Tentang Rasa

image
G’Sign Hotel Banjarmasin – 8th floor (dokumentasi pribadi)

Yang kerap tak terjamah kata. Menjumput rasa demi rasa, dari setumpuk kenangan.
Menghitung waktu menuju hari.
Seolah menanti mentari tenggelam, menghilang di balik horizon.

Hati mencoba menuntut haknya. Untuk memiliki. Untuk dimiliki.
Tak mau tahu apa yang menghalangi. Seperti yang mereka ucap, bahwa hati memang kerap egois. Tak ingin kalah tapi mengalahkan.

Lalu bagaimana dengan rasa yang tertahan? Menggambar perih di antara ruang jantung yang berbilik tertutup rusuk.
Bagaimana nasib jiwa yang menunggu dengan menekan rasa agar tak berpaling? Sedangkan Ianya tahu, hati yang ditunggu tak akan pernah kembali. Tak akan pernah berbalik dan menoleh.

Bahwa pergi tak melulu harus datang.
Bahwa rasa seringkali tak berkawan dengan hati.
Juga…
Bahwa ketika kaki memutuskan untuk melangkah pergi, seringkali tak pernah kembali.
Atau memang, karena tak ingin kembali.

– Banjarmasin, 26.02.2016. 01.40 WITA-

xoxo

(Masihkah) Menunggu?

Image's Source: http://www.dream-wallpaper.com/free-wallpaper/photography-wallpaper/pocket-watch-wallpaper/1920x1200/free-wallpaper-34.jpg
Image’s Source: http://www.dream-wallpaper.com/free-wallpaper/photography-wallpaper/pocket-watch-wallpaper/1920×1200/free-wallpaper-34.jpg

“Berjalan di bawah langit yang sama, tapi berpijak di bumi yang berbeda. Beda tempat, beda waktu, beda jalan…” #AKsnote

Menunggu… Seolah sudah menjadi bagian dari hidup. Tak terhitung berapa banyak waktu yang habis karena hanya menatap di satu sisi jalan, hanya untuk menunggu. Ketika waktu menjadi tak berharga, dan menunggumu pun jadi kebiasaan.

Ketika banyak hal yang kulewatkan, sengaja agar aku tak melewatkanmu.

Ketika banyak waktu tersita, sengaja agar waktu untukmu selalu ada.

Ketika banyak menunggu, sengaja agar aku selalu siap ada di setiap saat kau butuhkan.

Waktu berjalan dengan porosnya selayaknya bumi yang berputar, berotasi. Terus berputar tanpa henti dan tak pernah mengubah arah putarannya. Begitu juga ketika menunggumu menjadi jalanku seolah tak bisa berhenti.

Jika waktu berputar sesuai putaran, bumi berputar sesuai poros, maka ketika aku menunggumu pun sesuai dengan keyakinan hatiku. Menunggu dan menunggu. Tak adakah pekerjaan lain selain menunggumu? Pertanyaan itu jelas terlontar di hati dan bibir mereka. Tapi biarkan mereka pikirkan apa yang mereka inginkan. Biarkan pula aku dengan hatiku tetap membentuk kumparan tempat singgah yang nyaman untuk hatimu kelak.

Karena menunggumu membuatku seolah menjadi jarum yang berputar pada detik, menit, dan jam.

Juga seolah bumi yang berputar pada porosnya.