Tentang Rasa

image

G’Sign Hotel Banjarmasin – 8th floor (dokumentasi pribadi)

Yang kerap tak terjamah kata. Menjumput rasa demi rasa, dari setumpuk kenangan.
Menghitung waktu menuju hari.
Seolah menanti mentari tenggelam, menghilang di balik horizon.

Hati mencoba menuntut haknya. Untuk memiliki. Untuk dimiliki.
Tak mau tahu apa yang menghalangi. Seperti yang mereka ucap, bahwa hati memang kerap egois. Tak ingin kalah tapi mengalahkan.

Lalu bagaimana dengan rasa yang tertahan? Menggambar perih di antara ruang jantung yang berbilik tertutup rusuk.
Bagaimana nasib jiwa yang menunggu dengan menekan rasa agar tak berpaling? Sedangkan Ianya tahu, hati yang ditunggu tak akan pernah kembali. Tak akan pernah berbalik dan menoleh.

Bahwa pergi tak melulu harus datang.
Bahwa rasa seringkali tak berkawan dengan hati.
Juga…
Bahwa ketika kaki memutuskan untuk melangkah pergi, seringkali tak pernah kembali.
Atau memang, karena tak ingin kembali.

– Banjarmasin, 26.02.2016. 01.40 WITA-

xoxo

Karena Aku Tak Mau Jadi Apa Adanya

Aku tak mau hanya “apa adanya”.
Aku tak mau hanya jadi sebiasa mungkin, just a plain me, tidak.
Aku tak mau hanya jadi diriku yang seperti ini jika harus mendampingimu.

Aku harus berubah. Aku tak boleh terus begini.
Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai pasanganmu.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai Ibu dari anak-anak kita kelak.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai sosok baru dalam keluargamu nanti.

Bukan berarti Aku akan memakai topeng dan berpura-pura.
Bukan berarti Aku akan berbohong dan bersikap palsu di hadapanmu.
Tidak, sungguh bukan itu maksudku.

Aku tetap diriku sendiri, tetap wanita yang Kau kenal seperti dulu.
Sosokku tak akan berubah, fisikku tak akan ada bedanya.
Sifatku? Mungkin ada beberapa yang akan menjadi beda.
Kebiasaanku? Tentunya akan ada yang tak lagi sama.

Kamu pasti bertanya, “untuk apa?”
Maka akan kujawab, “ini untuk jadi diriku yang lebih baik, untuk jadi calon Ibu yang baik untuk anak kita kelak”
Kamu pasti berpikir, “apa karena diriku?”
Maka akan kujawab, “mungkin memang karenamu, tapi ini keinginanku sendiri yang mau jadi lebih baik dan lebih pantas”

Aku tak berubah karenamu, tapi karena adanya dirimu yang membuatku bersemangat untuk jadi orang yang lebih baik lagi.

Aku tak ingin jadi “apa adanya”, karena itu tandanya Aku egois.
Egois karena Aku hanya ingin Kamu menerimaku dengan paket yang belum direvisi.
Egois karena Aku hanya ingin Kamu mencintaiku dengan diriku yang belum diperbaiki.

Aku tak mau egois, Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu.
Aku juga ingin berjuang untuk kita, demi langkah-langkah mungil yang nantinya akan mewarnai hari-hari indah kita.
Untuk hal itu, tak mungkin kalau Aku harus jadi “apa adanya” kan?
Aku ingin makhluk-makhluk mungil itu bangga pada Ibunya.
Aku juga ingin membuatmu bangga karena jadi wanita yang lebih baik.

Untuk diriku sendiri.
Karena itu, Sayang… Aku tak mau Kamu menerimaku “apa adanya”, Aku ingin Kamu menerimaku yang selalu berusaha jadi lebih baik.

Aku menyayangimu, lebih dari milyaran butiran garam di pasir pantai.

-from my desk, with love-

ps: tulisan ini pertama kali diposting di blog yang sebelumnya (dan sudah dihapus).

Ya, Mereka Sebut Itu dengan “Sigaraning Nyawa”

Sigaraning Nyawa” atau disingkat “Garwa” dalam tatanan bahasa Jawa halus merupakan sebutan kehormatan untuk seorang istri.

Sigaraning Nyawa” berarti “belahan jiwa” atau “separuh jiwa”, bermakna bahwa seorang istri merupakan belahan jiwa dari sang suami.

Image's Source : Google Images

Image’s Source : Google Images

Kata “sigaraning nyawa” pertama kali saya baca di salah satu novel tentang kisah cinta nyata sang penulis dengan mendiang suaminya. Mereka melalui perjalanan yang panjang, rumit, tapi juga indah, meski harus terpisah sementara dari kehidupan duniawi. Sekalipun hanya sebentar merasakan kebersamaan (hanya beberapa bulan rasanya), tapi sang istri sudah menjadi belahan jiwa bagi mendiang suaminya. “gelar” kehormatan itu bukan sang istri yang menyebut, justru dari keluarga mendiang suami dan sahabat-sahabat yang menemaninya dan melihat kasih sayang yang ditunjukkan oleh pasangan tersebut :’).

“Sigaraning Nyawa”, kata ini sangat asing untuk saya yang tidak dialiri darah Jawa sedikitpun. Namun ketika pertama kali membaca susunan kata tersebut, rasanya ada magnet tersendiri yang membuat ingin mencari tau tentang artinya lebih dalam lagi.  Hasil pencarian dari googling sampai bela-belain nelponin Bang Ali dan Mba Dini yang asli Jawa ba’da subuh saking penasarannya :D. Dari beberapa jawaban yang saya dapat, intinya ya itu tadi, “sigaraning nyawa”artinya adalah belahan jiwa, istilah ini dikhususkan kepada pasangan suami istri yang tidak hanya menjadi suami atau istri saja, tapi juga sahabat, partner, guru, semuanya. Pasangan dalam arti yang sesungguhnya, yang akan kurang bila salah satu tidak ada dan akan semakin lengkap juga spesial ketika mereka berdampingan.

“Sigaraning Nyawa” perwujudan dari cinta sejati yang tidak bisa lekang oleh hal apapun. Tidak terbatasi oleh pendeknya waktu dan sebentarnya proses pembangunan cinta berlandaskan kesetiaan dan penghargaan pada pasangan. Ketika yang satu tidak ada, maka akan menjadi “timpang” dan mengacaukan “timbangan” hati yang mereka punya. Mereka harus bersama, berdampingan, meskipun yang satu masih berada di dunia dan yang satunya harus duluan menuju-Nya. Subhanallah :’)

“Sigaraning Nyawa” kalau kita telisik lebih jauh, dengan mengesampingkan masalah tatanan bahasa yang baik dan benar, kita akan tau bahwa 2 kata ini sebenarnya juga terikat. Yang kalau dipatah menjadi satu bagian kata saja tidak akan memunculkan arti kata yang begitu spesial. Coba saja anda patahkan kata “sigaraning” dan “nyawa”.

“Sigaraning” yang asal katanya dari kata “sigaran” artinya adalah belahan. Tiap orang yang hanya membaca kata “sigaran” akan punya banyak persepsi tentang kata yang satu ini. Lalu kata “nyawa” yang kita tau artinya merujuk pada jiwa seseorang. Tidak ada yang spesial kan? Karena setiap manusia punya nyawa.

Nah, lalu apa yang akan terjadi ketika kita sandingkan dua kata ini?“sigaraning nyawa” punya makna lebih dalam dari sekadar nyawa atau jiwa seseorang. Makna yang luas, dalam, dan punya arti khusus yang menuntut pemahaman lebih luas lagi. Tak hanya persoalan belahan jiwa semata, tapi juga penghargaan dan penghormatan terhadap “pengabdian” seseorang, yaitu istri.

Dalam konsep “sigaraning nyawa” kedudukan istri bukan sebagai “pembantu” atau “pelayan” saja, seperti yang banyak disalahartikan oleh banyak orang. Banyak orang berpikir kalau istri adalah sosok yang menyiapkan mereka makan, menemani mengobrol, menjadikan rumah bersih dan berkilau. Padahal sesungguhnya jauh lebih mulia daripada itu. Wanita bukan cuma “konco wingking”, tapi “sigaraning nyawa”, belahan jiwa, partner hidup, separuh nyawa yang ada di tubuh yang lain, namun dengan jiwa yang satu.

Saya juga terdiam sejenak ketika mendapati konsep “sigaraning nyawa” ini sebenarnya berbanding lurus dengan konsep dalam Islam. Dimana kedudukan wanita, terutama istri bagi suaminya adalah kedudukan yang mulia, yang spesial. Sepantasnya wanita dihargai, dicintai, disayangi, didengarkan, bukan dengan kekerasan dan “penghinaan” yang terkadang muncul dari sifat superior yang ditampilkan untuk memperlihatkan bahwa suami mereka-lah yang berkuasa.

Dalam konsep “sigaraning nyawa” yang saya simpulkan, istri punya hak yang sama untuk disayangi, bahkan mungkin lebih besar. Karena tugasnya pun sebenarnya juga besar. Meskipun dia bukan seorang “konco wingking” bagi suaminya, tapi wanita yang tau kodratnya sebagai istri dan ratu rumah tangga pasti mengerti bahwa dia harus berbakti dan mengabdi pada suaminya.

Ada cerita menarik tentang “sigaraning nyawa” ini. Tentang contoh nyata adanya belahan jiwa seseorang, meski sudah terpisah dimensi dunia. Almarhumah Nenek dan Almarhum Kakek saya contohnya. Cinta mereka tidak tersentuh rasa putus asa dan keluh kesah, meski sudah puluhan tahun harus “dipisahkan” oleh dunia yang lain. Ya, Kakek saya meninggal hampir 50 tahun yang lalu, dan Nenek tetap setia berjuang sendirian membesarkan keenam anak beliau dengan kerja keras. Justru beliau merasa semakin kuat dengan kesendirian dan “kesetiaan” pada mendiang Kakek.

Ketika saya bertanya mengapa beliau tidak menikah lagi saat itu? Padahal usia pun masih sangat muda, janda cantik berusia awal 20 tahun meskipun sudah punya 6 orang anak, tapi pada jaman itu masih menjadi primadona bagi lelaki lainnya. Apa yang beliau jawab? “Karena Nenek ingin nanti kalau sudah meninggal, di hari akhir nanti disatukan kembali sama mendiang Kakekmu. Seperti salah satu hadis yang bilang kalau seorang istri yang setia akan dipertemukan kembali di akhirat kelak”. Subhanallah…. :’)

Ini salah satu hadis yang (akhirnya) saya temukan sendiri:

Ada satu hadis, yang diambil dari perkataan Rasulullah SAW yang diucapkan Abu ad-Darda kepada istrinya, Umm ad-Darda

“Seorang wanita akan berada di samping suaminya yang terakhir”

“Sigaraning Nyawa” memberikan suatu pemahaman baru bagi saya pribadi tentang bagaimana seharusnya pasangan bersikap. Kedua belah pihak, suami dan istri. Tidak hanya suami atau istri saja yang mempertahankan keharmonisan rumah tangga, tapi kedua orang ini yang harus mempertahankannya.

“Sigaraning Nyawa”… ketika cinta saja tak cukup untuk menjadi penguat dalam sebuah hubungan dan komitmen tak cukup untuk menjadi pengikat antara dua anak manusia. Dibutuhkan hal yang lebih daripada sekadar cinta dan komitmen. Penghargaan, penghormatan, kerjasama, dan kepercayaan.

Semua itu ada dalam konsep yang bernama “Sigaraning Nyawa” atau aku menyebutnya sebagai…. Belahan Jiwa