Halaman Tawa

2012. Tahun yang sempat menghilangkan halaman tawa yang pernah saya miliki.

Hari-hari suram yang pernah membuat saya hidup seperti mayat hidup. Hanya sekadar mengikuti ritme hidup. Bangun – kuliah – kerja – pulang – tidur. Sampai berbulan-bulan lamanya. Sampai saya lupa bahwa ternyata hidup saya hanya berada di titik yang sama, tanpa bergerak sama sekali untuk menyambut kenyataan.

Kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu ditangisi, disesali, diratapi dan diingat lagi. Tapi tetap saja, halaman tawa yang saya miliki saat itu lenyap entah ke dimensi mana.

Saya lupa, bahwa ada orang-orang terdekat yang sangat menyayangi, namun tentunya tidak sepenuhnya memahami prahara yang terjadi. Saya menutup diri berbulan-bulan, juga hati, dari segala kemungkinan untuk jatuh hati lagi. Segala kemungkinan untuk bertemu dengan seseorang dan mencintai lagi.

V60 Wening Galih – Office Coffee Banjarmasin

Gagal menikah mungkin biasa bagi beberapa orang. Jawaban simpel adalah ‘belum jodohnya’. Tapi jika yang terjadi adalah menghilangnya si pria tanpa kabar di tengah persiapan, percayalah, tak semudah itu untuk memahami dan menjalaninya. Continue reading

Advertisements

“Dimana?”

Entah itu kebiasaanmu atau memang hanya ditujukan padaku saja. Pesan singkat yang (sebenarnya) selalu kutunggu. Ya, hanya satu kata itu. Tak perlu tambahan kata lainnya. Satu kata itu saja sudah memenuhi semua hal. Kamu merindukanmu. Benarkan?

Ah, anggaplah benar. Tak apa kan? Karena aku sendiri bahkan tak pernah bisa menembus dalamnya hati dan pikiranmu. Seolah ada gorden tebal yang menutupi. Tabir yang kau buat dan tutupkan sendiri.

Tak apalah. Satu kata itu pun bagiku cukup. Meskipun kadang harus menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkannya. Meskipun kadang harus kenyang hanya dengan rangkaian kata. Bisakah aku meminta waktumu? Bisakah aku menagih sedikit waktu saja untukku?

Sedikit waktu untuk sekadar berbicara tentang kita. Tentang aku dan kau. Walaupun ya… Kita sendiri tahu bagaimana langkah kaki sudah saling menentukan arah.

Kau sudah punya langkah dan tujuan sendiri. Sedang aku masih berjalan perlahan menuju ke arahmu yang selalu berganti arah tiap kuikuti. Sambil terus berharap saat kaki melangkah, pesanmu kembali datang seperti biasanya, “Dimana?”

-tulisan ini juga diposting di katakutubuku.tumblr.com-