Mencintai Hujan

Hujan kali ini.

Aku seolah kembali pada kilas waktu bertahun yang lalu. Saat hati pernah termiliki. Saat harapan masih menggebu dalam diri.

Sudah lama rasanya, berdiri menunggu di dekat pintu kedatangan bandara. Kaki tak bisa diam, tak sabar untuk melangkah dan menjemput. Ya, memang suda lama berlalu. Tanpa terasa hati pun ikut membeku seiring berlalunya waktu.

Tapi aku tak akan menceritakan tentangmu yang lenyap dimakan masa. Juga bukan tentang bagaimana hebatnya waktu bisa membuatku melupakanmu dengan nyaris sempurna. Ini cerita tentang bagaimana hujan membuatku jatuh cinta berjuta kali sampai hampir tak berbatas. Ya, aku mencintai hujan dan segala dingin yang menyertainya.

Continue reading

Advertisements

Ruang Tunggu #ChapterEmpatDua

image

Pic: Koleksi Pribadi - 16.03.2014

Apa yang harus kutulis tentangmu?
Sedangkan menulis tentang kita pun sepertinya tak mungkin.
Tak pantas, lebih tepatnya, benar kan?

Di depanmu aku memakai topeng. Maaf…
Maafkan aku jika topeng tawa dan senyum yang kuhadirkan.
Maafkan aku jika di balik pelukan ada tangis pilu tak ingin melepas pergi.
Maafkan atas segala rasa yang tak pernah bisa menahan langkahmu, apalagi meminta lebih.
Maafkan cinta…

Ribuan kali terpikir untuk pergi, tapi kaki tak pernah bisa beranjak.
Meski hati dan pikiran tau bahwa langkah kita tak pernah satu arah.
Meski sadar bahwa bentuk hatimu sudah tak utuh, terbagi atas beberapa.
Meski paham bahwa tak beranjak berarti memilih menanti.
Seolah hati sedang berjudi dengan waktu, juga diri sedang bertaruh memenangkan kepemilikan atas cinta.

Duhai hati… Apa yang sebenarnya kau inginkan?
Tak terbukakah matamu melihat apa yang selama ini ada untukmu?
Tak sadarkah hatimu merasakan siapa yang selama ini ada didekatmu?
Tak bergunakah waktu-waktu yang habis terurai untuk memenangkanmu meski kadang berhias luka dan tangisan?

Ah, aku lupa… Memang inilah resiko mencintaimu.
Bersaing dengan hal-hal yang tak pernah bisa kusaingi.
Aku tau, sadar, bahkan teramat paham bahwa bentuk hatimu tak utuh, bagian untukku tak sampai setengah karena juga dimiliki oleh yang lain.
Tak adakah kau sadar bahwa pahamnya aku adalah tanda besarnya rasa?

Jangan memintaku pergi, karena aku tak akan pernah pergi. Tak bisa…
Tapi juga jangan menelantarkan hatiku begitu lama.
Bentuknya yang koyak jangan lagi kau tambah dengan guntingan-guntingan ketidakpastian.

Hari esok siapa yang tau? Hari ini aku bersikeras menantimu, hari esok bisa saja aku menyerah dan pergi…
Tergelitik hati, menerka, menebak, bagaimana jika aku benar-benar menyerah? Bagaimana jika aku yang meninggalkanmu pergi tanpa jejak?
Bagaimana jika… Ah, sudahlah. Tak baik jika banyak berandai.
Seperti tak baiknya jika bermimpi dan berharap terlalu tinggi tanpa siap untuk kecewa.

Pintaku satu, telusuri hatiku dengan hatimu, bukan hanya dengan mata dari tubuh fanamu…

-Zhafira kepada Tama-
#AKNsnote #AugustSeries #lovepoem #pesancinta #chapterempatdua

(Masihkah) Menunggu?

“Berjalan di bawah langit yang sama, tapi berpijak di bumi yang berbeda. Beda tempat, beda waktu, beda jalan…” #AKsnote

Menunggu… Seolah sudah menjadi bagian dari hidup. Tak terhitung berapa banyak waktu yang habis karena hanya menatap di satu sisi jalan, hanya untuk menunggu. Ketika waktu menjadi tak berharga, dan menunggumu pun jadi kebiasaan.

Ketika banyak hal yang kulewatkan, sengaja agar aku tak melewatkanmu.

Ketika banyak waktu tersita, sengaja agar waktu untukmu selalu ada.

Ketika banyak menunggu, sengaja agar aku selalu siap ada di setiap saat kau butuhkan.

Waktu berjalan dengan porosnya selayaknya bumi yang berputar, berotasi. Terus berputar tanpa henti dan tak pernah mengubah arah putarannya. Begitu juga ketika menunggumu menjadi jalanku seolah tak bisa berhenti.

Jika waktu berputar sesuai putaran, bumi berputar sesuai poros, maka ketika aku menunggumu pun sesuai dengan keyakinan hatiku. Menunggu dan menunggu. Tak adakah pekerjaan lain selain menunggumu? Pertanyaan itu jelas terlontar di hati dan bibir mereka. Tapi biarkan mereka pikirkan apa yang mereka inginkan. Biarkan pula aku dengan hatiku tetap membentuk kumparan tempat singgah yang nyaman untuk hatimu kelak.

Karena menunggumu membuatku seolah menjadi jarum yang berputar pada detik, menit, dan jam.

Juga seolah bumi yang berputar pada porosnya.

Karena Aku Tak Mau Jadi Apa Adanya

Aku tak mau hanya “apa adanya”.
Aku tak mau hanya jadi sebiasa mungkin, just a plain me, tidak.
Aku tak mau hanya jadi diriku yang seperti ini jika harus mendampingimu.

Aku harus berubah. Aku tak boleh terus begini.
Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai pasanganmu.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai Ibu dari anak-anak kita kelak.
Aku ingin jadi lebih pantas sebagai sosok baru dalam keluargamu nanti.

Bukan berarti Aku akan memakai topeng dan berpura-pura.
Bukan berarti Aku akan berbohong dan bersikap palsu di hadapanmu.
Tidak, sungguh bukan itu maksudku.

Aku tetap diriku sendiri, tetap wanita yang Kau kenal seperti dulu.
Sosokku tak akan berubah, fisikku tak akan ada bedanya.
Sifatku? Mungkin ada beberapa yang akan menjadi beda.
Kebiasaanku? Tentunya akan ada yang tak lagi sama.

Kamu pasti bertanya, “untuk apa?”
Maka akan kujawab, “ini untuk jadi diriku yang lebih baik, untuk jadi calon Ibu yang baik untuk anak kita kelak”
Kamu pasti berpikir, “apa karena diriku?”
Maka akan kujawab, “mungkin memang karenamu, tapi ini keinginanku sendiri yang mau jadi lebih baik dan lebih pantas”

Aku tak berubah karenamu, tapi karena adanya dirimu yang membuatku bersemangat untuk jadi orang yang lebih baik lagi.

Aku tak ingin jadi “apa adanya”, karena itu tandanya Aku egois.
Egois karena Aku hanya ingin Kamu menerimaku dengan paket yang belum direvisi.
Egois karena Aku hanya ingin Kamu mencintaiku dengan diriku yang belum diperbaiki.

Aku tak mau egois, Aku ingin jadi lebih pantas berdampingan denganmu.
Aku juga ingin berjuang untuk kita, demi langkah-langkah mungil yang nantinya akan mewarnai hari-hari indah kita.
Untuk hal itu, tak mungkin kalau Aku harus jadi “apa adanya” kan?
Aku ingin makhluk-makhluk mungil itu bangga pada Ibunya.
Aku juga ingin membuatmu bangga karena jadi wanita yang lebih baik.

Untuk diriku sendiri.
Karena itu, Sayang… Aku tak mau Kamu menerimaku “apa adanya”, Aku ingin Kamu menerimaku yang selalu berusaha jadi lebih baik.

Aku menyayangimu, lebih dari milyaran butiran garam di pasir pantai.

-from my desk, with love-

ps: tulisan ini pertama kali diposting di blog yang sebelumnya (dan sudah dihapus).

Deadliner : Tidak Sesantai Yang Anda Kira

Deadline; [noun] #1. A time limit, as for payment of a debt or completion of an assignment (Tenggat waktu, untuk pembayaran utang atau penyelesaian suatu pekerjaan.[Source : http://www.answers.com/topic/deadline]

Pemalas. Tukang Ngaret. Gak Profesional. Sederet cap lainnya mendarat di jidat para deadliner atau manusia-manusia yang lebih sering atau bahkan selalu menjadi yang terakhir dalam batas pengumpulan suatu pekerjaan.

Kelihatannya memang begitu, para deadliner ini kok bisa-bisanya masih santai padahal yang lain lagi kalang-kabut karena pekerjaan belum selesai sedangkan batas waktu semakin dekat. Kadang juga mereka masih bisa ketawa-ketiwi dan malah mengerjakan pekerjaan yang lain yang “tidak terbatas waktu”. Tapi benarkah mereka sesantai itu sampai cenderung terlihat seperti orang yang acuh dan pemalas?

Gak kok, sepengamatan saya sejauh ini, para deadliner ini aslinya gak sesantai yang dilihat orang lain kok. Mereka juga punya rasa gugup yang sama, bahkan lebih gede porsinya. Cuma, mereka lebih jago bikin perencanaan soal apa-apa saja yang menurut mereka bisa dikerjakan sekarang dan yang bisa ditunda untuk sementara waktu. Bukan berarti juga mereka gak mikirin sama sekali atau meremehkan pekerjaan yang ditugaskan. Tapi seperti yang saya bilang, karena sebenarnya, mereka sendiri sudah punya perencanaan, back-up plan seandainya apa yang mereka kerjakan waktunya sudah semakin mepet.

Sebenarnya ada sisi negatif juga sih ya jadi deadliner, selain reputasi yang rada turun karena dianggap pemalas, tapi juga kurangnya waktu yang digunakan untuk ngejar batas waktu itu tadi. Tapi, mayoritas dari para deadliner ini justru malah semakin kreatif dan produktif menghasilkan sesuatu ketika mereka harus kejar-kejaran dengan waktu.

Kita gak bisa sama-ratakan tiap gaya seseorang dengan orang lainnya. Ada yang lebih bisa mengerjakan ketika dikejar waktu, tapi ada juga yang harus nyicil dari awal banget biar bisa rada tenang pikirannya. Ya, sama kayak ngebandingin orang yang seringkali grasak-grusuk ketika ada kerjaan padahal waktunya masih banyak dengan orang yang tetap stay cool walaupun batasnya sudah semakin dekat. Semua tergantung pribadi masing-masing, gaya tiap orang menghadapi ‘masalah’nya sendiri.

Jadi setidaknya cap deadliner itu aslinya gak semuanya bermuara pada satu kesimpulan : “PEMALAS”. Justru mindset ini harus diubah, karena tiap orang punya gaya tersendiri dalam proses penyelesaian pekerjaannya. Gak bsia disamain sama mayoritas orang ya

Bukan karena saya salah satu yang termasuk deadliner ya, bukan juga sebagai ajang pembelaan diri. Hanya ingin orang lain mengerti, bahwa menjadi seorang deadliner bukan hal buruk, ya walaupun kita akui selesai lebih awal tentu lebih baik. Oh ya, bukan berarti juga para deadliner menerapkan deadline pada segala hal. untuk yang berhubungan dengan ibadah, tentu berbeda. Masa iya sholat disamain sama tugas atau kerjaan, lalu mentang-mentang seorang deadliner, jadi sholatnya juga nunggu batas waktunya hampir habis gitu? Gak lah :).

Menjadi deadliner sebenarnya ada sisi positifnya. Pada beberapa orang, ini malah akan bisa meningkatkan semangat mereka untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, lebih baik dari sebelumnya. Juga seringkali membuat para deadliner ini punya rencana yang lebih matang soal penggunaan waktu buat nyelesainnya :D. *biasanya ngitung waktu, kerjaan yang ini bisa selesai berapa lama, kalau misalnya mulai dikerjain jam segini, masih bisa selesai gak? Gituuuu*

Menjadi deadliner itu bukan pilihan, karena jika tidak bisa melakukan perencanaan, pasti bakal gagal. Gak cuma rencanain waktu, tapi juga rencana penyelesaian, trus juga rencana-rencana lainnya yang mendukung proses itu tadi. Ribet yah? Iya. Makanya tadi dibilang, jadi seorang deadliner itu gak cuma modal nekat, tapi justru banyak yang harus disiapin.

Yang paling bagus sih sebenarnya, kalau kita mulai kurangi ke”nekat”an ngejar deadline ini. Gak bagus juga buat otak, aslinya stres loh :D. Deadliner itu sebenarnya adalah para planner yang menunda pengerjaan. Mereka udah punya rencana yang rapi banget, hanya saja proses pengerjaannya yang nanti-nanti. Alasannya macam-macam, nunggu waktu yang tepat, nyari dana, pengen santai sejenak, dll. Tapi yang paling banyak adalah “nunggu mood lagi bagus, biar hasilnya juga bagus”.

Saya juga udah mulai kurangi, mulai belajar pelan-pelan buat perencanaan lebih awal dan pengerjaan yang awal, gak pake ditunda-tunda walaupun udah punya rencana. Biar bisa selesai tepat waktu, hasil juga tetap lebih maksimal. Susah? Iyalah, tapi namanya juga belajar, insya Allah dimudahkan. Aamiin