Karena Aku Tak Mau Jadi Apa Adanya

Aku tak mau hanya “apa adanya”.
Aku tak mau hanya jadi sebiasa mungkin, just a plain me, tidak.
Aku tak mau hanya jadi diriku yang seperti ini jika harus mendampingimu.

Aku harus berubah. Aku tak boleh terus begini.
Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai pasanganmu.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai Ibu dari anak-anak kita kelak.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai sosok baru dalam keluargamu nanti.

Bukan berarti Aku akan memakai topeng dan berpura-pura.
Bukan berarti Aku akan berbohong dan bersikap palsu di hadapanmu.
Tidak, sungguh bukan itu maksudku.

Aku tetap diriku sendiri, tetap wanita yang Kau kenal seperti dulu.
Sosokku tak akan berubah, fisikku tak akan ada bedanya.
Sifatku? Mungkin ada beberapa yang akan menjadi beda.
Kebiasaanku? Tentunya akan ada yang tak lagi sama.

Kamu pasti bertanya, “untuk apa?”
Maka akan kujawab, “ini untuk jadi diriku yang lebih baik, untuk jadi calon Ibu yang baik untuk anak kita kelak”
Kamu pasti berpikir, “apa karena diriku?”
Maka akan kujawab, “mungkin memang karenamu, tapi ini keinginanku sendiri yang mau jadi lebih baik dan lebih pantas”

Aku tak berubah karenamu, tapi karena adanya dirimu yang membuatku bersemangat untuk jadi orang yang lebih baik lagi.

Aku tak ingin jadi “apa adanya”, karena itu tandanya Aku egois.
Egois karena Aku hanya ingin Kamu menerimaku dengan paket yang belum direvisi.
Egois karena Aku hanya ingin Kamu mencintaiku dengan diriku yang belum diperbaiki.

Aku tak mau egois, Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu.
Aku juga ingin berjuang untuk kita, demi langkah-langkah mungil yang nantinya akan mewarnai hari-hari indah kita.
Untuk hal itu, tak mungkin kalau Aku harus jadi “apa adanya” kan?
Aku ingin makhluk-makhluk mungil itu bangga pada Ibunya.
Aku juga ingin membuatmu bangga karena jadi wanita yang lebih baik.

Untuk diriku sendiri.
Karena itu, Sayang… Aku tak mau Kamu menerimaku “apa adanya”, Aku ingin Kamu menerimaku yang selalu berusaha jadi lebih baik.

Aku menyayangimu, lebih dari milyaran butiran garam di pasir pantai.

-from my desk, with love-

ps: tulisan ini pertama kali diposting di blog yang sebelumnya (dan sudah dihapus).

Advertisements

Sejarah : Bagian Yang Sering (di)Lupa(kan)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.” Bung Karno

Kalimat ini dikutip dari salah satu isi pidato Bung Karno pada masa kepemimpinan beliau. Kalau dibaca lagi, pidato yang ‘usia’nya sudah puluhan tahun itu masihkah relevan dengan yang terjadi sekarang? Salahkah kalau saya bilang “tidak”?
…..Yuk lanjutin disini bacanya>>>