Perjalanan

Menjadi putri Abah (rahimahullah) membuka mata saya untuk menjelajahi berbagai hal. Tak terbatas tempat dan waktu, selama tak membuat saya mengubah kodrat dan menghindar dari kewajiban dan tugas sebagai seorang wanita. Cinta pertama yang mengajari saya bahwa menjadi wanita justru adalah anugerah. Guru saya dalam segala hal kehidupan.

Meninggalnya Abah di awal 2016 sempat membuat saya terguncang. Bagaimana rasanya kehilangan sosok yang terus saya dampingi, kadang bertengkar, kadang kesel-keselan, kadang marah-marahan, tapi tak pernah berjarak lebih dari 20 meter, kecuali saat saya berada di kantor atau ada kerjaan lain. Kehilangan beliau ternyata mematikan separuh jiwa saya sebagai seorang putri, yang tak pernah berada jauh dari ayahnya, sepanjang hidupnya.

wp-image-1516084292

dokumentasi pribadi  : Pulau Tidung – Kepulauan Seribu – DKI Jakarta. Mei 2017

Selama bekerja di pemerintahan, Abah sering mendapatkan tugas ke berbagai daerah. Mengingat bidang beliau membawahi kegiatan desa dan seringkali membawa pemenang lomba desa ke Jakarta, untuk menerima penghargaan atau urusan lainnya. Berbagai kultur dan budaya daerah, selalu menjadi oleh-oleh cerita yang saya tunggu. Pastinya usai membongkar koper dan tas bawaan Abah yang isinya pesanan anak-anaknya :D.

Continue reading

Advertisements

Dikalahkan Hujan

Malam ini hujan kembali deras. Mungkin besok genangan air akan muncul setinggi mata kaki lagi seperti minggu kemarin. Tak banyak yang berbeda, anak kecil akan tetap berlarian di tengah genangan, ada pula yang repot dengan peralatannya untuk menghalau air. Aku? Cukuplah duduk di samping jendela menyelesaikan tulisan tentang kita yang entah bagaimana alur selanjutnya.

Kita seolah memulai kembali segala hal dari awal. Di saat aku sudah menyerah dengan semuanya. Di saat rasanya tenaga sudah tak lagi ada untuk menunggu. Di saat hati sudah mulai membiasakan untuk melangkah sendiri. Kamu jadi serupa “hantu” yang datang tiba-tiba dan kembali masuk ke dalam alur cerita. Hantu yang terlalu sempurna untuk disebut hantu.

Memulai kembali percakapan, rasanya seperti membangkitkan lagi kenangan yang pernah ada. Dengan sedikit rasa takut dan ragu yang masih meraja, beberapa titik acuh yang masih terlihat, juga kiloan ego dan gengsi yang tak bisa tersembunyi. Tapi, lagi-lagi aku yang luluh. Menghanyutkan semua ego dan gengsi yang rencananya ingin kupasang saat kembali bicara denganmu. Menghancurkan semua strategi dan pertahanan yang rasanya sudah begitu sempurna kubuat. Ah, aku memang prajurit yang payah, sangat berbeda jauh denganmu.

Seolah hatimu sadar bahwa aku butuh lebih banyak waktu untuk menata hati. Menungguku untuk siap memulai segalanya lagi. Mengambil resiko tersulit yang pernah ada. Menyiapkan mental dan fisik untuk semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Kali ini aku melihatmu yang sedikit berbeda. Lebih tenang, lebih mau mengerti, juga lebih sabar menghadapi ego yang kumiliki.

Terima kasih untuk pemahaman luar biasa yang kau berikan. Terima kasih atas langkah kembali yang kau tapaki untuk sampai ke titik dimana kita pernah berdiri bersisian. Terima kasih karena tak memaksaku untuk menyetujui segala hal tentang kita dengan cepat. Terima kasih atas segalanya. Terutama kembalinya hatimu.

Maafkan jika sementara waktu posisimu masih digantikan hujan. Masih belum bisa menempati posisimu yang semula. Waktu masih harus berjalan di antara kita. Kenangan masih harus membujukku untuk membuka “pintu” dan persilahkanmu masuk.

Maafkan jika dirimu masih dikalahkan oleh hujan.

Untuk sementara.

Sampai hati siap menjalankan tugasnya kembali.