Ruang Tunggu #ChapterEmpatDua

Apa yang harus kutulis tentangmu? Sedangkan menulis tentang kita pun sepertinya tak mungkin. Tak pantas, lebih tepatnya, benar kan? Di depanmu aku memakai topeng. Maaf... Maafkan aku jika topeng tawa dan senyum yang kuhadirkan. Maafkan aku jika di balik pelukan ada tangis pilu tak ingin melepas pergi. Maafkan atas segala rasa yang tak pernah bisa … Continue reading Ruang Tunggu #ChapterEmpatDua

Advertisements

(Masihkah) Menunggu?

“Berjalan di bawah langit yang sama, tapi berpijak di bumi yang berbeda. Beda tempat, beda waktu, beda jalan…” #AKsnote Menunggu… Seolah sudah menjadi bagian dari hidup. Tak terhitung berapa banyak waktu yang habis karena hanya menatap di satu sisi jalan, hanya untuk menunggu. Ketika waktu menjadi tak berharga, dan menunggumu pun jadi kebiasaan. Ketika banyak … Continue reading (Masihkah) Menunggu?

Karena Aku Tak Mau Jadi Apa Adanya

Aku tak mau hanya “apa adanya”. Aku tak mau hanya jadi sebiasa mungkin, just a plain me, tidak. Aku tak mau hanya jadi diriku yang seperti ini jika harus mendampingimu. Aku harus berubah. Aku tak boleh terus begini. Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu. Aku ingin jadi lebih pantas sebagai pasanganmu. Aku ingin jadi lebih pantas sebagai … Continue reading Karena Aku Tak Mau Jadi Apa Adanya

Ya, Mereka Sebut Itu dengan “Sigaraning Nyawa”

“Sigaraning Nyawa” atau disingkat “Garwa” dalam tatanan bahasa Jawa halus merupakan sebutan kehormatan untuk seorang istri. “Sigaraning Nyawa” berarti “belahan jiwa” atau “separuh jiwa”, bermakna bahwa seorang istri merupakan belahan jiwa dari sang suami. Kata “sigaraning nyawa” pertama kali saya baca di salah satu novel tentang kisah cinta nyata sang penulis dengan mendiang suaminya. Mereka melalui perjalanan … Continue reading Ya, Mereka Sebut Itu dengan “Sigaraning Nyawa”