Cuti Posting

Maaf banget untuk postingan yang kayaknya mandeg di tanggal 28 Agust lalu. Niatnya memang pengen posting minimal 1 artikel, yang isinya tentang jalan-jalan di Balikpapan – Kalimantan Timur. Pikir saya juga, “ah, ntar gampang, ada wi-fi hotel, bisa aja dipakai buat posting malam-malam.” Apalah daya, untuk postingan pertama dan kedua di Balikpapan memang aman sih, tapi seterusnya, susah buat buka internet. Sampai saya akhirnya nyerah sendiri buat posting *nangis*.

Entah kenapa waktu itu internet di hotel parah banget, saya kan niatnya juga pengen pas nulis artikelnya dalam kondisi santai, rileks. Mungkin juga ada hubungannya sama gangguan di satelit punya Telkom, yang waktu itu bikin ribuan ATM – termasuk di Balikpapan- gak bisa lakukan transaksi.

Kenapa gak pakai kuota internet? Karena waktu itu koneksi saya pakai kartu dari provider yang biru (takut nyebut merk), yang sebab musababnya adalah di komplek rumah lagi kosong di provider merah yang biasa dipakai. Jadilah milih yang biru, itung-itung nyobain koneksinya selancar jaya yang diiklankan gak sih?

IMG20170901154237

provider biru atau merah? merah laaaaah!

Awalnya gak ngeh sih sama keparahan koneksinya, cuma pas malam sekitar jam 10, ternyata Subhanallah, udah gangguan di kawasan rumah saya. Padahal jam segitu justru me time-nya saya habis seharian kerja. Jangankan buka artikel di google, mau cek WA, kirim BBM sampai posting di IG pun juga gak bisa. Baru dua hari pemakaian udah mau nyerah sebenarnya, cuma ya gitu, sayang karena kuotanya masih banyak, nanggung kan. Akhirnya ya sudah, diputuskan buat dihabisin dulu aja ini kuota.

Saya kira, di wilayah lain seperti Balikpapan lebih bagus di provider biru ini. Apalagi kalau dipikir-pikir di sana nanti bakal lebih sering aktivitas di luar, biasanya lancar jaya kan ya? Rupanya saya salah! Mau nyari driver GoCar pun susahnya minta ampun, apalagi kalau pas hujan. Sedih.

Puncaknya adalah tanggal 28 Agustus tengah malam, menuju 29 Agustus dinihari, jam-jam biasa saya posting artikel blog. Si provider biru sudah ngadat bahkan dari jam 8 malam, hilang sinyal, gak cuma kasih tanda connecting doang. Tapi beneran hilang sinyalnya, kosong. Oh iya, henpon saya dual SIM, jadi untuk kartu utama buat nelpon, sms, pakainya nomor yang udah dipakai sejak dulu kala. Sedangkan buat internetan sengaja beli kartu lepasan karena lebih hemat di kantong, hehehe.

Karena masalah kartu-kartuan itulah, akhirnya saya gak tahan juga buat segera balikan sama si merah, segera setelah mendarat lagi di Banjarmasin :D. Soalnya bukan cuma susah posting, buka internet ataupun leyeh-leyeh nonton video youtube, kerjaan juga kena imbas dari si biru yang gangguan. Apalagi statusnya lagi cuti gini, saya mesti tetap standby buat cek kerjaan yang udah di-stok beres apa belum, aman apa gak.

Kesimpulannya, buat saya -sekali lagi, ini buat saya-, gak bisa cuma berlabel murah dan kuota yang didapat banyak. Banyak kalau gak bisa dipakai juga percuma sih, ya. Si merah sejauh ini memberikan saya kepuasan dalam pemakaian. Dari awal punya henpon tahun 2005, sampai sekarang juga masih dipakai. Iya sih, untuk pembelian data internet mahal, tapi rupanya hal itu sesuai dengan kecepatan koneksi dan jangkauan yang luas. Pernah nih ya, tugas ke luar kota, yang bener-bener di pedalaman, sekalipun jaringan internet gak ada, saya masih bisa nelpon atau sms dengan aman. Sedangkan di henpon satunya yang dipasangin provider warna hitam (you know what I mean, kan ya?), belum masuk pedalaman, masih di pusat kabupatennya udah hilang sinyal. Kzl. Zbl.

Oh iya, Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriyah, ya :). Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah.

-xoxo-

Advertisements

[Trip Review] Balikpapan : 1st day – after landing

Kami bertiga -saya, Mona, dan Lani- memilih penerbangan siang dengan Garuda Indonesia, pukul 12.35 WITA dari Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin di Banjarbaru. Waktu yang cukup tepat, menurut kami, karena gak perlu buru-buru bangun pagi, dan masih bisa menyelesaikan beberapa urusan.

Setelah mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman – Balikpapan, touch up dan ambil bagasi, Mona nanya, “ke hotel pakai apa?” Karena ada beberapa pilihan, pakai argo, taksi bandara atau Go Car. Pengalaman saya sebelumnya, pakai taksi konvensional sekitar 75 ribu untuk sampai ke Whiz Prime Hotel di kawasan Sudirman. Iseng, saya coba cek di aplikasi GoJek, ternyata cuma 48 ribu. Buat kami wisatawan beruang saku terbatas, perbedaan harga segitu ya lumayan.

GoCar Apps, Bandara Sepinggan – Whiz Prime just 48 ribu

Setelah ketemu sama pengemudinya, ditawarin top-up Go Pay, dipikir-pikir, lumayan lah buat dipakai ntar. Akhirnya ngisi 100 ribu. Alhamdulillah emang kepakai banget sih, walaupun lebih banyak pakai angkot, naik GoCar berguna saat kaki sudah lelah jalan-jalan ๐Ÿ˜‚.

Sayangnya, walaupun kami sampai di hotel tepat jam 2 siang, belum bisa check-in karena memang baru lewat 1 jam dari batas check-out. Kamar-kamar yang harus dibersihkan otomatis banyak kan? Gak sebanding dengan yang mau nginap. Jadilah kami nunggu di lobi, bersama beberapa calon tamu juga. Padahal badan sudah keringatan, ngantuk, pengen istirahat sebelum jalan-jalan.

Oh iya, untuk hotel, kita memang sudah satu paket sama pesawat, milihnya di Whiz Prime. Salah satunya karena saya sudah pernah nginap di sini, tahu lokasinya, beberapa spot yang bagus, dan tentunya karena berada di tengah-tengah. Gak di tengah kota banget, memang. Tapi jalur strategis lah. Continue reading

Holiday? Sure!

Perjalanan terakhir saya yang murni buat liburan, terhitung 1 tahun 3 bulan yang lalu, dengan tujuan Balikpapan – Kalimantan Timur. Liburan yang mepet waktu, terbatas banget lah pokoknya. Soalnya cuma 3 hari. Itu pun dihitung dari berangkat Rabu malam, pulang Jumat sore.

Iya sih, ada juga perjalanan lainnya ke luar kota, seperti ke Balikpapan (lagi) di bulan September dan Kepulauan Seribu – Jakarta pada Mei 2017 kemarin. Tapi ya gitu, terbatas waktu karena memang buat tugas, rombongan pula. Jadi jalan-jalannya memanfaatkan waktu luang yang terbatas itu. Apalagi kalau rombongan juga sudah ada jadwal tersendiri, susah buat diakalin. Gak enak sama panitia, nantinya ๐Ÿ˜….

wp-image-332281882

Landing on Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport – Balikpapan, (26/08) – dokumentasi pribadi

Nah, habis Lebaran lalu, ngumpul sama sahabat-sahabat di rumah satu sahabat yang baru lahiran. Biasanya memang kalau ngumpul, ya di rumahnya dia. Tercetuslah rencana jalan-jalan bareng, berdua aja, saya sama si sahabat satunya yang juga sama-sama masih single. Sebenarnya melanjutkan rencana yang dulu juga, mau liburan bertiga ke Yogya atau Bali. Apalah daya. waktu itu sama-sama sibuk, sampai akhirnya yang satunya nikah dan lahiran. Continue reading

[Review] : Bedak untuk Kulit Kombinasi

Halo, kalian yang kulitnya kombinasi pasti sering bingung (dan pusing) waktu milih kosmetik yang cocok. Salah pilih, malah bisa bikin muka tambah berminyak, atau bahkan muncul jerawat. Apalagi tipe kombinasi ini gak bisa sembarangan pilih kosmetik. Kenapa? Karena ada 2 tipe kulit yang beda dalam 1 wajah. Yes, di bagian pipi dan dagu biasanya lebih kering, dan di bagian TZone, yaitu di bagian dahi hingga hidung (terutama hidung sih, ya), berminyak dan rawan jerawatan.

Trus gimana milihnya? Trust me, saya juga pernah begitu, sampai sekarang malahan ๐Ÿ˜ญ. Dari masalah nyari bedak, lipstik (bibir termasuk keriiiing banget), sampai foundation dan pelembab yang cocok, itu susahnya minta ampun. Tapi, karena kali ini kita cuma bakal bahas bedak, bahasannya dipersempit dulu ya ๐Ÿ˜‰.

Aslinya, saya gak termasuk beauty enthusiast, karena make-up juga jarang banget, kecuali ada acara-acara tertentu. Dari kecil sampai kerja, cuma pakai bedak bayi (merk apapun), paling banter pakainya pelembab kayak Citra, Garnier, atau Pixy, sebelum pakai bedak bayinya. Yang paling sering dipakai merk Kodomo, Cussons, atau My Baby. Tapiiii, namanya bedak bayi, tentu coverage-nya jauh dibandingkan bedak yang ‘profesional’. Paling banter 1 jam, udah hilang bedaknya, muncul minyaknya. Padahal kegiatan banyak, kan gak lucu kalo di tengah kegiatan harus touch up, bedak bayi pula. Waktu itu cuma tau kulitnya berminyak, udah gitu aja.

Continue reading

[Review] : BRASOV Parfume Lovely Fragrance 50 ml

Jadi, waktu itu pernah minta parfumnya temen Adek, pas lagi ngumpul di rumah. Kepepet, parfum lagi habis, akhirnya minta. Pas disemprot, kok wangiiiii. Lembut gitu wanginya, tapi gak nusuk hidung. Enak pokoknya. Nanya lah di mana belinya? Katanya beli online, pas ada promo jadi sekalian beli banyak, nyetok. Oooh online, males kan akhirnya beli, apalagi parfum mah beli banyak-banyak juga kok gimanaaaaa gitu. Paling banter beli 3 botol, ongkirnya mahal.

Processed with VSCO with hb2 preset

Brasov Eau De Parfum – Lovely 50 ml

Eh tau-tau, si Adek awal bulan ini ngajak joinan, beli parfum yang kayak punya si Echi (temennya dia yang saya mintain parfum dulu itu). Dia bilang, “Kalau beli banyak, bakal dapat subsidi ongkir 30 ribu pakai shopee, lumayan harga per botol jadi 13 ribuan aja.” Tergoda lah saya akhirnya, ikutan mesen juga sama si Adek dan satu temennya yang lain. Pas searching, eh ternyata varian wanginya banyak, ada 8 kalo gak salah. Tapi saya milih yang warna pink ini, yang pernah saya pakai dulu *karena cuma tau wanginya yang itu aja ๐Ÿ˜†. Belinya dua botol, plus satu botol yang Sport buat temen. Continue reading

17 Agustus : a moment to remember

Detik-Detik Proklamasi. Derap langkah Paskibra. Aubade lagu-lagu perjuangan. Andika Bhayangkari. Langkah kaki pembawa baki bendera. Suasana khidmat. What else? Masih banyak lagi sebenarnya, yang selalu hadir di ingatan, saat kita mengingat momentum 17 Agustus-an. Apalagi buat saya pribadi, yang rutin nonton Upacara Pengibaran dan Penurunan Bendera di Istana Negara melalui TV. Tontonan wajib! *kalau gak nonton rasanya kecewaaaaa banget ๐Ÿ˜….

Rutinitas tahunan yang mulai berubah ketika sudah jadi anak SMP, kemudian SMK, dan akhirnya kuliah. Harus ikut upacara pengibaran, yang artinya : gak bisa nonton upacara pengibaran karena waktunya hampir bersamaan ๐Ÿ˜ญ. Sedih itu mah, beneran, mana waktu itu belum jaman streaming atau Youtube pula. FYI, upacara di Banjarmasin mulainya jam 10 WITA, nah, sedangkan di Istana Negara mulainya jam 10 juga, tapi WIB, di sini jam 11 WITA berarti. Boro-boro sempat nonton, upacara mana ada yang kelar jam 11 ๐Ÿ˜…. Paling banter nontonnya pas penurunan aja, sore hari.

Detik-Detik Proklamasi – Paskibra 2017 Kota Banjarmasin di Halaman Balaikota, Kamis (17/08) – dokumentasi pribadi

Continue reading

Terjebak Nostalgia

Pernah terjebak nostalgia? Pernah. Sering malahan.
Terakhir kali baru beberapa jam yang lalu. Gara-garanya kebuka lemari dan ngeliat masih ada bingkai foto keselip di tumpukan jaket. Padahal, seingat saya, itu bingkai (plus fotonya) sudah diungsikan ke sudut lemari paling dalam. Teteeeeuuuup aja nongol ya :D.

Baper? Gak lah. Cuma ya normal, ketika lihat foto-foto dari masa lalu, semua kenangan perlahan nongol ke seluruh penjuru. Memutar balik film lawas tentang hati yang pernah sejalan, pernah searah, juga pernah satu frekuensi. Apalagi saya tipe-tipe manusia yang menghargai kenangan, sepahit apapun itu, hehehe.

Terjebak nostalgia, bukan perkara yang salah sebenarnya, selama yang diingat jadi pengingat biar gak terjerumus dalam rasa kangen yang menggebu. Apalagi pengen balikan lagi dan mengulang kenangan. Ingat, tak semua kenangan bisa dinikmati, juga tak semua kenangan berhak untuk mendapatkan tempat di hati. Terlebih kalau kenangannya agak pahit dikit, macam pare yang suka dimasak Ibu tapi gak pernah saya makan.

Tapi, keputusan untuk menjebak diri dalam nostalgia, itu kembali ke diri masing-masing. Menjadi hak bagi tiap-tiap diri untuk menikmati kenangan dalam visualisasi berbentuk apapun. Selama tak melanggar hukum dan menyakiti hati orang lain, silahkan.

ps : ini juga sengaja nambahin URL youtube-nya Raisa – Terjebak Nostalgia, biar makin baper :p.

Selamat bernostalgia,
-xoxo-

Perjalanan

Menjadi putri Abah (rahimahullah) membuka mata saya untuk menjelajahi berbagai hal. Tak terbatas tempat dan waktu, selama tak membuat saya mengubah kodrat dan menghindar dari kewajiban dan tugas sebagai seorang wanita. Cinta pertama yang mengajari saya bahwa menjadi wanita justru adalah anugerah. Guru saya dalam segala hal kehidupan.

Meninggalnya Abah di awal 2016 sempat membuat saya terguncang. Bagaimana rasanya kehilangan sosok yang terus saya dampingi, kadang bertengkar, kadang kesel-keselan, kadang marah-marahan, tapi tak pernah berjarak lebih dari 20 meter, kecuali saat saya berada di kantor atau ada kerjaan lain. Kehilangan beliau ternyata mematikan separuh jiwa saya sebagai seorang putri, yang tak pernah berada jauh dari ayahnya, sepanjang hidupnya.

wp-image-1516084292

dokumentasi pribadiย  : Pulau Tidung – Kepulauan Seribu – DKI Jakarta. Mei 2017

Selama bekerja di pemerintahan, Abah sering mendapatkan tugas ke berbagai daerah. Mengingat bidang beliau membawahi kegiatan desa dan seringkali membawa pemenang lomba desa ke Jakarta, untuk menerima penghargaan atau urusan lainnya. Berbagai kultur dan budaya daerah, selalu menjadi oleh-oleh cerita yang saya tunggu. Pastinya usai membongkar koper dan tas bawaan Abah yang isinya pesanan anak-anaknya :D.

Continue reading

Tendinitis, really?

Tendinitis adalah peradangan yang terjadi pada tendon. Tendon merupakan struktur elastis yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendinitis dapat terjadi pada tendon di mana saja, namun paling sering terjadi pada siku, pergelangan kaki (tendon Achilles), bahu, panggul, lutut, jari dan pergelangan tangan.

Sebenarnya dan sesungguhnya, jari jempol tangan kanan saya lagi nyeri. Seminggu terakhir, kayaknya. Kalau dalam keadaan biasa sih gak berasa, tapi kalau lagi angkat barang atau ngetik di henpon, nyerinya berasa. Apalagi 3 hari ini. Makanya sementara waktu, kegiatan yang banyak gunain jempol saya kurangin.

Alhasil, WA grup pun cuma dilirik sekilas, kalau gak penting-penting amat ya gak dibalas, atau seadaanya aja balasannya. Maapkeun ๐Ÿ˜…. Ini pun ngeblog lewat aplikasi wordpress, si henpon mesti ditaroh, jadi ngetiknya *termasuk 2 artikel sebelumnya* kayak orang lagi pakai keyboard manual. Karena kalau dipaksain, nyeri sudah pasti, trus saya juga mau ini jempol makin kenapa-napa.

Continue reading

Kopi Bantu Diet?

Pertanyaannya : emang beneran bisa? Eh tapi siapa yang lagi diet? ๐Ÿ˜‚ *secara gak ngerasa lagi diet diet apalah itu namanya.

Lepas dari apakah kopi benar-benar bisa bantu program diet, bisa jadi. Selama yang diminum adalah kopi murni, tanpa oplosan krimer, gula, apalagi sianida. Karena percuma sih, kalau minum kopi hitam, tapi ujung-ujungnya bakal minta gula tambahan, sama aja numpuk gula ๐Ÿ˜‰.

Continue reading