimbang lagi buku mana yang akan dibawa ke kasir.

IMG_20160505_183337.jpg

Sensasi deg-degan (yang hanya segelintir orang yang pernah merasakan), ketika membuka plastik buku untuk pertama kali sejak dibeli. Menyentuh sampulnya, membuka halaman pertama dan membubuhkan tanda kepemilikan buku itu. Mulai membaca halaman demi halaman, yang diakhiri dengan rasa puas karena telah menyelesaikan jalan cerita yang sudah ditunggu lama.

Sensasi yang hanya bisa dirasakan pada buku fisik. Selain itu, buku yang kita punya bahkan bisa dipinjamkan, atau dihadiahkan. Bahkan tak jarang ada yang diwariskan kepada orang-orang terdekatnya.

Ya, mungkin saya memang konservatif. Lebih memilih untuk membaca buku secara fisik, bukan online atau via aplikasi. Karena buat saya, buku ya buku. Yang dicetak atau ditulis di kertas, disampul rapi dan dijual ke pasaran. Yang bisa kita simpan sebagai sebuah warisan ilmu kepada generasi seterusnya.

Aku pergi, jika…

Ujian jarak adalah ujian terbaik, untuk dua orang yang belum saatnya saling bersisian…

Pernah kau tanya, bagaimana jika sepergimu nanti aku bertemu dengan seorang lain. Yang mencintaiku dan menggantikan posisimu. Pertanyaan yang kau lontarkan, seminggu sebelum keberangkatanmu.

Pertanyaan macam apa itu? Yang bahkan aku sendiri tak mampu membayangkannya.

Kau sendiri tahu jawabannya. Bagaimana aku bisa beranjak pergi dari sisimu? Sedangkan, selama bertahun-tahun tak pernah ada orang lain, tak pernah ada yang menggantikan posisimu, bahkan di saat kita berjauhan tanpa saling menyapa dalam waktu yang lama. Kau sendiri mengerti, aku selalu ada di sisimu, segera sekembalinya dirimu. Lalu bagaimana bisa ada orang lain yang menggantikan?

Sayang, kau sendiri tahu apa yang telah kita korbankan untuk bisa terus bersisian. Bagaimana mungkin kubiarkan pengorbanan itu sia-sia, dengan menghadirkan orang lain dalam lingkaran yang kita buat? Bahkan untuk membayangkan itu terjadi saja tak pernah sanggup. Aku malah takut kau yang melakukannya. Wajar bukan?

Sayang, jangan pernah bayangkan aku bersama orang lain. Aku saja tak sanggup bila membayangkan yang kudampingi bukan dirimu.

Jangan pernah lagi bertanya. Karena aku tak akan beranjak dari sisimu. Bahkan di antara jarak puluhan ribu kilometer yang harus kita jalani untuk ratusan hari ke depan. Perbedaan dan permasalahan yang terbentang luas. Tak sedikit pun aku ingin pergi dari sisimu.

Sayang, ketahuilah. Aku, wanita yang sudah bertahun-tahun ini bersamamu, mendampingimu, mendoakanmu, bahkan kadang mengganggumu, tak pernah bisa beranjak jauh. Hatinya sudah kau ikat. Jiwanya sudah kau pegang. Aku akan pergi, hanya jika kau yang memilih untuk tak bersamaku lagi. Hanya jika kau anggap ada yang lebih baik yang lebih pantas bersamamu. Jika tidak, maka aku tak akan pernah meninggalkanmu tanpa pamit, selalu ada di sisimu, di dekatmu, bersamamu…

Dari aku, wanita yang sepenuhnya terlalu mencintaimu.
Untukmu, lelaki yang sedang jauh dari pandangan, berbatas jarak dan perbedaan waktu.

-Banjarmasin, 19 Maret 2016-