Tentang Rasa

image

G’Sign Hotel Banjarmasin – 8th floor (dokumentasi pribadi)

Yang kerap tak terjamah kata. Menjumput rasa demi rasa, dari setumpuk kenangan.
Menghitung waktu menuju hari.
Seolah menanti mentari tenggelam, menghilang di balik horizon.

Hati mencoba menuntut haknya. Untuk memiliki. Untuk dimiliki.
Tak mau tahu apa yang menghalangi. Seperti yang mereka ucap, bahwa hati memang kerap egois. Tak ingin kalah tapi mengalahkan.

Lalu bagaimana dengan rasa yang tertahan? Menggambar perih di antara ruang jantung yang berbilik tertutup rusuk.
Bagaimana nasib jiwa yang menunggu dengan menekan rasa agar tak berpaling? Sedangkan Ianya tahu, hati yang ditunggu tak akan pernah kembali. Tak akan pernah berbalik dan menoleh.

Bahwa pergi tak melulu harus datang.
Bahwa rasa seringkali tak berkawan dengan hati.
Juga…
Bahwa ketika kaki memutuskan untuk melangkah pergi, seringkali tak pernah kembali.
Atau memang, karena tak ingin kembali.

– Banjarmasin, 26.02.2016. 01.40 WITA-

xoxo

Mencintai Hujan

Hujan kali ini.

Aku seolah kembali pada kilas waktu bertahun yang lalu. Saat hati pernah termiliki. Saat harapan masih menggebu dalam diri.

Sudah lama rasanya, berdiri menunggu di dekat pintu kedatangan bandara. Kaki tak bisa diam, tak sabar untuk melangkah dan menjemput. Ya, memang suda lama berlalu. Tanpa terasa hati pun ikut membeku seiring berlalunya waktu.

Tapi aku tak akan menceritakan tentangmu yang lenyap dimakan masa. Juga bukan tentang bagaimana hebatnya waktu bisa membuatku melupakanmu dengan nyaris sempurna. Ini cerita tentang bagaimana hujan membuatku jatuh cinta berjuta kali sampai hampir tak berbatas. Ya, aku mencintai hujan dan segala dingin yang menyertainya.

Continue reading

Ruang Tunggu #ChapterEmpatDua

image

Pic: Koleksi Pribadi - 16.03.2014

Apa yang harus kutulis tentangmu?
Sedangkan menulis tentang kita pun sepertinya tak mungkin.
Tak pantas, lebih tepatnya, benar kan?

Di depanmu aku memakai topeng. Maaf…
Maafkan aku jika topeng tawa dan senyum yang kuhadirkan.
Maafkan aku jika di balik pelukan ada tangis pilu tak ingin melepas pergi.
Maafkan atas segala rasa yang tak pernah bisa menahan langkahmu, apalagi meminta lebih.
Maafkan cinta…

Ribuan kali terpikir untuk pergi, tapi kaki tak pernah bisa beranjak.
Meski hati dan pikiran tau bahwa langkah kita tak pernah satu arah.
Meski sadar bahwa bentuk hatimu sudah tak utuh, terbagi atas beberapa.
Meski paham bahwa tak beranjak berarti memilih menanti.
Seolah hati sedang berjudi dengan waktu, juga diri sedang bertaruh memenangkan kepemilikan atas cinta.

Duhai hati… Apa yang sebenarnya kau inginkan?
Tak terbukakah matamu melihat apa yang selama ini ada untukmu?
Tak sadarkah hatimu merasakan siapa yang selama ini ada didekatmu?
Tak bergunakah waktu-waktu yang habis terurai untuk memenangkanmu meski kadang berhias luka dan tangisan?

Ah, aku lupa… Memang inilah resiko mencintaimu.
Bersaing dengan hal-hal yang tak pernah bisa kusaingi.
Aku tau, sadar, bahkan teramat paham bahwa bentuk hatimu tak utuh, bagian untukku tak sampai setengah karena juga dimiliki oleh yang lain.
Tak adakah kau sadar bahwa pahamnya aku adalah tanda besarnya rasa?

Jangan memintaku pergi, karena aku tak akan pernah pergi. Tak bisa…
Tapi juga jangan menelantarkan hatiku begitu lama.
Bentuknya yang koyak jangan lagi kau tambah dengan guntingan-guntingan ketidakpastian.

Hari esok siapa yang tau? Hari ini aku bersikeras menantimu, hari esok bisa saja aku menyerah dan pergi…
Tergelitik hati, menerka, menebak, bagaimana jika aku benar-benar menyerah? Bagaimana jika aku yang meninggalkanmu pergi tanpa jejak?
Bagaimana jika… Ah, sudahlah. Tak baik jika banyak berandai.
Seperti tak baiknya jika bermimpi dan berharap terlalu tinggi tanpa siap untuk kecewa.

Pintaku satu, telusuri hatiku dengan hatimu, bukan hanya dengan mata dari tubuh fanamu…

-Zhafira kepada Tama-
#AKNsnote #AugustSeries #lovepoem #pesancinta #chapterempatdua

(Masihkah) Menunggu?

“Berjalan di bawah langit yang sama, tapi berpijak di bumi yang berbeda. Beda tempat, beda waktu, beda jalan…” #AKsnote

Menunggu… Seolah sudah menjadi bagian dari hidup. Tak terhitung berapa banyak waktu yang habis karena hanya menatap di satu sisi jalan, hanya untuk menunggu. Ketika waktu menjadi tak berharga, dan menunggumu pun jadi kebiasaan.

Ketika banyak hal yang kulewatkan, sengaja agar aku tak melewatkanmu.

Ketika banyak waktu tersita, sengaja agar waktu untukmu selalu ada.

Ketika banyak menunggu, sengaja agar aku selalu siap ada di setiap saat kau butuhkan.

Waktu berjalan dengan porosnya selayaknya bumi yang berputar, berotasi. Terus berputar tanpa henti dan tak pernah mengubah arah putarannya. Begitu juga ketika menunggumu menjadi jalanku seolah tak bisa berhenti.

Jika waktu berputar sesuai putaran, bumi berputar sesuai poros, maka ketika aku menunggumu pun sesuai dengan keyakinan hatiku. Menunggu dan menunggu. Tak adakah pekerjaan lain selain menunggumu? Pertanyaan itu jelas terlontar di hati dan bibir mereka. Tapi biarkan mereka pikirkan apa yang mereka inginkan. Biarkan pula aku dengan hatiku tetap membentuk kumparan tempat singgah yang nyaman untuk hatimu kelak.

Karena menunggumu membuatku seolah menjadi jarum yang berputar pada detik, menit, dan jam.

Juga seolah bumi yang berputar pada porosnya.

Priceless : Terlalu Berharga untuk Digantikan

Saya pernah dapat pertanyaan seperti ini, “apa yang paling berharga dalam hidup Anda?”. Selama belasan tahun berakal dan punya kemampuan untuk bicara dan berpikir, jawaban saya selalu “Keluarga. Mereka adalah hal yang paling berharga dalam hidup saya.” Jawaban yang sering saya kemukakan ketika sekolah, jawab kuis, atau saat interview kerja. Sepertinya bukan cuma saya yang begitu kan? 🙂

Image

Keluarga adalah hal paling berharga. Benarkah? Seharga apa?

Saya seolah disadarkan lagi dengan kalimat jawaban itu. Berapa harganya ya kira-kira? *kalo yang ini pertanyaan konyol, jangan coba-coba buat menjawab* :D. Betul, keluarga adalah hal terindah. Betul, keluarga adalah hal terhebat yang dimiliki manusia. Tapi buat saya, bukan yang paling berharga. *jangan protes dulu, baca sampai selesai ya* 🙂

Kok berani benar saya bilang keluarga bukan hal berharga. Apa sekarang saya sudah jadi anak durhaka? Atau saking merasa hebatnya saya sampai menganggap keluarga sudah bukan hal yang berharga lagi?

Buat saya, keluarga adalah hal terindah, terhebat, dan terberkah yang pernah saya dapatkan dalam hidup. Tapi untuk mengatakan mereka hal paling berharga dalam hidup, sepertinya kurang etis. Karena mereka jauuuuuh lebih berharga dari apapun yang saya punya. Terlalu sulit kalau harus dibandingkan dengan barang, harga, dan bahkan jasa apapun yang ada di dunia. Memiliki keluarga, bisa bersama mereka sampai detik ini, itu priceless. Terlalu berharga untuk bisa disebut paling berharga.

Keluarga, tempat saya ‘pulang’. Tempat badan dan jiwa saya ikut bertengger selama 22 tahun ini. Bercanda, berantem, ketawa-ketiwi, heboh, dan perang dunia pun sempat pecah :D. Tapi itulah hidup. Kita gak akan bisa mengerti dan memahami arti sebuah keluarga tanpa nyebur dulu dalam permasalahan yang ada kan? :).

Saya berasal dari keluarga besar. Besar dalam makna denotatif dan konotatif. Keluarga yang jumlahnya besar dan berbadan besar pula :D. Nenek saya punya anak 6 (aslinya 7, tapi meninggal waktu kecil). Abah saya anak ketiga dan punya anak 4 (cewek semua). Sodara-sodara Abah punya anak 1-4. Adiknya Nenek juga anaknya sampai belasan, bisa dikira-kira kan kalau sepupu dan keponakan saya jumlahnya ada berapa puluh orang? 😀 buanyaaaaaak. Tapi dari banyaknya anggota keluarga besar itulah, saya belajar memahami bahwa keluarga adalah hal yang teramat sangat berharga untuk dikatakan paling berharga. Uang segede gaban juga gak sanggup gantikan, emas, permata, dikasih istana Buckingham juga gak bakal bisa gantikan posisi mereka.

Saya belajar bagaimana caranya mencintai dan berbagi kasih sayang dari keluarga. Belajar bagaimana harusnya bersikap ketika ada masalah pelik, juga dari keluarga. Mereka tak hanya ‘tempat’ saya untuk pulang, mereka guru kehidupan bagi saya. Cinta yang seringkali terlupakan untuk disebut, tapi selalu ada untuk mereka.

Keluarga. Tempat yang akan selalu terbuka untuk kita pulang lagi. Sekalipun jiwa, badan, dan hati kita sudah punya rumah yang baru. Mereka rumah abadi. Yang selalu mau merangkul dan memeluk, separah apapun kesalahan yang kita lakukan. Cinta mereka jauh lebih abadi, sebenarnya 🙂

Saya mencintai keluarga besar saya. Anda? 🙂

Selamat malam, selamat menikmati hujan di luar sana… 🙂